
Rasanya tak pernah terbayangkan, Andre sebagai orang asing yang baru saja melewati beberapa hari di keluarga Tri, rasanya kedamaian masih berlangsung kemarin pagi. Tapi siapa sangka sekarang pada siang di hari yang berbeda Andre sudah menjadi bagian keluarga yang akan mengantarkan keluarga Tri ke pemakaman umum.
Dari kejauhan ketika baru saja turun dari mobil, matanya langsung disambut dengan pemandangan tanah merah yang masih basah dan baru digali, dia langsung menebaknya jika itu adalah tempat pemakaman untuk Tri dan Neneknya. Sesak rasanya karena waktu sudah menjemput Tri menyusul kematian Neneknya.
Hari berlalu dan waktu yang terus bergulir menghabiskan banyak waktu di keluarga Tri, masih terbayangkan riuh suasana saat sarapan atau makan malam, masih terbayangkan juga sosok dua orang tua yang selalu bersama dan sudah menjadi sahabat lama, yaitu Pak Rais yang sudah meninggal dan Pak Tarman, dan masih teringat jika Nenek sepuh selalu membuat suasana terasa lengkap. Semua bayangan dan ceritanya membekas di ingatan, tidak mudah bagi Andre untuk melupakan kebiasaan dan segala kesan saat dia sudah di terima dengan hangat di keluarga Tri. Bagaimana bisa Andre melupakan semua kebaikan itu? Bagaimana bisa.
Saat Andre melamun di tempat Sani langsung mendekat lagi ke arahnya, menyadarkan Andre dan membuat kesadarannya kembali.
Satu hal lagi dan itu adalah Sani dengan semua masalah yang belum selesai setelah ini, Andre bisa membayangkan rasa bersalah lain dirinya adalah Sani karena sampai sekarang dia masih belum mampu membawa Sani pulang mengantarnya seperti yang dia janjikan.
"Cepat Andre!" Seru Sani.
Andre mengikuti dari belakang, menyusun langkah hingga sekarang akan membuatnya menjadi saksi pada kematian Tri.
Beberapa orang sudah menunggu di bawah liang lahat, dan seorang ustad yang melafalkan dia memimpin semua orang untuk mengantarkan dia terakhir dalam pertemuan terakhir sekarang.
Andre masih tidak bisa tenang, hatinya sangat sakit apalagi saat dia melihat dua keranda yang berisi Tri dan Neneknya di sana. Sekilas melihat ke arah jenazah bayangan tentang kesalahannya kembali membuat Andre tak bisa tenang. Sampai sekarang siapa yang akan menyangka jika kematian keluarga ini terjadi karena Pak Tarman, apa yang bisa dijelaskannya pada semua orang nanti saat bertanya?
Tak terasa air mata langsung jatuh begitu saja, Andre tak ingin jika hari pertemuan terakhirnya ini masih dihiasi Isak tangis yang membuat Tri akan menangis juga di sana, mungkin saja kan.
__ADS_1
Tak sengaja sudut mata Andre kembali menangkap pemandangan yang ada di pemakaman itu, seorang perempuan yang memiliki perawakan sama dengan Tri, berdiri seru kejauhan menatap riuh keramaian dalam pemakaman. Hati Andre langsung tahu jika itu adalah Tri yang sedang menatap penuh haru ke arahnya. Tapi Andre tak bisa berbuat apapun, karena dia sadar Tri sudah meninggal dan dunianya kini sudah berbeda dengan tempatnya. Lama kelamaan gadis itu langsung terlihat semakin dekat bahkan sekarang tepat ada di hadapan Andre. Seketika Andre merasa kaget tapi dia melihat ke sekeliling yang banyak orang, hingga Andre berusaha membuat dirinya terbiasa dan diam saja walaupun saat itu kedatangan roh Tri tepat berada di hadapannya.
Andre bisa mengikuti semua sesi pemakaman dengan lancar dan tidak butuh lama dua jenazah sudah dikuburkan dan ustad juga sudah melantunkan adzan terakhir yang terdengar berkumandang.
Andre tertahan dan hatinya terasa langsung hanyut, membayangkan jika kematian tak pernah memandang usia dan waktu. Tidak ada yang bisa menebaknya.
Saat acara dia di pemakaman sudah berakhir tiba saatnya Andre di hadapkan oleh masalah lain. Hatinya sangat was-was saat yang terbayangkan Sani akan menanyakannya lagi untuk pulang dan dia tidak bisa menolaknya.
"Nak Andre dan semuanya kita ke rumah Bu Ratih, untuk sementara rumah Bapak sedang diperiksa oleh tim polisi. Dan sekarang kita bisa tenang karena polisi juga akan berjaga di rumah Bu Ratih." Terang Pak Dean saat di pemakaman hanya ada orang-orang yang tadi bersama di mobil.
"Alhamdulillah kalau begitu Pak." Ucap Bu Ratih yang tampak sudah cukup letih.
Di dalam mobil, orang-orang nampak masih diam seperti tadi. Mungkin mereka juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, karena hingga saat itu Andre masih membayangkan waktu demi waktu saat bersama Tri. Kesedihan juga masih terlukis pada semua orang, dan memang butuh waktu agar semuanya kembali.
Beruntung sekali karena ada Pak Dean yabg paling diandalkan, jika dibandingkan dengan mental Andre saat itu mungkin sekarang Andre belum bisa membawa mobil dengan tenang. Tidak akan seperti Pak Dean yang tetap tenang dan bisa mengendalikan suasana.
Perjalanan berlangsung lancar hingga tak lama mobil sudah terparkir juga di halaman Bu Ratih.
Saat membuka pintu mobil tiba-tiba polisi langsung menyambut kedatangan Pak Dean.
__ADS_1
Andre memilih mendampingi ketiga wanita yang bersamanya saat itu, sedangkan Pak Dean nampak bercakap dengan polisi.
Tak Lama Pak Dean langsung mengajak semuanya untuk masuk.
"Beruntung sekali pak polisi cepat tanggap dan langsung inisiatif jaga di rumah Bu Ratih ini. Kita jadi ngerepotin Ibu nih mungkin akan menginap di sini juga." Ucap Pak Dean saat semuanya sudah duduk di ruangan tamu.
"Ibu heran Pak, kok kenapa polisi sampai berjaga di sini." Timpal istrinya Pak Dean.
"Oh itu, semalam Pak Tarman ke rumah kita, Bapak jadi khawatir lah." Jelas Pak Dean yang mulai membantu istrinya untuk mengangkat beberapa barang dari mobil.
"Ada apa sih Pak dengan Pak Tarman? Ibu gak lihat dari kemarin juga." Tanya Istrinya pak Dean di hadapan semua orang.
Pak Dean langsung mematung mendengarkan pertanyaan istrinya, tidak aneh karena hanya dia dan Andre yang tahu alasannya.
Pak Dean sekilas melihat ke arah istrinya. "Ibu mending siapin makanan, Bapak tadi udah beli sebagian di mobil Bu." Ucap Pak Dean mengalihkan pembicaraan.
"Bapak udah beli ya? Yasudah Ibu siapin sekarang." Beruntung sekali karena istrinya Pak Dean tak membahas lagi sesuatu yang dipertanyakan nya.
Dan tinggal Bu Ratih yang terpaku diam menghadapi semua suasana di hadapannya.
__ADS_1
"Eh ia semuanya bisa istirahat di kamar jika sekarang mau ke kamar, Ibu sudah rapihkan semuanya. Sebaiknya Ibu sekarang bantu Bu Sisa dulu ya." Bu Ratih tampak tak tertarik untuk membahas yang dipertanyakan oleh Bu Siska istrinya Pak Dean. Dia memang selalu bisa menjaga suasana dan perasaan orang-orang, itu alasannya Bu Ratih hanya berpura-pura saja tidak penasaran meski ada saatnya juga semua akan diceritakan di hadapan semua orang.