Dunia Mu

Dunia Mu
Kenyataan pahit


__ADS_3

"Tiba-tiba aku teringat dengan Pak Dean, bagaimana jika kita pergi ke sana?" Sani mengucapkannya dengan datar seolah tidak ada rasa kapok maupun takut yang dia perlihatkan.


Andre tertegun mendengarnya, dia tidak langsung bicara membalas perkataan Sani.


"Kita pergi kesana bagaimana?" Semangatnya Sani mengatakan itu, Andre pikir Sani tak akan pernah berniat lagi pergi ke sana jika dia masih ingat setiap kejadian sulit yang sudah menimpanya. Harusnya memang seperti itu.


"Andre!" Rengek Sani karena tak mendapatkan jawaban juga.


Andre menghela napas gelisah. "Kau tidak takut pergi ke sana?" Tanpa basa-basi Andre langsung bertanya pada intinya.


"Takut? Tapi bukan itu masalahnya." Jawab Sani.


Mendengar jawaban Sani langsung membuat Andre heran, dia sedikit merasa janggal dan yakin ada sesuatu yang disembunyikan Sani.


Andre ingin memastikan tebakannya itu, dia berbalik menatap Sani yang diam melamun. Dari sekejap saja Andre sudah bisa menebaknya jika Sani memang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kita akan ambil jalan mana?" Andre tak menyangka jika kata-kata itu terpaksa keluar dari mulutnya juga, dia tidak tahu dan tidak bisa mengabaikan sesuatu yang dilakukan Sani.


Dengan sumringah Sani menyambut pernyataan yang sepertinya sudah ingin dia dengar dari tadi. "Kita pergi ke jalan yang sama saja." Cetus Sani.


Andre tak memerlukan penjelasan apapun karena dia sudah bisa menebak jalanan mana yang dimaksud Sani. Tentu saja jalanan sebelumnya yang melewati hutan belantara itu. Hatinya semakin ragu dan sangat kuat ingin menolak. Tapi sebagian lagi dia merasa janggal juga, Andre ingin tahu apa yang dilamunkan Sani.

__ADS_1


"Kita akan memberikan kabar ke orang-orang rumah." Ucap Andre memperingatkan, maksudnya dia menyuruh Sani untuk meminta izin pada ayahnya atau pada Bapak penjaga rumah.


"Kita telpon saja nanti kalau sudah sampai." Jawab Sani singkat. Sebuah perkataan yang tidak tampak dia khawatir, harusnya Sani tidak bersikap cuek seperti itu kan bagaimanapun dia masih memiliki seorang Ayah yang harusnya snagat


mengkhawatirkan dia.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu?" Andre tak ingin mengabaikan perasaan cemasnya.


"Tenang saja, lagian Ayah gak bakalan nyari kok. Gak bakalan!" Tegas Sani jika dilihat lagi dia sangat yakin dan tampak sudah terbiasa mungkin, Sani tampak tak memiliki masalah dengan hal itu.


"Baiklah." Ucap Andre singkat.


Jika diingat-ingat lagi sebenarnya dia juga ingin pergi menemui Pak Dean, bukan hanya karena penglihatannya tapi juga mimpi yang sudah datang saat malam. Tentang Pak Dean Andre berharap banyak jika tidak akan terjadi suatu apapun itu.


Andre menatap jam tangannya, seharusnya jika dalam perhitungan dia akan sampai ke rumah Pak Dean sebelum Maghrib. Tapi sebagai jaga-jaga Andre harus membawa mobil sedikit ngebut dia tidak tahu apa yang akan terjadi di tengah hutan belantara itu. Jika kembali membayangkan kalutnya suasana sebelumnya tentu saja dia merasa sangat ketakutan.


Saat mobil berbelok entah mengapa ada banyak polisi yang berjaga di depan gapura jalanan. Andre sangat bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang tak biasa.


Mobil yang dia bawa juga dihentikan oleh salah satu petugas polisi itu, seperti ditanyai tujuan dan diminta tanda pengenal. Dan yang membuatnya mulai gelisah saat salah seorang polisi menyebutkan ada sebuah kecelakaan diperlintasan jalan jauh di dalam hutan.


Setelah mendengarkan penjelasan itu, Andre memang tak ada pilihan lain apalagi ketika melihat ke arah Sani yang tak berniat untuk menghentikan perjalanan. Semakin bingung saja. Namun di sisi lain dia langsung ingat dengan Pak Dean, hatinya yang mulai menerka-nerka kabar buruk tadi, membayangkan bagaimana jika itu adalah kejadian yang menimpa pak Dean?

__ADS_1


Suasana di dalam mobil semakin hening. Andre yang terus fokus pada jalanan dan memegang kemudi mobil. Tumben sekali Sani menjadi diam seribu bahasa, mata Andre hanya bisa sedikit mencuri pandangan ke arah Sani tapi dia tidak berani untuk bertanya apapun meski niat dalam hatinya sangat ingin.


Selama perjalanan masih belum nampak sesuatu seperti yang dibicarakan oleh polisi tadi, entah pada lintasan ke berapa tapi Andre juga penasaran.


Andre tak tahan dan tak nyaman karena suasana yang mencekam baginya, dia tidak ingin jika tiba-tiba saja terjadi sesuatu.


Untuk inisiatif Andre menyalakan musik pelan di dalam mobil, Sani juga tampak tidak mempermasalahkannya juga setidaknya cukup mengisi suasana yang begitu hening.


Saat mulai sedikit tenang, Andre masih tetap fokus dan sekarang dalam jarak berapa meter dari mobilnya dia mulai melihat kerumunan orang. Andre juga harus menghentikan laju mobilnya saat itu, mengikuti arahan salah seorang petugas agar melajukan mobil dengan pelan.


Hatinya semakin tak menentu, irama jantung seolah berlomba berdegup begitu kencang. Andre terlihat syok ketika melihat barisan polisi dan warga di sana. Dan ketika beberapa meter perjalanan kedua matanya terbelalak melihat mobil yang dia lalui itu bukanlah mobil asing, melainkan mobil milik Pak Dean.


Andre langsung menginjak rem dengan cepat hingga mobil terhenti. Dia tampak mengatur napasnya lagi, mengatur emosinya saat itu. Matanya melihat ke arah Sani dan tampak lebih mencengangkan karena kedua mata Sani sudah basah oleh air mata yang terus terurai. Andre ingin bertanya tapi tidak mungkin.


Satu-satunya jalan hanya turun dan memastikan, ketika Andre bersiap membuka sabuk pengaman namun tiba-tiba tangan Sani menghentikannya. Sani menggelengkan kepala bertindak seperti itu semakin membuat dia bertanya-tanya.


Sani dengan suaranya yang parau meminta untuk melanjutkan jalan, tapi bukan ke tempat yang mereka tuju dari awal melainkan putar arah kembali untuk pulang.


Andre semakin syok karena Sani terus menangis saat itu. Dengan perasaan yang cemas Andre hanya bisa pasrah dan diam saja dengan ketidaktahuannya, dia membuat mobilnya kembali putar arah untuk pulang. Sejauh ini Andre tidak berniat untuk bertanya pada Sani, hanya sampai Sani benar-benar sudah bisa diam.


Di tengah perjalanan Andre mulai berpikir jika mobil itu benar milik Pak Dean, apakah Pak Dean mengalami sebuah kecelakaan?

__ADS_1


Andre baru sadar mengapa baru detik ini dia menyadari hal itu. Saat melihat Sani yang hanya tampak sesenggukan nya saja, Sepertinya hal itu sudah memberikan Andre jawaban pasti dengan tebakannya itu bahwa memang benar Pak Dean mengalami kecelakaan mobil di perlintasan itu, untuk kejadiannya Andre tidak tahu. Jika bukan pagi tadi mungkin kemarin, itu artinya setelah keluarga Pak Dean berhasil mengantarnya pulang kan?


Tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya, mengingat kenyataan itu membuat Andre langsung lemah. Dia tidak melanjutkan perjalanan melainkan memarkirkan mobil di pinggir jalan setelah melewati gapura masuk jalanan tadi.


__ADS_2