
"Nak Andre ayo cepat! Kamu bisa bawa mobilnya kan?" Seru Bu Ratih sudah tidak sabar.
Andre kembali terperanjat, dia segera membuka pintu mobil. Perasaannya langsung tak menentu, rasa gugup menguasai pikirannya saat itu.
"Kenapa Nak Andre? Apa ada yang salah?" Bu Ratih masih tidak sabar.
"Sekarang berangkat Bu." Jawab Andre. Meski sebenernya hatinya sedang tidak tenang berperang dengan dirinya sendiri. Andre harus ingat dengan kata-kata dari neneknya dulu, jika dia tidak tenang mereka semua akan menemukannya.
Mobil masih melaju dalam kecepatan rata-rata sedang melintasi jalanan dan Andre mulai terbiasa fokus meski dalam penglihatannya sosok itu masih ada tepat di sampingnya. Andre tak ingin menghiraukan karena mereka tak kasat mata dan bukan sesuatu yang harus dipedulikannya.
"Ada kecelakaan." Suara lirih yang langsung membuat Andre menekan rem sekaligus membuat mobil berhenti seketika.
"Aduh. Kenapa Nak Andre?" Tanya Bu Ratih mungkin karena ulahnya penumpang di belakang pasti terkejut saat mobil harus berhenti tiba-tiba. Sadar karena posisinya saat itu masih di tengah jalan Andre segera memutar kemudinya dan diparkir di samping jalan.
"Loh kita berhenti?" Tanya lagi Bu Ratih panik. Tentu saja Bu Ratih akan panik dan mulai serius karena harusnya mereka cepat sampai ke rumah sakit bukannya malah tertunda seperti ini.
Akhirnya Sani dan Bu Ratih keluar dari mobil. Bu Ratih tampak marah tapi dia juga sedang mengendalikan dirinya.
"Kenapa kamu?" Tanya Sani saat melihat Andre yang tidak diam dan sedikit panik.
Sebelum pertanyaan Sani terjawab tiba-tiba langsung ada begitu banyak keramaian yang menyerbu ke arahnya tepat ke arah di depan mobil Andre, semua pasang mata langsung menatap heran dan tak tertinggal Andre langsung mengajak Bu Ratih juga Sani untuk melihat ke kerumunan orang-orang.
Bu Ratih terlihat panik begitupun Andre dan Sani yang berjalan dan sudah mendekat ke kerumunan.
"Astaga. Ibu gak bisa lihat pokoknya. Di depan pasti ada yang kecelakaan." Bu Ratih langsung menghentikan langkah mereka sebelum tepat sampai dalam kerumunan orang-orang.
"Aku juga gak mau. Udah ah balik lagi aja." Sani rupanya memiliki ketakutan yang sama dengan Bu Ratih.
"Yasudah kita balik lagi Bu." Andre tak ingin mengambil resiko, apalagi dia pasti akan merasa syok karena melihat kecelakaan itu. Namun hatinya yang lebih merasa tidak tenang, saat mendengar ucapan perempuan di dalam mobil yang memperingatkannya membuat Andre berpikir jika hantu itu memang sengaja ingin membuat mobil yang dia kemudikan selamat kan.
__ADS_1
Dan yang paling aneh saat Andre memasuki mobil hantu tadi sudah tidak ada di sampingnya. Andre sempat mencari dengan bingung.
"Cari apa Nak Andre? Ayo ah kita berangkat lagi Ibu masih dag Dig dug kayak gini." Celoteh Bu Ratih.
Andre langsung mengangguk dan sekarang sudah mempersiapkan dirinya lagi untuk mengendarai mobil, membawa semua orang dengan selamat sampai tiba di tujuan nanti.
Terlihat Andre sedang menarik napas dan kembali fokus untuk membawa mobilnya.
"Duh ibu kalau lagi di jalan, baru denger aja ada kecelakaan kayak gitu bisa-bisa Ibu sampai pingsan kalau sempat melihatnya tadi." Terdengar Bu Ratih yang sedang berbicara dengan Sani. Tapi Bagi Andre itu bukan masalahnya, melainkan penglihatannya sendirilah masalah terbesarnya kali ini.
Keadaan di dalam mobil masih tenang, Andre sesekali melihat ke arah sampingnya dan tidak ada wanita tadi juga. Bukannya sedang menunggu tapi Andre cukup penasaran saja.
Tak lama dari perjalanan rumah sakit sudah terlihat dari arah jalan, Andre mulai masuk ke dalam rumah sakit dan memarkir mobilnya dulu.
Andre menghela napas lega akhirnya dia sudah sampai di rumah sakit. Bu Ratih dan Sani juga berjalan terburu-buru menuju ruangan tempat Tri dirawat di sana.
"Syukurlah kalian sudah datang." Pak Dean langsung menghampiri Bu Ratih.
Andre mendekat ke arah Pak Dean dengan sedikit merasa gugup, pikirannya langsung melayang pada kejadian malam itu di rumah Pak Dean, karena sampai pagi ini Andre belum menceritakannya pada Bu Ratih.
"Ada sesuatu masalah?" Bisik Pak Dean, beruntung dia tanggap melihat sikap Andre yang tiba-tiba saja mendekat.
Andre diam saja bola matanya bergerak melihat situasi saat itu. Dia menarik na,pas dan mulai memberanikan diri untuk berbicara.
"Pak Tarman datang ke rumah." Ucap Andre singkat.
Pak Dean langsung membulatkan mata setelah mendengarnya. "Ke rumah ku?" Tanyanya tak percaya.
Andre mengangguk saja.
__ADS_1
"Sudah lapor polisi?" Tanya Pak Dean.
Seketika Andre terperanjat karena dia baru sadar sudah melewatkan sesuatu yang begitu penting.
"Aku akan menghubungi polisi sekarang, sebaiknya kamu tetap disini." Pak Dean langsung bersiap untuk menelpon tapi dia memilih berbicara di tempat lain.
Mengapa rasanya begitu bodoh, dia sampai melupakan untuk melapor pada polisi. Andai saja semalam terjadi sesuatu hal Andre pasti tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Nak Andre kemari!" Panggil Bu Ratih yang saat itu terlihat menenangkan istrinya Pak Dean.
Andre bergegas mendekat.
"Kamu tolong ya hubungi dokter kembali dan bilang kalau keluarga Tri sudah datang." Perintahnya yang langsung di ia kan Andre.
Sani saat itu melihat Andre bersiap akan pergi, dia tidak menunggu dengan diam saja dan memutuskan untuk pergi mengikuti Andre.
"Kita harus berbicara pada dokter, tapi harus kemana?" Ungkap Andre bingung.
"Suter!" Panggil Sani membuat Andre langsung memperhatikan ke arahnya. Sani hanya membalas tatapan Andre dengan diam.
"Aku ingin bertanya kalau mau membuat laporan tentang korban atas nama Tri, karena kami sekeluarga sudah datang." Ucap Sani bermaksud untuk mencari tahu.
"Oh ia, silahkan untuk datang ke ruangan di sana. Karena jenazah korban baru saja selesai dimandikan." Jawab perawat itu terdengar tanpa ragu.
Andre langsung mematung mendengarnya begitupun Sani karena dia yang baru saja bertanya pada perawat itu.
Hingga perawat sudah pergi dari hadapan Andre dan Sani. Tapi sampai detik itu juga Andre tak bisa mencerna sebuah kabar yang baru saja didengarnya, dia tak mengerti mengapa perawat itu mengatakan jenazah?
Alhasil Andre hanya menatap Sani bingung, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Dalam hati jelas saja Andre tak bisa menerima kabar buruk yang bagaikan kebohongan untuknya. Dia pikir sudah salah bertanya kan?
Saat berjalan kembali menuju Bu Ratih dan Istri Pak Dean, Andre kembali menghentikan langkahnya dan menarik lengan Sani. Andre bermaksud untuk langsung bertanya pada petugasnya langsung.