Dunia Mu

Dunia Mu
Ruqyah


__ADS_3

"Assalamualaikum" Ucap Pak RT memasuki rumahnya.


Pak RT langsung masuk saat melihat semua mata yang mengalihkan penglihatan ke arahnya sembari menjawab salam. "Waalaikum salam."


"Permisi semua. Punten." Ucap Pak RT sambil sedikit membungkukkan tubuh. Pak RT yang garis wajahnya terlihat sangat cemas berjalan tidak sabar menuju ke salah satu kamar di rumah itu.


Sedangkan warga yang ikut tadi sebagian menyusul mengantarkan Sani ke dalam kamar satunya lagi dan yang lainnya bersiap antri mengambil wudhu di luar rumah.


Pak RT tertegun saat melihat anaknya masih tidak sadarkan diri, dan di sampingnya adalah isterinya yang masih tidak bisa tenang dan terus menangis. Memang orang tua mana yang tega melihat anaknya sedang dalam kondisi yang tidak pernah diinginkan.


Kejadian berlangsung setelah kepergian Pak RT dan Pak Kyai pergi mengamankan mayat yang ada di sungai. Warga yang menunjukkan tempatnya memang tidak berbohong, mengenai mayat itu kini sudah diamankan oleh pihak yang berwajib dan Pak RT belum tahu kelanjutannya sejak satu hari yang lalu. Saat kondisi malam Pak RT sangat gelisah dan pulang ke rumah dengan Pak kyai. Tapi sesampainya di rumah Pak RT sudah kehilangan dua gadis yang menjadi tamunya itu, sedangkan putri bungsunya mengalami suatu insiden yang sangat menyedihkan. Dia histeris menangis seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Pengobatan pun berlangsung oleh Pak Kyai. Dan setelah sehari kemudian sampai sekarang putri bungsunya belum sadarkan diri. Pak kyai masih melakukan pengobatan. Lemas rasanya melihat putrinya masih tidak sadarkan diri juga.


Pak RT berjalan menghampiri ke samping isterinya itu. Mencoba menenangkan nya dan terus mengingatkan agar selalu berdoa untuk anaknya.


"Pak RT Neng Sani sudah ada di dalam kamar? Tolong dibantu oleh ibu-ibu diluar untuk berwudhu dulu." Ucap Pak Kyai tiba-tiba di tengah suasana kesedihannya.


"Baik Pak Kyai." Pak RT langsung menyetujuinya dan segera berdiri.


"Sudah lah Pak, kita pulangkan orang asing itu. Lihat sekarang anak kita gara-gara mereka semua menjadi seperti ini." Ucapan Bu RT menghentikan langkah Pak RT. Tapi tidak dengan niatnya.


"Lillahi ta'ala Bu. Biar kita bantu sesama manusia harus saling bantu." Ucap Pak Kyai yang langsung menghentikan ucapan Bu RT.


"Cepat Pak kita akan selesaikan malam ini!" Instruksi lagi Pak Kyai.


Pak RT segera bergegas mengumumkan apa yang sudah dibicarakan Pak Kyai padanya.

__ADS_1


Tapi sudah bisa ditebak. Reaksi orang-orang memang berbeda-beda. Sebagian besar tidak begitu ingin melakukan ruqyah masal ini apalagi pemanjatan doa yang akan dilakukan semalaman ini.


"Insyaallah Bu, semua aman dan ini juga untuk desa kita tempat tinggal kita di sini." Ucap Pak RT yang terus berusaha membujuk warganya untuk membantu.


"Bikin masalah saja Pak, padahal kita serahkan ke polisi saja biarkan polisi yang mengantar mereka pergi dari tempat ini. Kenapa harus sampai menyulitkan kita semua?" Ucap salah satu warga.


Pak RT hanya bisa menarik napas, dengan perasaannya yang masih gelisah karena sebab putri bungsunya itu, membuat Pak RT sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kita mau pulang Pak. Di rumah kita merasa aman-aman saja dan sejak ke rumah Bapak ini rasanya jadi aneh." Celetuk lagi seseorang. Dan dengan ucapannya itu malah membuat yang lainnya juga memiliki pikiran yang sama. Apa daya Pak RT hanya bisa menggelengkan kepala dan tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.


Pak Kyai hanya mematung menyaksikan satu persatu orang pergi dari rumah nya. Dia benar-benar tidak berdaya dan tidak tahu lagi akan berbicara apa untuk menghentikan mereka agar tidak pergi.


Yang tersisa hanya ada 3 orang. Mata Pak RT melihat sosok orang itu dengan penuh harapan.


"Kami bisa bantu Pak. Tidak apa-apa kan?" Tanyanya seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan Pak RT.


Sementara ketiga orang keluar rumah, dan orang-orang yang sudah lebih dulu mengambil wudhu masuk kembali ke dalam rumah.


Pak RT melihatnya lagi dengan seksama, sekitar ada 7 orang lelaki dan totalnya sekarang ada 10 orang dengan yang tadi.


"Masuk Pak. Saya panggil Pak Kyai dulu." Ucap Pak RT mempersilahkan sambil pergi berlalu ke arah kamar tadi.


Tok... tok...


Suara pintu diketuk.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Salam Pak RT.


Pak Kyai langsung berbalik menyambut salam. "Waalaikum salam."


"Sudah siap Pak, bisa dimulai." Ucap Pak RT ramah. Sambil matanya yang kembali mengintip ke arah putri bungsunya yang masih tertidur seperti tadi. Melihatnya Pak RT hanya bisa kembali menarik napas dan kecewa, terlebih hatinya sangat tidak tenang dan pikirannya sudah tidak bisa memikirkan cara lagi. Tapi dia berusaha yakin dan lebih tegar untuk anak isterinya, dia harus tenang dan mempercayakan semuanya kepada Sang Pencipta.


Pak RT pergi dari kamar menyusul Pak Kyai dari arah belakang.


Prang...


Suara piring pecah seperti dibanting langsung ke lantai.


Pak RT dan orang-orang yang mendengarkan langsung serempak mengalihkan pandangan ke arah dapur.


"Astagfirullah..." Ucap Pak Kyai.


Semua pasang mata hanya bisa saling membalaskan pandangan satu sama lain. Dan mulut yang bungkam menjelaskan bagaimana perasaan kaget sekaligus takut dengan suara yang baru saja didengar.


Di dapur tidak ada orang, dan tidak mungkin piring bisa melayang jatuh.


"Mari semuanya kita ambil barisan untuk salat!" Seru Pak Kyai menghalau pikiran semua orang.


Warga yang ada di dalam rumah langsung kembali bergerak mendekat dan membentuk satu barisan untuk salat. Dan tak lama ketiga orang masuk ke dalam rumah.


Tiba-tiba suara geruduk di atas langit-langit rumah tepat di atas semua orang berdiri kembali menjadi pusat perhatian. Bahkan semua terheran lagi apa yang terjadi di dalam langit-langit rumah, apakah hewan atau sejenisnya? Atau?

__ADS_1


Suaranya berlangsung tidak lama dan kembali diam lagi, sunyi dan sepi seperti suasana menghadirkan kesunyian di tengah pemakaman pada malam hari. Semua juga merasakan hal yang sama. Angin dingin bertiup dan menangkap Punduk orang-orang hingga saat menyentuh kulit bulu kuduk langsung merinding berdiri. Perlahan tapi pasti hati orang-orang mulai goyah, keadaan di dalam rumah sangat menekan setiap mental dan juga pikiran. Apa yang bisa dilakukan? Terlalu takut untuk kabur melarikan diri dari rumah, mungkin sesuatu yang terjadi di luar bisa lebih buruk lagi. Itu kabar yang sangat tidak baik.


Pak RT terus berusaha menahan perasaan takut. Di dalam pikirannya hanya ada tentang putri bungsunya dan juga desanya kini, semua dipertaruhkan dari usaha yang akan dilakukan sekarang.


__ADS_2