
Kini yang tersisa dalam satu ruangan adalah Sani, Andre dan Pak Dean.
Di satu sisi Andre terlihat terus saja menundukkan kepala, rasa bersalah yang tiba-tiba membuatnya diam saat itu juga. Dia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang terutama pada Pak Dean yang ada di hadapannya kini. Rasanya dia bersalah karena tidak terlebih dulu menceritakan segala hal pada Pak Dean untuk masalah yang sebesar itu.
Keadaan hening tiba-tiba suara dering hp Pak Dean membuyarkan. "Bagaimana Pak?" Tanya Pak Dean pada seseorang yang ada di balik telpon.
"Baik saya akan ke kantor polisi sekarang!" Seru Pak Dean kemudian telpon berhenti dan ditutupnya.
Pak Dean balik memandangi Andre yang ternyata sudah lebih dulu memperhatikan dari tadi.
"Bisa ikut dengan Bapak?" Tanya Pak Dean yang langsung dibalas dengan anggukan Andre.
Andre melihat ke arah Sani dia tahu jika Sani sudah ingin pulang dari tadi.
"Aku di sini dulu sama Ibu-ibu semuanya." Ucap Ratih. Beruntung sekali membuat Andre bisa bernapas lega.
Andre segera berjalan mengikuti Pak Dean yabg sudah berencana akan pergi ke kantor polisi, sebelumnya Andre sudah menebak jika kepergiannya itu pasti tentang Pak Tarman.
"Pak Tarman sudah ditemukan, sekarang dia di kantor polisi." Tegas Pak Dean singkat. Dia tidak membahas apapun meski mungkin dari awal Pak Dean sudah tahu tentang kasus Tri yang bekuk sempat dia ceritakan.
Selama perjalanan Andre diam saja, dia juga tidak berani untuk mengatakan apapun Andre berniat mengatakan segalanya di hadapan polisi jika sekarang dia diminta untuk memberikan kesaksiannya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja kan?" Tiba-tiba Pak Dean bertanya, aneh sekali karena Pak Dean lebih memperhatikan perasaan Andre, seharusnya dia tidak seperti itu karena jika saja situasinya ada dalam keadaan orang lain, orang tersebut pasti marah pada Andre karena semua hal yang tidak dia jelaskan juga.
Tiba di kantor polisi, perjalanan yang tidak membutuhkan waktu lama dan jalanan yang lancar membuat Pak Dean dan Andre tiba dengan cepat.
Perhatian Andre langsung teralihkan pada sosok orang tua yang sedang menunduk di sebuah meja dengan beberapa orang polisi di sampingnya, tangan yang diborgol membuat perasaan Andre semakin sakit, apalagi sekarang Andre sudah bisa menebaknya apa yang akan terjadi di ruangan ini, dia akan diminta untuk memberikan kesaksian atas semua kasus Pak Tarman pada keluarga Tri.
Andre segera duduk di kursi yang sudah disediakan, sedangkan Pak Dean yang menjadi bagian keluarga korban menunggu di luar ruangan. Beruntung sekali hak itu artinya Andre akan lebih leluasa untuk berbicara.
"Baik interogasi akan dimulai kembali. Silahkan Andre sebagai saksi dan Pak Tarman sebagai terduga." Seorang polisi tiba menjadi kepala polisi yang duduk tenang dan akan menginterogasi keduanya. Kali ini tak biasa karena Andre akan menceritakan semuanya di hadapan Pak Tarman.
Perasaan Andre berdebar, tapi seluruhnya bercampur dengan rasa sakit hati dan kecewa pada Pak Tarman. Dia tidak ingin tanggung untuk menjelaskan segala hal yang dirinya ketahui meskipun Pak Tarman salah satu orang tua yang cukup dia seganti sebelumnya, dan Pak Tarman juga sangat membantu Andre selama dia tinggal di kota ini.
Pertama Andre diminta untuk menjelaskan hubungannya dengan keluarga Tri.
"Saya orang asing, kebetulan datang dari beda kota untuk menengok teman yang ada di rumah sakit. Pak Tarman baik dia juga memberikan saya sebagai orang asing, tempat bahkan memberikan saya kesempatan untuk berbaur dengan keluarganya di rumah, tinggal bersama Tri dan Neneknya, juga Pak Rais." Jawab Andre sama sekali tak ragu, dia juga mengatakan apa adanya di saat Pak Tarman yang begitu baik sebagai penolong di tempatnya saat ini.
"Saudara tahu apa hubungan Pak Tarman dengan korban Tri?" Tanya polisi pada Andre.
Andre tidak langsung menjawab, sebelumnya dia melihat ke arah Pak Tarman yang tak disangka Pak Tarman juga balas memperhatikannya. Pikiran Andre langsung melayang pada hubungan spesial yang terjalin antara Pak Tarman dan Tri terutama pada kejadian malam itu.
Sekarang Andre mulai merasa takut, bibirnya Kelu untuk berbicara, nalurinya selalu berkata untuk tidak mengatakan kebiadaban Pak Tarman di malam itu.
__ADS_1
"Saudara baik-baik saja?" Cukup lamanya Andre diam membuat seorang polisi yang ada di samping Andre kembali mengingatkannya kembali.
Andre terperanjat dan membuka mata, sekarang bukan saatnya untuk diam saja dan menutupi kenyataannya, Andre harus mengatakan hal itu agar keadilan diterima oleh Tri.
"Sekali lagi saya bertanya."
"Hubungan yang saya tahu keduanya adalah anak sambung dan ayah tiri." Perkataan Pak Tarman memotong ucapan polisi itu.
"Hingga malam itu, saya melihatnya." Sambung lagi Andre. Dia masih merasa gemetar untuk mengatakan kenyataan itu bukanlah hal yang mudah.
Di satu sisi polisi masih diam memberikan kesempatan pada Andre untuk tetap berpikir dengan tenang hingga dia bisa memberikan kesaksian yang diharapkan.
"Malam itu saya mendengarnya, saya juga melihatnya." Ucap Andre dengan nada gemetar. "Hubungan keduanya tak biasa sebagai anak dan ayah. Pak Tarman melakukan sesuatu dan hal itu dilakukannya di kamar Tri." Ucap Andre yang kemudian dia langsung diam. Napasnya memburu menahan satu persatu beban yang baru saja keluar dari mulutnya. Akhirnya dia sudah mengatakannya akhirnya semua sudah tersampaikan.
Pak Tarman hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan tapi kenyataannya Pak Tarman tak mengelak maupun membantah atau merasa tak terima karena seperti sudah dibohongi selama ini oleh perilaku Andre. Karena jika Pak Tarman tahu bahwa Andre sudah mengetahui semuanya entah apa yang akan dia lakukan dari awal.
"Sudah seberapa sering saudara melihatnya?" Celoteh polisi itu yang langsung membuat Andre kaget dan balik melihat ke arah Pak Tarman. Kedua mata Andre yang sudah berkaca-kaca melihat ke arah Pak Tarman yang hanya duduk diam dan menundukkan kepalanya. Kali ini Andre enggan untuk berbicara lagi. Terutama dia tidak sanggup menjadi orang yang akan mempermalukan Pak Tarman.
Andre menatap ke arah polisi, menarik perhatian polisi dengan caranya memohon dalam diamnya, dia tidak sanggup membahas hal itu di hadapan orang tua yang juga ingin dihormatinya.
"Saudara mengapa bisa langsung ada di TKP dan melapor?" Polisi mengganti bahan pertanyaannya.
__ADS_1
Andre menarik napas lagi, mengumpulkan kesadarannya dan kewarasannya. Karena sampai saat ini dia tidak pernah bisa percaya bahwa pelaku utama dalam kejadian ini adalah murni karena Pak Tarman. Andre masih tidak ingin mempercayai hal itu.