
"Bu teman saya mana?" Sebuah suara yang tidak asing langsung melintas melalui celah pendengaran Ira.
Mendengarnya, Ira langsung membulatkan mata. Sangat terkejut dan tidak percaya. Perlahan dia membalikan tubuh mengabsen sosok orang yang ada di pikirannya.
"Sani?" Sebut Ira masih terkejut.
Di samping nya juga Bu RT hanya tertegun dan tidak bisa berkata apapun.
Sani berbalik menangkap tatapan Ira dan tersenyum.
"Pulang Yu, aman lah kita pasti pulang hari ini." Ajak Sani.
Ira melihat sosok yang sama dan cara bicara yang sama juga, tapi Ira tidak melihat tatapan Sani seperti biasanya. Bagaimana bisa Sani terlihat masih riang dan baik-baik saja.
Ira sangat jelas merasakan keganjilan di hatinya. Dia masih belum menjawab ajakan Sani, matanya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir Maghrib. Ira melihat lagi ke arah Sani yang masih menunggu jawaban darinya dengan sabar. Meski sangat ragu dan sebagian besar hatinya tidak bisa terima ajakan itu, tapi Ira yang sudah sangat ingin pulang dan tidak ingin satu menit pun tinggal di desa ini. Sangat terpaksa Ira harus menyetujui ajakan Sani.
Ira terlihat ragu dan membalas tatapan Sani lalu mengangguk. Melihat persetujuan Ira membuat Sani semakin senang saja.
"Tidak Neng, jangan. Sudah hampir Maghrib tidak baik." Ucap Bu RT bersikukuh mempertahankan langkah ke dua gadis untuk keluar dari rumah nya itu. Bu RT terlihat sangat panik.
Sani berhenti dan memandangi Ira lagi.
"Kita pulang sekarang kan!" Ucap Sani seperti memberikan keyakinan pada Ira.
Ira menatapnya kosong.
"Apa sih Bu, kami mau pulang saja!" Jawab Ira terdengar marah. Ira sangat yakin untuk pulang.
"Mama... Mama!" Teriakan terdengar lagi di dalam kamar.
Bu RT langsung sangat panik dan tidak berpikir panjang segera bergegas ke arah kamar, tidak menghiraukan lagi ke dua orang yang akan pergi dari rumah.
__ADS_1
"Ayo berangkat!" Ajak lagi Sani dan dengan mudahnya Ira menuruti kata-kata Sani seperti sihir.
Orang yang berteriak dari arah kamar adalah putri bungsu Bu RT, bahkan untuk hal seperti itu Ira tidak menghiraukannya juga tidak peduli. Matanya tertutup dan hatinya terkunci, batinnya tidak lagi merasakan sesuatu hal yang sangat berbahaya terus mengintai hidupnya. Sampai dia berhasil keluar dari rumah Bu RT.
Jalanan sangat sepi, rumah-rumah warga tertutup rapat dan gorden kaca sudah ditutup juga. Tidak ada satupun orang yang terlihat keluar rumah, bahkan warung di desa sudah tutup. Hamparan jingga di langit pun sudah penuh dan sebentar lagi harusnya sudah adzan Maghrib.
Ira masih tidak sadar dia sudah berjalan bersama Sani ke arah mana. Satu-satunya teka-teki ada pada Sani yang tiba-tiba sadar dan langsung mempengaruhi Ira pergi bersamanya.
Momen yang sangat pas saat Pak RT, Pak Kyai, dan warga yang tidak ada satu pun orang di dalam rumah menjadi kesempatan baik untuk pergi. Ira selalu memikirkan ingin pulang dan Sani memberinya dukungan untuk pulang.
Sudah waktunya Maghrib dan Adzan seharusnya berkumandang. Tapi apa yang sudah dilakukan orang-orang? Tidak terdengar satupun yang melantunkan adzan. Pantas saja desa ini sangat mencekam menjelang Maghrib. Warga-warga yang terlalu takut dengan gangguan jin dan setan sebenarnya menjadi energi kuat bagi para jin untuk terus mengganggu.
Langkah Sani dan Ira yang terus berjalan menyusuri jalan setapak desa, Ira masih belum sadar kemana dia akan pergi kali ini, begitupun Sani yang sepertinya jiwa dan raganya bukanlah Sani yang asli.
Hingga saat Ira berjalan dan mulai kedinginan dengan tiupan angin yang membuat tubuhnya menggigil, kesadarannya perlahan kembali membuat dia bisa berpikir lagi dengan akalnya itu. Ira melihat tanah yang ada di bawah kakinya dan cahaya semakin pudar hingga akan hilang.
Ira langsung membulatkan mata dan segera berbalik mencari kesana kemari, dia mencari satu orang yang menurutnya sudah pergi bersamanya dari tadi. Siapa? Ira tidak tahu pasti tapi dia yakin orang itu sudah pergi bersamanya ke dalam hutan ini.
Seperti seorang perempuan yang tidak memiliki kedua mata nya, wajahnya lebam dan darah bercucuran dari atas kepala mengalir hingga ke hidung, ke pipi, dan mulut yang robek sampai ke bawah dada. Rambut hitam kelam dari ujung kepala dan hingga tak berujung.
Menyaksikannya Ira hanya berharap dia langsung pingsan. Daripada merasa sesak dan tidak bisa bernapas seperti sekarang. Dia tidak percaya semua penampakan orang yang ada di sampingnya langsung tergambar jelas ke dalam pikiran Ira meskipun dia tidak memastikan dengan ke dua matanya. Rasanya dia tidak bisa berkedip sedetikpun, dan tiba-tiba sesuatu yang sedang berjalan cepat terlihat berlari ke arahnya dan menabrak tubuhnya hingga Limpung dan terjatuh.
Ira merasa tubuhnya sedang ditindih oleh orang yang mungkin sudah menabraknya itu. Dia tidak berani membuka matanya lebar.
"Setan... Setan... Setan!!" Teriakkan suara yang di dengar Ira.
Ira langsung melebarkan mata meraih sedikit cahaya yang bisa memperlihatkan sosok orang yang sedang menindihnya itu. Tangan Ira meraih wajah orang itu.
"Sani! SANI! SANI!" Teriak Ira menyebutkan nama sahabatnya.
Seketika orang yang terus tidak diam dan ketakutan itu langsung tenang.
__ADS_1
"Ira. Kamu?" Ucapnya.
Ternyata benar itu adalah Sani, beruntung sekali mereka berdua dipertemukan dalam situasi yang sangat menguntungkan keduanya.
Sani dan Ira langsung duduk. Kedua tangan mereka saling berpegangan satu sama lain, sangat erat dan berharap mereka tidak dipisahkan lagi.
Kemanapun memandang, ke sisi manapun hanya warna gelap pekat dan tidak ada celah cahaya pun yang terlihat. Ira sadar dirinya dan Sani ada di sebuah hutan mungkin hutan yang tadi Ira lihat, jaraknya memang tidak begitu jauh dengan rumah, tapi karena suasana yang gelap Ira tidak bisa mencari jalan untuk pergi ke arah uang tepat.
"Ra, kenapa kita sampai ada di tempat gelap seperti ini? Kita sekarang harus kemana?" Tanya Sani lirih, nada suaranya masih memperdengarkan dia yang sangat ketakutan.
Ira tidak menjawab, dia sedang memikirkan cara.
"Ini di dalam hutan, mungkin hutan yang aku sudah lihat." Jawab Ira.
"Hutan dimana Ra? Kita bisa pergi kan dari tempat ini?" Tanya Sani yang tidak bisa sabar.
"Hutannya sih dekat dengan rumah pak RT." Jelas Ira.
"Ayo kita pulang Ra, ayo sekarang!" Ajak Sani Sani menghentikan penjelasan Ira.
"Tapi aku gak tahu kemana arah pulang nya, di sini sangat gelap kan." Jawab Ira.
"Cepat Ra, kita pergi aku gak mau melihat setan itu lagi yang terus mengejar." Jawab Sani.
"Loh, kamu lihat juga?" Tanya Ira penasaran.
"Setan itu menakutkan Ra, dan"
"Apa San?"
"Sebaiknya kita cari jalan sekarang bersama." Sani tidak melanjutkan kata-katanya itu, dia mengalihkan topik dan terus merengek untuk segera pergi dari tempat yang Ira tebak jika tempatnya sekarang adalah hutan dan jaraknya tidak begitu jauh dengan rumah Pak RT.
__ADS_1