
"Saya coba ya." Namun saat kunci dimasukkan kunci benar-benar sudah mentok tidak bisa diputar ke kiri, itu artinya pintu tidak dalam keadaan terkunci. Harusnya kunci juga tidak bisa dimasukkan jika di dalam bagian lain handle pintu ada kunci terpasang.
"Gak dikunci kok, Non!" Ucapnya sambil memperlihatkan pintu yang dia buka dengan enteng.
Sani heran melihatnya dia jelas merasa jika kunci sulit dibuka tadi.
"Itu temennya, Non?" Tanyanya pada Sani.
Sani menganggukkan kepala.
Tanpa diminta Bapak penjaga yang sudah sangat lama bekerja dengan Ayah, bahkan sejak usia Sani masih kecil beliau sudah bekerja, termasuk orang yang paling lama tinggal bersama Sani.
"Non, apa lelaki ini teman lama atau baru ketemu dan Non ajak dia kesini?" Sani terperangah mendengarkan pertanyaan detail seperti itu.
"Udah kaya Ayah nih nanyanya." Sindir Sani.
"Kayaknya dia bukan teman biasa ya?" Sani kembali kaget mendengarnya, terkesan jika Bapak penjaga itu menebak jika Andre adalah pacarnya.
"Hem. Aneh-aneh banget kalau nanya. Udah deh jangan banyak tanya pergi lagi ke bawah, dokternya lama gak kesini?" Sani tak ingin membahas banyak atau melebar, apalagi tentang Andre.
"Kayaknya temen Non ini orang baik. Tapi jangan terlalu dekat ya." Ucapnya tak mengindahkan perkataan Sani tadi.
"Udah deh jangan so nebak gitu. Udah Bapak keluar sekarang saja, aku yang tungguin Andre di sini." Sani semakin tak nyaman saja dia hanya berharap jika Bapak penjaga segera keluar.
"Non, Bapak pesen lagi kalau bawa temen ke rumah harus inget aturannya lagi. Non ataupun lelaki ini jangan sampe berani masuk ke ruangan bawah! atau lebih baik Non pindah rumah aja." Sani mendengarkan kembali sebuah peringatan untuknya, dia pernah diperingatkan sesuatu yang sama dan sudah lama sekali. Tapi ada yang tidak diharapkan, Sani kembali ingat ketika dia mengalami kejadian menakutkan di rumah ini.
"Udah Non, jangan diinget terus. Jangan diinget lagi. Bapak pamit ya!" Kemudian Bapak penjaga itu langsung keluar dan turun kembali mengawasi penjagaannya di luar rumah.
Sani tertegun lagi setelah sekian lama dan untuk pertama kalinya lagi dia mendengarkan peringatan itu. Ayah sudah sangat lama memperingatkannya, dan kali ini dia mendapatkan peringatan yang sama namun dari orang yang berbeda.
__ADS_1
Benar saja perkataan Bapak penjaga itu, untuk apa bertahan lama di rumah ini? Padahal Sani masih bisa pergi atau membeli rumah lain. Apalagi setelah kejadian itu.
Sani hanya bergidik ngeri sebisanya dia tidak ingin mengingat kejadian di masa kecilnya. Apapun itu Sani tidak akan pernah lagi Berani
ke bawah.
Tak lama melamun Sani mendengar sebuah ketukan pintu dari luar, kemudian tampak Bapak tadi membawa seorang dokter pribadi keluarga.
Sani mempersilahkan agar Andre cepat diperiksa, dia tidak bisa berhenti khawatir jika sampai terjadi sesuatu dengan Andre.
Setelah selesai pemeriksaan Sani diberi beberapa resep obat dan juga penjelasan singkat dokter. Tentang kondisi Andre tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Andre kecapean dan dia butuh istirahat saja.
"Dok, seperti biasa ya!" Ucap Sani. Maksud Sani dia meminta obat tidurnya lagi. Benar saja Sani memintanya diam-diam, dia hanya butuh obat dan itu tidak akan membuatnya celaka, hanya sebuah obat agar dia bisa beristirahat.
"Bagaimana sudah Bu?" Tanya Bapak penjaga yang dari tadi masih mematung di pintu.
"Pak! Antar ya dokter pulang! Aku gak apa-apa cuman sebentar di sini dulu, ada Andre juga." Ucap Sani memberikan perintah.
#####
Kejadian 20 tahun lalu.
Sani adalah seorang putri yang dilahirkan 4 tahun lalu, tubuhnya tidak seperti anak lain pada umumnya. Bahkan Sani tidak kuat untuk bangun, dia hanya tidur di kasur untuk makan ataupun hal lainnya.
Sani adalah anak terakhir yang hanya bisa dilahirkan dari rahim Ibunya, sebelum rahim Ibu benar-benar diangkat. Meskipun dengan kondisi fisik yang kurang normal tapi dia mendapatkan kasih sayang paling banyak dari Ayah dan Ibunya.
Keluarganya adalah keluarga berada, dengan kekayaan yang bisa menjamin kehidupannya. Namun uang tidak menjamin, karena kelumpuhan Sani adalah sesuatu yang sudah dia bawa sejak lahir.
Ayah Sani adalah seorang pemuda yang bekerja di rumah Ibunya, setiap hari bekerja di sana. Ibunya Sani tertarik dengan kerja keras Ayahnya dan karena sudah menjanda selama bertahun-tahun Ibunya Sani memutuskan agar bisa dinikahkan.
__ADS_1
Tidak ada keluarga yang menentang, hingga pernikahan itu terjadi ketika Sani berusia 4 tahun.
Ayah Sani adalah orang yang membawa kabar untuk kesembuhan Sani.
Atas petunjuk keluarganya Ayah Sani membawa berita jika ada satu perjanjian yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan Sani, perjanjian yang beresiko. Ayah Sani hanya tahu perjanjian itu tanpa tahu apa resikonya.
Dan pengobatan dilakukan hingga ajaibnya Sani yang lumpuh bisa normal seperti anak lain seusianya.
Kabar kesembuhan Sani adalah kabar baik keluarga.
Namun tak lama dari hari kesembuhan Sani, sebenarnya kematian sudah mengintai keluarga. Pertama adalah kematian istrinya yang malang, berlanjut dengan kematian sanak saudara dari Ibunya, dan kabar menakutkan itu membuat Ayahnya Sani langsung melarikan diri dari rumah, dia butuh pergi jauh untuk selamat.
Sani tetap dibawanya, perasaan bersalah membuat Ayahnya menyayangi Sani sepenuh hati meskipun Sani adalah anak sambungnya. Dia berniat untuk pergi dan memulai usaha di kota berbeda. Hingga entah keajaiban apa yang terjadi, setiap usaha yang dilakukan sukses hingga kekayaan terus terkumpul.
Sani masih pewaris tunggal kekayaan Ibunya yang sudah lama ditinggalkan.
Demi kekayaan Ayahnya terpaksa kembali pulang setelah 20 tahun berlalu, mencari tentang aset kekayaan.
Tidak ada jalan yang mudah, ancaman masalalu tetap membayangi kehidupan Ayahnya Sani, demi menyelamatkan hidupnya dia kembali menghubungi orang pintar untuk bisa selamat, dengan syarat tertentu. Tentang masalah ini Sani tidak pernah tahu, dia hanya tahu jika dirinya kembali pulang ke rumah lama milik Ibunya saja dengan banyak pantangan dan hal lainnya. Sani tidak pernah bisa melarikan diri dari rumah itu, dia akan tetap di rumah itu meskipun banyak kejadian yang membuat Sani merasa aneh.
Rumah ortu adalah rumahnya sekarang.
####
"Apa yang ku ingat ya?" Batin Sani kembali menarik kesadarannya tentang masalalu. Ingatannya semasa kecil memang hilang, dia tidak tahu menahu apa yang terjadi dulu.
"San!" Panggil Andre yang tampak sudah siuman.
Sani berbalik dan merasa senang karena Andre sudah cepat siuman.
__ADS_1
"Pingsan lagi ya? Kepala ku berat sekali." Keluh Andre pada Sani.