Dunia Mu

Dunia Mu
Teror


__ADS_3

Selama Andre mengganti baju pikiran tentang tadi tetap kembali mengusik. Prihal dupa yang dibakar dan sesajen itu untuk apa? Semakin mengingatnya membuat Andre tidak bisa tenang apalagi harus tetap nyaman tinggal di tempat ini. Hanya saja untuk sekarang dia tidak memiliki pilihan lain selain tetap tinggal, cuaca hujan dan hari juga sudah malam.


"Mas sudah kah ganti bajunya?" Teriak Anis dari luar.


Andre terperanjat kaget mendengarkan Anis dari luar, dia pikir sudah terlalu lama melamun.


Dengan terburu-buru Andre segera membenahi bajunya, menggantung baju basah yang dia pakai tadi di belakang pintu.


Anis masih duduk di tempat semula, dia kembali tersenyum ramah seperti biasa dan hal tersebut membuat Andre tersipu malu, dia hanya bisa menundukkan wajah.


"Mas pakai kalungnya unik ya?" Tanya Anis tiba-tiba.


Andre masih berdiri diam, dia merasa sedikit kikuk dengan pertanyaan Anis yang menanyakan tentang kalung dari Neneknya. Andre langsung memegang kalung yang ia pakai dan menyembunyikannya di balik baju. Yang benar saja Anis tertarik dengan kalung aneh seperti itu? Atau dia tahu sesuatu? Pikir Andre.


Andre tidak menjawabnya dia tidak ingin menambah pembahasan panjang tentang kalung, dia hanya tersenyum canggung saja.


"Mas duduk cepat, saya akan ceritakan semuanya." Ucap Anis penuh semangat.


Andre langsung melihat ke arah Anis, kedua kalinya Anis mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipercayainya.


Andre menurut saja kemudian dia duduk tepat di sebelah Anis.


"Mas ini pasti heran ya kenapa tadi ada dupa dan sesajen di kamar." Cetus Anis, kebetulan Andre tadi sempat memikirkannya dan tanpa ditanya lebih dulu Anis seperti bisa langsung membaca pikirannya.


"Itu bukan apa-apa Mas, jadi di sini setiap malam Jumat Kliwon suka ada ritual gitu seperti tradisi untuk menghormati penghuni di sini. Mas tahu kan kita hidup berdampingan dengan makhluk lain." Penjelasan Anis terlihat mudah dimengerti oleh Andre yang hanya diam menjadi pendengar setia.


"Mas pasti takut ya?" Tanya lagi Anis saat melihat reaksi Andre yang hanya diam dan canggung.

__ADS_1


"Itu bukan apa-apa kok Mas." Belum sempat dijawab tapi Anis seperti tidak memberikan kesempatan bicara untuk Andre.


"Ah tidak Dek, bukan takut soalnya di kota seperti ini masih saja ada ya tradisi seperti itu ya." Ucap Andre terus terang segera saat Anis diam.


"Ya harus Mas, kita harus bisa saling menghormati kan. Dan kalau tidak." Perkataan Anis terhenti matanya melihat ke arah Andre, dari tatapan itu seolah berarti Anis sudah salah mengatakannya.


Sebaliknya Andre terus memperhatikan Anis yang langsung terdiam, seolah tahu apa yang dipikirkan Anis.


Anis balas memperhatikan Andre tapi dia langsung memalingkan wajah lagi menghindari tatapan Andre.


"Mas ini seperti baru saja datang ke sini ya? Tadi di rumah sakit Mas nya lihat apa?" Tanya Anis membahas hal lain.


Dalam hati Andre menebak jika Anis sengaja mengalihkan pembicaraan dengan pembahasan lain yang akan menarik perhatian.


"Tidak ada." Ucap Andre singkat.


Andre diam tidak merespon banyak dan tidak memperlihatkan ketertarikannya seperti tadi saat Anis memulai obrolan.


"Kenapa harus pergi Mas? Anis tahu Mas yang baru datang pertama kalinya ke sini pasti akan cukup sulit mencari tempat lain di luar sana. Lagi pula Anis gak keberatan dan Mang tadi baik kok." Anis semakin antusias terus berusaha mencegah niat Andre, singkatnya dia tidak ingin jika Andre cepat-cepat pergi malam itu.


"Gak enak ya. Saya gak apa-apa di luar atau saya balik saja ke rumah sakit." Sangkal Andre yang sudah sangat yakin untuk pergi. Meski jauh dalam hati dia juga bingung kemana harus pergi lagi karena tidak mungkin dia kembali ke rumah sakit yang jelas-jelas menyeramkan baginya.


"Rumah sakit? Jangan Mas! Jangan kesana lagi ini sudah malam pokoknya jangan kesana!" Cegah Anis dengan kekeh, dia tak kalah antusias dan benar-benar tidak menginginkan Andre pergi.


Andre hanya mengernyitkan dahi, sikap Anis membuatnya tidak paham. Terlebih dia merasa dari awal Anis sangat ingin pergi dari rumah sakit itu? Tadi saja Anis bahkan terburu-buru pergi. Dan sekarang Anis sangat melarang keras untuk pergi lagi kesana. Ada apa sebenarnya? Andre merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan atau orang baru seperti Andre tidak dibolehkan untuk tahu.


Anis terlihat gugup dan gelisah seperti dia sangat ingin mengatakan sesuatu tapi terus menahan diri. Entah sebuah rahasia yang hanya dirinya saja yang tahu. Meskipun naluri Andre bisa menebak arti dari sikap Anis tapi dia tidak menyinggung perubahannya, Andre tidak memperlihatkan jika dia mulai curiga dengan Anis. Dia hanya acuh tak acuh saja.

__ADS_1


"Mas. Anis mau cerita sesuatu. Mas bisa percaya Anis kan?" Ucap Anis setelah beberapa saat diam, cara bicaranya terlihat sedikit memaksakan diri.


"Tentang rumah sakit? Atau tempat ini?" Tanya Andre tidak mau basa-basi lagi.


"Akan Anis ceritakan. Tapi Anis takut Mas." Seperti yang diucapkannya, dari ekspresinya Anis terlihat bersusah payah menahan rasa takutnya.


"Saya paham, sebaiknya jangan kalau emang itu sesuatu yang dilarang misalnya." Andre langsung menyetujuinya dia terlihat tidak akan keberatan walaupun sebenarnya dia ingin tahu semua hal dari Anis.


"Mas maaf Anis ya." Ucap Anis terdengar sangat bersalah.


Praang....


Suara kaca yang pecah.


Sontak saja mata Anis dan Andre yang ada di dalam kamar langsung mengarah ke arah pintu. Dari mata keduanya terlihat ketakutan yang sama.


Beberapa saat keduanya diam. Hingga Andre mulai memandangi Anis dan ternyata sebaliknya Anis memandangi Andre dengan ketakutan yang lebih besar. Melihatnya Andre lebih panik lagi dia ingin bertanya langsung tapi tidak mungkin bukan saatnya bertanya.


Sebagai lelaki dia harus lebih berani dari Anis, dia harus memastikan apa yang terjadi di luar sana.


Dengan susah payah Andre mengumpulkan semua keberanian yang tersisa, dia bangkit berdiri meski Anis langsung menahan kakinya dengan gemetar.


"Tutup Mas!!" Teriak Anis tiba-tiba. Andre melihatnya semakin bingung dan mulai cemas. Tapi beruntung dia langsung spontan melakukan permintaan Anis. Pintu berhasil ditutup dan ditahan oleh punggung Andre yang berdiri di sana.


Andre langsung melihat ke arah Anis lagi. Masih pemandangan sama yang didapatnya, Anis terlihat ketakutan seperti tadi dan sebabnya tentu saja karena suara kaca pecah yang baru saja mengejutkan.


Andre seolah mengerti, dia diam tidak bertanya apapun dan berusaha membuat Anis tenang.

__ADS_1


"Kunci!" Ucap Anis pelan.


Andre meraba pintu dengan tangannya hingga dia berhasil mengunci pintu. Saat kunci diputar 1 kali tiba-tiba suasana menjadi gelap, lampu padam dan tidak ada cahaya yang terlihat dimana pun.


__ADS_2