
Andre sangat penasaran bagaimana hidup Sani selama ini, apakah dia memang selalu sendirian dan hanya asisten maupun penjaga Yanga da di rumah?
"Non!" Seru seorang supir masuk ke dalam kamar Sani ketika itu.
Sani terperanjat melihat supir Ayahnya sudah datang.
"Ayah sudah pulang?" Tanya Sani, pertanyaan Sani membuat Andre langsung cemas.
"Tuan ada di bawah." Ucapnya memang dari tadi hanya bermaksud memberi tahu saja.
"Yasudah sana pergi." Sontak membuat Andre heran melihatnya. Yang membuat Andre bertanya-tanya adalah sikap Sani yang tidak khawatir meski Ayahnya datang.
"Aku kayaknya gak enak badan gini. Bisa ambilkan obat di atas?" Pinta Sani pada Andre.
Tanpa memiliki prasangka lain Andre bergegas untuk naik lagi ke atas.
"Obatnya ada di atas kasur, itu saja." Jelas Sani memberitahu persisnya tempat obat itu.
Andre langsung mengerti dan dia naik kembali ke kamar Sani.
"Sani!" Teriak Ayahnya dari bawah tangga.
Sani dengan malas mengatur posisi tubuhnya dan berdiri, berjalan membuka pintu.
Dari bawah tampak Ayahnya yang sudah menunggu dia. "Kamu apa-apaan bawa lelaki ke sini? Suruh dia turun sekarang!" Teriak Ayahnya merasa tak terima.
Tak menggentarkan sedikit pun hatinya, meski sekarang Sani melihat Ayahnya yang sedang marah. "Itu asisten ku sekaligus penjaga ku. Sani gak bertanya komentar Ayah atau persetujuan Ayah." Jawab Sani tampak angkuh di depan Ayahnya.
"Memangnya kamu itu anak siapa? Selama masih di rumah ini kamu harus mengikuti semua kata-kata Ayah." Sengit Ayahnya tak setuju.
"Sani bisa pergi sekarang juga!" Ucap Sani.
Mendengarkan ucapan Sani seperti itu membuat Ayahnya langsung terdiam, tampak bingung dan cemas dari wajahnya.
__ADS_1
"San, tolong ya! Ayah cuman gak mau kamu bawa sembarangan orang ke rumah, apalagi katamu tadi, harusnya biar orang kepercayaan Ayah saja untuk bodyguard mu. Ayah gak setuju, kalau ada apa-apa dengan kamu nanti siapa lagi yang repot." Nada bicaranya sedikit melunak, wajar saja dia hanya memiliki satu-satunya anak semata wayang, apapun itu pasti akan diberikan kecuali tentang keamanannya.
"Ayah gak usah repot-repot, Sani gak akan ngerepotin Ayah. Selama ini Sani gak ngerepotin Ayah kan! Ayah sibuk, Sani sendiri, pengawal dari Ayah saja mana? Semuanya pada hilang, tanyain aja sama penjaga di depan!" Alasan Sani memang masuk akal, menjadikan Andre sebagai pengawal pribadinya karena dia sangat ketakutan jika satu persatu orang kepercayaan Ayah selalu hilang tanpa jejak.
"Parman!"
"Parman!"
Tampak sudah menyudahi pertengkaran dengan Sani, Ayahnya Sani langsung memanggil seorang penjaga rumah seperti yang dibicarakan Sani.
Sani berbalik dan langsung menutup pintu kamar. Bersamaan dengan itu Andre baru saja turun dari kamarnya dengan sekantong obat yang sudah dia bawa.
"San obatnya yang ini!" Andre menunjukkan kantong obat yang dibawanya.
Sani mengangguk. "Makasih." Ucapnya.
Sani mengambil obat yang diambil Andre saat itu, tanpa basa-basi lagi dia langsung meminumnya. Anehnya setelah meminum obat Sani tampak pusing lebih pusing dari sebelumnya.
"Loh, San!" Andre cemas melihat Sani yang limbung ke atas kasur.
Cukup aneh reaksi Sani setelah meminum obat membuat Andre penasaran, yang dia tanyakan tentang obat itu. Apakah memang sejenis obat tidur?
Andre penasaran dan membuka botol obat, mengeluarkan satu butir obat dari dalamnya. Sia-sia saja karena Andre tidak begitu tahu tentang obat jadi percuma saja.
"San!"
"Sani!"
Tak disangka sebuah suara dari bawah memanggil Sani berulangkali. Andre mulai bingung kali ini apakah perlu dia menemui orang di bawah? Apakah mungkin dia Ayahnya?
Memikirkan jika orang yang memanggil Sani beberapa kali adalah Ayahnya membuat Andre semakin dah Dig dug.
Andre bingung karena Sani sudah tertidur, apakah mungkin jika dia membangunkan Anak saja?
__ADS_1
"Hey, bangun!" Ucap Andre beberapa kali menepuk tubuh Sani, namun tidak ada reaksi.
"Sani!"
"Sani! Sebentar dulu Ayah mah bicara!"
Andre langsung membulatkan mata, kali ini dia sudah tahu jika orang yang terus memanggil Sani adalah Ayahnya.
Meski tidak ada sesuatu yang bisa dipikirkan Andre, bagaimana menghadapi Ayah Sani, menjelaskan tentang keberadaannya juga, atau menjelaskan jika Sani sedang tertidur. Bagaimana caranya? Tidak ada yang terpikirkan mudah di otak Andre untuk saat ini.
Dengan keberanian yang sedikit terkumpul Andre memberanikan diri berjalan mendekat ke pintu, apapun yang terjadi dia sudah bertekad akan menghadapi Ayah Sani. Harusnya memang seperti itu kan? Andre harus bersikap baik jika dia tidak ingin mendapatkan masalah dan meskipun Sani menyepelekan tentang keberadaannya yang tidak akan berpengaruh apapun, tapi dia harus meyakinkan Ayah Sani dan meminta maaf.
Tak terasa handle pintu sudah di depan mata, Andre menundukkan wajah sambil menarik handle pintu.
Tapi dia tidak berani mengangkat wajahnya, rasa bersalah terlalu menguasai pikirannya. Dia sudah bersalah karena tidak meminta izin dari keluarga Sani dan hanya langsung menyetujui tawaran Sani tanpa sebuah pertimbangan.
Andre sudah membuka pintu, jantungnya semakin terguncang saja.
"Loh, Sani gak ada?" Terdengar sebuah komentar itu yang masuk ke indera pendengarannya. Andre langsung siap akan menjawab.
"Tolong bilangin sama Sani, Saya harus pergi dulu ke luar ada pertemuan dengan klien penting." Namun Andre tak mendengarkan sebuah kecemasan, atau kata lain Ayah Sani tampak tidak terkejut ketika pertama kali melihatnya.
Andre langsung mengangkat wajah menatap Ayah Sani yang sudah pergi melewati pintu. Dia akan mengejarnya, namun teringat dengan kata-kata tadi jika Ayah Sani mungkin sedang terburu-buru karena dia sibuk ada sebuah pertemuan dengan klien.
Andre mengurungkan lagi niatnya, akhirnya sekarang dia mengerti dengan perkataan Sani jika keluarganya tidak akan terlalu mempermasalahkan kedatangannya ini.
Mata Andre tak lepas memperhatikan sebuah punggung dari lelaki yang lebih tua darinya, entah usianya berapa karena dia tak sempat melihat dan bertatapan langsung. Andre hanya tahu Suaranya saja ketika berbicara tadi.
Andre menutup pintu lagi, dia sedikit masih merasa bersalah terutama Andre tidak sempat mengatakan maaf pada keluarga Sani. Sial sekali karena dia ketakutan sampai tidak mempunyai nyali untuk mengakui kesalahannya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Andre bingung jika dia hanya diam seperti ini, sedangkan Sani cukup terlelap dari tidurnya.
Andre tidak tahu apakah nanti Ayah Sani masih akan bersikap seperti tadi? Sebaiknya dia berharap tidak ada yang berubah, Andre hanya harus fokus bekerja dan mengikuti semua kata-kata Sani. Hanya itu saja kan?
__ADS_1
Andre menghela napas, dia duduk bersandar pada tembok kamar. Semoga saja misteri rumah ini tidak akan membuatnya sial lagi. Sampai saat ini Andre masih membayangkan tentang segala sesuatu yang tampak tertulis di setiap dinding rumah. Dia masih bertekad untuk menanyakannya pada nenek.