
"Pak!" Panggil supir dari kejauhan. Perasaan Pak Tarman langsung tidak enak ketika melihat kecemasannya saat berjalan mendekat. "Saya sudah cari dimana pun. Tapi tidak ada." Sambungnya terlihat begitu menyesal.
Pak Tarman hanya bisa menelan pahit rasa kecewanya, sampai-sampai dia tidak berkomentar apapun.
Pak Rais sesekali melihat ke arah Pak Tarman. Sebaiknya dia yang bicara sekarang.
"Apa benar tidak ada?" Tanya Pak Rais memastikan lagi, hatinya tidak berharap banyak.
Supir itu menggelengkan kepala.
"Apa yang bisa kita lakukan?" Cetus Pak Rais mulai bingung.
"Apa Saya bisa menghubungi Pak Doni langsung, sepertinya kalau datang lagi kesana tidak mungkin." Pak Tarman berharap ada kesempatan terakhir.
Tapi apa daya melihat sekilas reaksi supir membuat harapannya kian pupus. "Maaf pak, bukannya saya tidak mau membantu. Memang sebaiknya bapak dan semua disini tidak lagi datang ke sana apalagi menghubungi rumah sakit." Terang supir dengan berat hati.
Andre mengernyitkan dahi dan mulai menatap heran. "Kalau boleh saya tebak, Bapak supir ini bukan bekerja langsung dengan rumah sakit kan? Jika diam-diam seperti itu saya pikir Bapak hanya bekerja dengan Pak Doni." Tiba-tiba Andre berasumsi. Supir menatapnya ragu, ada keraguan dan rasa takut yang besar dibalik sorot matanya itu, Andre merasa tidak bisa diam saja.
"Pak tolong, ini bukan kasus biasa. Pak Tarman lebih tahu dan akan menceritakannya, kalau bisa dengan bantuan Bapak sendiri untuk menyelesaikan kasus ini." Bujuk Andre berani membuat Pak Tarman balik memperhatikannya.
"Saya tidak sanggup, Pak. Maaf. Tolong! saya tidak ingin terlibat banyak, saya hanya bekerja di sini." Pak supir sudah memohon, meski hati nuraninya pasti berkata lain.
"Saya akan memberikan jaminannya!" Cela Pak Tarman menghentikan ucapan supir. "Saya dan keluarga berjanji, kami hanya ingin tahu dan tidak berniat untuk melibatkan kepolisian di sini. Saya hanya ingin tahu kebenarannya, cukup itu saja." Tak disangka Pak Tarman akan mengatakan itu membuat Pak Rais di sebelahnya langsung melotot.
__ADS_1
"Kamu ini asal saja, lantas untuk apa kita sudah payah melakukan semuanya." Sengit Pak Rais tak terima.
Pak Tarman hanya bisa menghela napas. "Aku pikir Tri tak akan keberatan, lagi pula untuk apa memaksakan sesuatu yang tidak mungkin lagi." Balas Pak Tarman terdengar tidak antusias seperti sebelumnya.
"Apa Bapak yakin?" Tanya Andre melihat Pak Tarman yang benar-benar sudah terpukul dan tak berdaya lagi.
"Sudahlah, saya sudah ikhlas." Singkat Pak Tarman terlihat tak ingin basa-basi.
Andre diam setelah mendengar keputusan yang berat. Meski hubungan Pak Tarman terdengar rumit seperti apapun dia sebenarnya, tentang hubungannya dengan Tri, dia tak ingin tahu dan terlibat banyak. Selama Pak Tarman peduli dan baik untuk keluarga yang dia bangun di dalam rumah itu sudah cukup, Andre juga tidak akan lama tinggal di sini jadi tidak ada yang perlu dipikirkannya lagi.
"Apa Bapak supir sudah mendengarkannya? Sebaiknya tolong dipikirkan lagi. Andai saja Bapak menjadi Pak Tarman mungkin apa yang akan dilakukan Bapak sebagai orang tua?" Andre saat itu lebih dominan berbicara, dia tidak mengharapkan Pak Tarman dan Pak Rais untuk memikirkan masalah ini hingga pusing, yang terpenting sekarang dan kuncinya hanya ada di tangan supir itu sendiri. Dan kali ini Andre semakin yakin rumah sakit itu pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Baiklah Pak, akan saya pikirkan selanjutnya. Saya berjanji, saya juga sebagai orang tua tentu tidak akan tinggal diam. Saya akan mengusahakannya." Keputusan supir terdengar membuat hati semakin lega saja.
Pak supir pergi dengan mobil yang sudah dibawanya, beruntung kesempatan terakhir itu masih ada. Nuraninya memang benar baik dan semoga semuanya nanti berakhir baik juga.
"Nak Andre, sampai lupa saya. Temannya tolong dicek lagi! Atau kita panggil dokter terdekat saja ya!" Pak Tarman langsung menyadarkan Andre tentang Sani yang mungkin masih terbaring di kamar Tri. Dia sampai lupa jika tugasnya sudah menanti.
"Terimakasih, Bapak sudah mengingatkan saya." Ucap Andre segera berbalik untuk melihat keadaan Sani.
****
Jam sudah menunjukkan malam. Tak terasa waktu memang berlaku dengan cepat bagi Andre saat itu yang masih menunggu kesadaran Sani.
__ADS_1
Aaaaaaa....
Sebuah teriakkan langsung membuat semua orang yang masih diam di ruang tamu terperanjat kaget. Terlebih Andre karena mengenal betul suara siapa yang terdengar.
Andre berlari diikuti oleh Pak Rais dan Pak Tarman, sedangkan Tri yang waktu itu di kamar Nenek sepuh terlihat ikut keluar karena mendengar teriakkan yang hampir menyeka bulu kuduk mereka karena takut.
Tidak lagi terdengar seperti suara orang, selain Andre yang mendengar seperti Pak Tarman, Pak Rais, dan Tri suara itu terdengar menggema seperti suara Geraman makhluk lain. Tapi kecuali Andre, dia jelas mendengar suara Sani saat itu.
Andre langsung masuk ke dalam kamar, sontak saja matanya langsung melotot kaget begitu melihat Sani yang sudah tersadar dengan kepala yang menengadah ke belakang. Entah apa yang terjadi, karena hanya Andre uang berani mendekat dan menggoyangkan tubuh Sani yang sangat kaku.
"San! Istighfar! Sani!" Panggil Andre tapi suaranya mungkin tidak sampai masuk ke dalam kesadaran Sani. Meski beberapa kali berusaha disadarkan dan Andre berusaha menegakkan kepala Sani yang kaku, seperti ada kekuatan berat yang menarik kepalanya menengadah ke atas.
"Panggil ustadz Rais! Cepat!" Teriak Pak Tarman langsung sigap. Dia sebagai orang tua tentu saja langsung mengerti dengan keadaan saat itu.
Tri yang melihatnya sekilas langsung kembali bersembunyi memunggungi pintu, dia tidak berani lagi melihat ke arah kamar.
"Kenapa ini? Dia sering kaya gini?" Tanya Pak Tarman panik. Saat Pak Tarman berusaha meraih tubuh Sani berniat untuk membantu Andre untuk menyadarkan Sani, tapi tangannya langsung dia tarik kembali saat bersentuhan dengan kulit badan Sani. Pak Tarman bereaksi aneh di mata Andre, seperti kesakitan karena panas.
"Ada apa Pak?" Tanya Andre heran. Sebaliknya Pak Rais yang juga heran menatap Andre tetap baik-baik saja tidak merasa kepanasan saat menyentuh tubuh Sani.
"Kamu gak ngerasa apapun?" Cetus Pak Tarman terdengar seperti ragu.
"Memangnya kenapa, Pak?" Tanya Andre terlihat paling bertanya-tanya.
__ADS_1
Pak Tarman menggelengkan kepala, dia kali ini tidak berani untuk melakukan tindakan apapun. Harapannya hanya pada seorang ustadz yang semoga saja tiba secepatnya. Masalah tak biasa seperti ini, entah jin apa yang merasuki anak gadis seperti Sani. Pak Tarman sampai kehilangan nyalinya.