Dunia Mu

Dunia Mu
Penglihatan Bu Ratih


__ADS_3

"Kenapa Bu?" Pak Dean langsung memburu Bu Ratih dengan pertanyaannya.


Bu Ratih masih memperlihatkan wajah syok, napasnya naik turun dan dari deskripsi penglihatan orang lain padanya mungkin tampak Bu Ratih yang setengah mati ketakutan.


Spontan Pak Dean melotot takut. "Bu. Kita keluar dari mobil ya, kita istirahat dulu." Dengan nada tenang Pak Dean berusaha membuat suasana agar baik-baik saja bagi semua orang.


"Bu gak apa-apa kan?" Sebagai perempuan wajar saja jika istri Pak Dean sangat memperlihatkan kecemasannya. "Gimana Pak?" Tanyanya masih cemas karena melihat Bu Ratih yang hanya diam saja dengan mata yang terpejam.


"Gak apa-apa, Pak. Gak perlu panik lagian bukan apa-apa. Benar kan Bu?" Timpal Andre berusaha mewakili Bu Ratih untuk menjelaskan. Tampak respon Bu Ratih yang menganggukkan kepala beberapa kali.


"Yasudah kita turun sekarang!" Ucap Pak Dean kembali meminta agar semuanya turun dari mobil. "Bu, kamu bawa Bu Ratih. Beli minum dulu. Aku dan Andre kayanya jaga dulu Neng Sani." Pak Dean langsung menginstruksikan istrinya. Dengan sigap istri Pak Dean langsung turun membuka pintu belakang dan meraih Bu Ratih agar bisa mengikutinya untuk keluar dari mobil.


Bu Ratih sudah keluar dan tampak masuk ke toko untuk membeli minum. Andre dan Pak Dean hanya bisa saling diam, cukup membingungkan situasinya. Di satu sisi Sani membutuhkan tindakan tapi di sisi lain kondisi yang lain tampak buruk. Pak Dean semakin tak mengerti.


"Pak, mending istirahat dulu minum atau makan dulu. Biar aku nunggu sama Sani di mobil." Ucap Andre yang mulai tidak tega dengan keadaan Pak Dean yang pasti sangat lelah.


"Udah Bapak gak apa-apa kok. Maaf ya jadi kita harus istirahat dulu sebentar." Ucap Pak Dean penuh rasa bersalah.


"Kok malah Bapak yang minta maaf, padahal aku sama Sani yang sudah banyak nyusahin." Jawab Andre.


"Ngomong-ngomong kenapa ya sama Bu Ratih? Bapak sampai panik tadi." Akhirnya Pak Dean bertanya juga, padahal Andre menantikan jika hal itu tidak untuk dibahas karena tak mungkin juga jika dia menceritakan sebabnya.


Andre tampak menarik napasnya. "Bu Ratih kecapean Pak. Gak apa-apa kok pasti nanti biasa lagi." Terang Andre.

__ADS_1


"Tapi Bapak lihat Bu Ratih itu kayak ketakutan banget kan. Ngeri Bapak yang melihatnya sampai merinding." Pak Dean masih tak puas dengan jawaban Andre.


"Kayaknya Bu Ratih ada alasan tersendiri Pak. Kalau Bapak tanya Andre pasti wajar kalau Andre gak tahu." Balas Andre yang masih bersusah payah untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Andre bukan bermaksud untuk menutupi hingga dia berani berbohong, tapi bagi Pak Dean dan istrinya sebagai seseorang yang tak biasa melihat sesuatu yang tak kasat mata akan ketakutan bahkan ketakutannya bisa sulit diredakan.


"Oh gitu. Tapi bisa jadi sih. Bapak juga sebenarnya belum tahu benar Bu Ratih itu bagaimana orangnya, Bapak sendiri tidak terlalu akrab." Jelas Pak Dean. "Tapi Sani benar gak apa-apa? Bapak khawatir banget." Kekhawatiran Pak Dean tentang Sani masih menjadi beban semua orang, Andre sangat merasa bersalah.


Tak lama tampak Bu Ratih dan istrinya Pak Dean sudah kembali keluar dan berjalan menuju mobil.


"Loh padahal Ibu istirahat dulu." Ucap Andre yang tidak tega pada Bu Ratih.


"Ibu baik-baik saja. sebaiknya kita gak menunda waktu untuk tindakan, Sani pasti masih pingsan kan!" Terang Bu Ratih.


Andre langsung diam tak mengatakan apapun lagi. Matanya tertuju pada Sani yang saat itu tepat duduk bersandar di samping Rai.


"Pak Dean kita sekarang perginya gak ke rumah sakit, ya!" Ucap Bu Ratih tiba-tiba langsung membuat Pak Dean terperangah tak mengerti.


Bu Ratih dia sejenak dan terlihat menarik napas seperti sedang berusaha kembali memulihkan tenaga untuk berbicara.


"Nak Andre! Kalau kita semua sudah di sini kamu tahu bisa berapa lama lagi kita sampai ke rumah Sani?" Bu Ratih malah balik menanyai Andre.


Andre tak mengerti untuk apa Bu Ratih bertanya seperti itu. "Rumah Sani, kalau itu hanya Sani yang tahu." Jawab Andre terdengar tak bersemangat. Memang sangat disayangkan pertemuannya sangat singkat bahkan Andre tak sampai bisa tahu dimana Sani tinggal, Andre tak pernah menyangka mengapa dia bisa masih berurusan dengan Sani.


"Jadi kamu sama sekali belum pernah datang ke keluarga Sani?" Dnegan ekspresi kaget istri Pak Dean langsung membalas perkataan Andre.

__ADS_1


Cukup mengganggu juga, Andre merasa malu jika harus menjelaskannya lagi. Dia adalah seorang lelaki, bukan teman atau pacar juga kan? Wajar kalau Andre belum tahu apapun tentang Sani karena dia sendiri juga hanya bertemu Sani singkat dalam perjalanan.


"Kalau gitu baiknya gimana ya? Sebenarnya maksud Bu Ratih tadi apa?" Pak Dean langsung kembali mengalihkan pembicaraan.


"Yasudah Pak, kita pergi dulu sambil nanya sama orang-orang deh kalau gitu." Jawab Bu Ratih.


"Memangnya rencana Ibu, kita mau pergi kemana?" Tanya lagi Pak Dean dengan maksud yang masih sama.


"Tadi sih Ibu inisiatif untuk bawa Neng Sani ke ustadz saja." Jawab Bu Ratih singkat seolah perkataannya sesuatu yang tidak penting.


"Memangnya harus ya Bu?" Tanya Pak Dean tak disangka dia bisa bertanya seperti itu.


Bu Ratih terdiam sejenak, dia tidak begitu pintar untuk menyembunyikan perasaan cemasnya yang cukup terlukis jelas saat itu.


"Nak Andre!" Panggil Bu Ratih.


Andre segera menoleh. "Ia Bu?" Jawabnya.


"Kalau kita langsung ke rumah nya Neng Sani aja gimana?" Tanya Bu Ratih.


Andre terdiam tidak bisa langsung menjawabnya. Dia tidak tahu dimana rumah Sani, bukan hanya itu saja Andre juga tidak tahu bagaimana keluarganya. Andre balik menatap ke arah Pak Dean yang tampak juga sedang memperhatikannya, dia merasa jika Pak Dean memiliki pemikiran yang sama dengan Bu Ratih.


"Bapak rasa juga lebih baik seperti itu, terus terang saja untuk daerah di kota ini Bapak kurang tahu jadi sekarang cukup bingung kita harus kemana." Tino Pak Dean.

__ADS_1


Andre benar-benar tidak bisa langsung menjawabnya, tapi jika melihat keadaan Sani dia juga akan berpikiran sama dengan Pak Dean dan Bu Ratih, hanya yang Andre takutkan bagaimana caranya dia bicara setelah bertemu dengan orang tua Sani, apa yang bisa dia jelaskan? Sani juga dalam keadaan yang tidak begitu baik-baik saja.


"Pak kayaknya kita ke rumah sakit dulu aja deh, gak enak nanti sama orang tua Neng Sani kalau kita tiba-tiba bawa Neng Sani dalam keadaan seperti sekarang." Cetus istrinya Pak Dean.


__ADS_2