
"Pak, udah dapet informasinya?" Tanya Andre seraya merapatkan diri ke dekat Pak Tarman dan Pak Rais yang sibuk melihat ke seberang.
Andre membulatkan mata. "Dari tadi cari apa? Pintu rumah sakitnya ditutup gitu mana ada orang, lihat papan tanda tutup juga jelas terlihat dari sini." Komentar Andre mulai kesal. Dia melihat ke arah Pak Tarman yang sudah cukup usia menjelang senja mungkin sudah di angka 65 Pak Rais mungkin usianya tidak berselisih besar.
Andre menggelengkan kepala, dasar so tahu. Padahal mungkin mereka tidak bisa melihat apa yang sudah disebutkannya tadi. Mungkin saja memang benar tidak terlihat.
"Kalau gak terlalu jelas lihatnya kenapa gak ngomong sama saya, Pak." Keluh Andre yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Pak Tarman dan Pak Rais hanya saling lihat saja. "Eh, Nak Andre mau kemana?" Celotehnya saat melihat Andre yang mulai berjalan ke arah rumah sakit.
"Kita ke sana sekarang!" Ucap Andre singkat. Dia memutuskan langsung datang ke rumah sakit itu.
"Kok gegabah sih, kita kan gak merencanakannya seperti itu!" Pak Tarman mencoba menghentikan Andre.
"Memangnya Bapak ini punya rencana apa?" Sungut Andre sedikit kesal.
"Tapi kan gak mungkin kalau harus datang langsung kesana." Pak Tarman masih menolak rencana Andre.
Andre menghela napas mencoba untuk bisa sabar. "Gak apa-apa kan Pak, kita tanya baik-baik saja ke petugas rumah sakit. Tujuan kita kan baik hanya ingin mendapatkan informasinya gak perlu takut." Terang Andre yang langsung kembali berjalan, tak peduli jika Pak Tarman dari tadi menolak pendapatnya.
"Betul juga, kita datang langsung aja." Timpal Pak Rais, dia hanya selalu mengiyakan saja berbagai rencana yang menurutnya masuk akal, mungkin tanpa memikirkan rencana itu sendiri.
Andre tidak diam, dia berjalan ke samping rumah sakit, melihat ke belakang sampai diujung penglihatannya. Dan kembali lagi ke depan gerbang. Jelas semua terlihat sepi, sebenarnya rumah sakit
sudah benar-benar ditutup. Alasannya kenapa?
"Jadi gimana?" Tanya Pak Rais penasaran.
"Semuanya ditutup pak, ditambah gak ada orang." Jelas Andre memperlihatkan rasa kecewanya. Saat harus berdebat dengan rasa kecewa dan perasaan kesal yang memburu di dadanya, tiba-tiba mata Andre menangkap sosok Anis yang berdiri di kejauhan, tepatnya di tempat paling ujung yang terlihat di gedung rumah sakit itu. Andre tidak salah melihatnya, dia Anis dan sedang berdiri di belakang gedung. Tapi mengapa dia ada di sana? Pikir Andre mulai tertarik karena Anis sering memperlihatkan dirinya saat Andre harus bertanya pada hatinya sendiri dan bingung dengan masalah yang sedang di hadapi saat itu.
Andre terus melihat ke satu arah.
"Liatin apa Nak Andre ini?" Hampir saja Pak Tarman membuatnya kaget lagi.
"Jangan melamun terus Nak Andre. Lebih baik kita menghubungi perawat yang ada di telpon tadi." Cetus Pak Rais, pikirannya memang tidak pernah gampang pikun, mungkin dia masih hapal pembicaraan antara perawat itu.
__ADS_1
"Perawat apalagi ini?" Andre langsung diserang dengan pertanyaan dari Pak Tarman.
"Jadi ada perawat rumah sakit ini, dia kenal betul sama perawat itu." Pak Rais tak memberinya kesempatan untuk bicara, bahkan Pak Rais menggantikan Andre yang seharusnya menjawab pertanyaan Pak Tarman.
"Kenapa gak bilang dari tadi? Kalau bilang kita gak perlu mondar-mandir di sini." Pak Tarman terlihat geram.
Tapi sebenarnya Andre yang sangat terlihat kesal. Padahal kenyataannya dari awal saja Andre sudah menceritakan tentang perawat itu, dan sudah menuturkan rencananya untuk menelpon atau bertemu. Tapi apa mungkin Pak Rais sengaja membuat dia dimarahi Pak Tarman yang sedikit pikun.
"Tapi tunggu." Cegah Pak Tarman. "Kayaknya saya ingat, Nak Andre sudah berencana dari awal kan untuk menghubungi perawat." Ucap Pak Tarman sambil memandangi wajah Andre yang sangat kesal.
"Jadi kenapa Bapak-bapak ini gak mau ngikutin saran ku?" Cetus Andre membuat Pak Tarman DNA Oak Rais terdiam malu.
Andre melihat lagi ke arah Anis, tapi dia sudah hilang. "Gara-gara Bapak saya jadi kehilangan jejaknya." Gerutu Andre kesal.
"Jejak?" Gumam Pak Tarman menatap heran ke arah Andre. Tapi dia tidak berniat untuk bertanya.
"Jadi mau gimana kita sekarang?" Pak Rais memperingatkan lagi, dia pikir untuk apa tetap sediri di depan rumah sakit yang jelas-jelas tidak ada gunanya.
"Pulang aja!" Tekan Pak Tarman sambil menatap Andre yang langsung membulatkan matanya tanda tak percaya.
"Cepat pulang!" Ajak lagi Pak Tarman.
"Ngapain lihat kesana terus?" Pak Rais sangat heran dengan sikap Andre.
Andre mencoba berpikir sebuah alasan yang bisa mengizinkannya pergi ke tempat itu, apa saja. "Kita ke belakang gedung itu!" Ucap Andre spontan menunjukkan jarinya ke tempat dimana Anis terlihat di sana tadi.
"Untuk apa?" Pak Rais terlihat risih harus pergi ke sana.
"Sudah Pak kita kesana saja dulu! Nanti kita tahu sendiri." Andre masih bersikeras untuk menuntut Pak Rais agar ikut bersamanya.
Pak Rais terpaksa menurut, tapi saat dua langkah berjalan Pak Tarman masih berdiri terlihat tidak ikut dan setuju dengan ucapan Andre saat itu. Meskipun melihat tingkah Pak Tarman tapi Andre tidak bisa berkomentar apapun, dia hanya melihat dan membiarkannya.
"Tarman! Ikut." Pak Rais mencoba mengajak Pak Tarman yang tak bergeming saat itu.
Harusnya Pak Tarman tertarik dengan rencana Andre seperti yang dilakukan oleh Pak Rais sekarang yang sangat antusias. Tapi sebaliknya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu! Nanti kalau ketemu perawat kabarin Tri aja." Ucap Pak Tarman memberikan keputusan yang membuat Andre langsung terdiam. Andre tidak curiga apalagi harus berpikir buruk tentang Pak Tarman, itu karena Pak Tarman yang semangat untuk pergi ke rumah sakit. Tapi mengapa harus mengatakan keputusan seperti itu? Batin Andre yang terus menduga-duga.
"Udah biarin aja, kita berdua saja." Pak Rais tidak mempermasalahkannya, dia mungkin sudah terlanjur tertarik dengan rencana Andre. Hingga berniat untuk melanjutkan penyelidikan Andre meskipun tanpa Pak Tarman yang malah pulang.
Dua orang saja sudah cukup, Andre hanya butuh 1 orang yang akan menemaninya.
Setelah Pak Tarman pergi ke arah pulang dan sudah menjauh dari penglihatan Andre, baru Pak Rais kembali melanjutkan aksinya.
"Sebaiknya kita hati-hati. Ada banyak cctv sebenarnya, tapi jangan hiraukan itu toh kita kan bukan mau maling, hanya sedikit mengintip." Terang Pak Rais. Andre tak menyangka jika Pak Rais setuju dan yang akan menemaninya.
"Di situ apa ya?" Lanjut lagi Pak Rais saat berjalan dia menunjuk ke tempat yang sudah ditunjuk Andre.
"Padahal di depan sana terlihat ini seperti bagian belakang gedung, tapi kok makin Deket gini tempat itu sedikit berbeda ya karena dilihat dari potongan genting di sana. Tempat itu seperti teras menuju ruangan, kalau rumah seharusnya seperti itu." Papar Pak Rais tak berhenti mengungkapkan apapun yang ditemukan oleh matanya.
"Udah Pak, kita fokus jalan saja dengan hati-hati jangan sampai ada orang yang curiga." Tukas Andre.
"Kalau tiba-tiba ada petugas lewat?"
"Bilang aja kita lagi mau jalan ke tempat sana." Gubris Andre tidak terlalu memperhitungkan masalah nanti, untuk saat ini dia hanya ingin memastikan maksud Anis dan ucapan Pak Rais.
"Nak Andre ayo kita merapat ke tembok. Diam ya!" Perintah Pak Rais saat sudah hampir Andre memastikan ke bagian tempat itu.
"Udah bapa bilang itu di sana ada pintu sepertinya menuju keluar atau semacam pintu darurat " Terang Pak Rais. Karena Pak Rais uang berjalan di depan tentu saja dia yang pertama kali menyadari pintu itu.
"Bapak baru tahu loh." Sambungnya lagi terdengar heran.
Sttt
Andre mengingatkan Pak Rais untuk diam.
Tak lama memang terdengar ada yang membuka pintu dan seseorang berbicara.
"Kita lagi yang harus ngurus mayag-mayat gini. Gimana sih kayak gak ada orang lain saja." Terdengar seseorang mengeluh.
Andre membulatkan mata, banyak tanya dan arti dari ucapan orang yang entah siapa. Tapi yang pasti ada istilah mayat yang disebutkan.
__ADS_1