
Pemandangan di luar rumah sakit masih terlihat seperti biasa, kesibukannya, dan para petugas yang keluar masuk ruangan. Sekilas Andre melihat semuanya baik-baik saja tidak ada kesan seperti kemarin.
Andre memasuki rumah sakit dengan Pak Tarman yang ada di sampingnya.
"Mohon maaf pak jam besuknya masih 30 menit lagi." Seorang petugas berseragam menghampiri.
Andre terdiam dan melihat ke papan pengumuman yang menempel di dinding sepanjang pintu masuk di koridor itu. "Ternyata dimajukan 30 menit." Batin Andre.
"Silahkan Bapak-bapak untuk menunggu di luar!" Petugas itu masih memperingatkan dengan ramah.
"Kami ke sini dari jauh, memangnya ada hal yang serius sampai harus menunggu lagi?" Timpal Pak Tarman terlihat tidak bisa menerima saran dari petugas rumah sakit yang umumnya kita harus tahu diri.
"Bukan begitu pak itu sudah prosedur dari rumah sakit. Tolong Bapak sekiranya bisa mengerti." Jawab Petugas itu berusaha mempertahankan tugasnya.
"Ah aturan apa itu saya baru denger." Pak Tarman masih menyangkal dan bersikap sombong. Dia bahkan tak memperdulikan petugas itu yang tengah berusaha menjalankan tugasnya.
Andre mematung berdiri di belakang Pak Tarman, selain malu dia yang tidak memiliki sifat seperti Pak Tarman merasa sangat tidak enak apalagi saat petugas yang lain ikut menatap ke arahnya dengan tatapan yang sinis.
"Pak, kita keluar sekarang Pak!" Ajak Andre menarik lengan Pak Tarman. Meski terkesan lancang tapi Andre terpaksa melakukannya.
"Nak Andre ini kenapa sih, kan kita ingin segera menjenguk keluarga di sini. Kok sekarang malah nurutin mereka." Protes Pak Tarman.
Tentu saja mendengarkan penuturan kata dari orang yang lebih tua darinya membuat mental Andre sedikit turun, dia tidak bisa melawan tapi dia juga tidak ingin hanya diam saja menjadi tontonan semua orang.
"Pak!" Seru Andre sambil berusaha memberikan isyarat, menggerakkan bola matanya dan kepalanya ke sisi kanan dan kiri.
Spontan Pak Tarman membalikkan wajah dan langsung menerima tatapan dari orang-orang yang membuat hatinya semakin tidak nyaman. "Rumah sakit kalau gak ada yang bermasalah dengan pelayanan pasti gak bakalan asal larang aja, kan kalau semuanya baik-baik saja gak bakal tuh larang keluarga pasien yang datang di luar jam yang ditentukan, mereka pikir apa? Kita ingin membuat masalah? Padahal jelas dengan seperti itu menunjukkan rumah sakitnya yang bermasalah." Cetus Pak Tarman bahkan dengan nada berani dan membuat semua orang sengaja mendengarkan kata-kata yang dilontarkannya.
"Pergi sekarang gak guna!" Seolah berteriak, Pak Tarman mengajak Andre yang saat itu semakin menundukkan wajahnya, pergi dengan tegak menantang setiap pasang mata yang melihat ke arahnya.
"Pak! Tunggu Pak!" Teriak seseorang seperti bertujuan pada Pak Tarman dan Andre yang saat itu sedang berjalan.
__ADS_1
"Pak kita bicarakan di ruangan, silahkan!" Ucap seorang petugas lain tepat berhenti di hadapan Pak Tarman yang sengaja melambatkan langkah kakinya itu.
Mendengarkan seseorang yang menghadangnya Andre langsung mengangkat wajah memastikan dengan penglihatannya itu, siapa yang datang? Tentu saja dia tidak tahu.
Andre memastikan jika sekarang petugas yang lain kembali larut dalam kesibukannya masing-masing tidak lagi membuatnya sebagai pusat perhatian seperti tadi. Akhirnya Andre bisa bernapas lega.
"Pak ruangan saya ada di sana, silahkan!" Petugas itu seperti terburu-buru ingin membawa Pak Tarman dan Andre ke dalam satu ruangan di rumah sakit itu. Andre hanya mengikuti dari belakang.
"Sebelumnya mohon maaf karena karyawan baru kami tadi melarang Bapak, mohon maklum mungkin petugas tadi tidak tahu seberapa pentingnya Bapak ingin menemui keluarganya di sini." Ucap lelaki uang jika dilihat dari penampilannya masih muda dan mungkin hanya sekitar 1 atau 2 tahun lebih tua dari Andre.
"Saya kesel Pak, padahal saya benar-benar datang dengan urusan yang mendadak dan penting. Tolong jangan sampai ada yang seperti itu lagi!" Komentar Pak Tarman.
"Baik Pak, saya akan memperbaikinya. Sekarang ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya lagi dan masih bersikap santun seperti tadi.
"Oh ini, perkenalkan ini Nak Andre dia yang ada urusan sebenarnya dan saya hanya mengantarnya kesini." Jawab Pak Tarman sambil memperkenalkan Andre.
"Silahkan Pak biar saya bantu segera, sebutkan saja apa yang Bapak butuhkan ?"
"Ini Pak, Nak Andre mau memindahkan temannya dari rumah sakit ini kebetulan keluarganya sudah ditemukan." Jelas Pak Tarman mendahului Andre.
Dari penjelasan yang didengar membuat Andre melotot dan fokus melihat ke arah Pak Tarman, jelas saja Pak Tarman sedikit berbohong karena sampai sekarang keluarga dari Sani masih tidak ada yang menghubungi.
"Silahkan Bapak bisa isi formulir ini berikut data diri pasien dan keluarga biar saya cek lagi datanya." Terang petugas itu menyerahkan dua lembar kertas kepada Andre.
Andre mematung melihat dua lembar kertas di hadapannya, bahkan ketika dia ingin mengambil kertas itu tangannya sangat ragu.
"Biar saya baca dulu!" Timpal Pak Tarman mendahului lagi, mengambil dua lembar kertas di atas meja sebelum Andre. Sedangkan Andre hanya bisa melihat tanpa mengatakan apapun, dia tidak bisa melakukan apapun bahkan keberanian pun dia tidak punya. Entah ala yang akan dilakukan Pak Tarman, apakah itu akan membuatnya dalam masalah?
Lamanya Andre berpikir untuk mencerna dengan pasti maksud dari tindakan Pak Tarman.
"Apakah Pak Tarman juga bermaksud untuk berbohong lagi mengenai data dan yang lainnya?" Batin Andre, hatinya seperti terhenyak sekaligus. Dia tidak bisa meneruskan kebohongan Pak Tarman dan harus cepat mengakhirinya, karena selain itu penting untuk kelanjutan Sani dan juga semua atas pertanggungjawaban namanya yang dipertaruhkan.
__ADS_1
"Pak boleh saya baca juga!" Ucap Andre memberanikan diri kepada Pak Tarman yang saat itu masih sibuk membaca setiap tulisan yang tertera di atas kertas.
"Emmm." Pak Tarman hanya sekilas menatap Andre tanpa mengatakan apapun, seolah itu berarti dia tidak ingin memberikan kesempatan pada Andre sedikitpun.
"Saya akan isi segera di luar!" Ucap Pak Tarman pada petugas itu yang membuat Andre semakin tak percaya.
"Secepatnya pak dan kalau bisa bisa diisi sekarang di sini!" Petugas itu tetap menyarankan agar diisi di ruangan.
Pak Tarman terlihat menatap petugas, kali ini karena tahu dengan sifat asli Pak Tarman membuat Andre semakin jantungan saja dan dari setiap tindakannya Andre mulai sedikit bisa menebak apa yang akan dilakukan Pak Tarman pasti berujung tidak benar.
"Saya akan isi sekarang Pak!" Ucap Andre masih berusaha memaksa Pak Tarman agar menyerahkan kertas itu padanya.
Tok...tok...tok...
"Selamat pagi saya dari kepolisian ingin bertemu dengan direktur rumah sakit di sini terkait dengan kasus penyelidikan karyawan yang diduga bunuh diri " Tanpa basa-basi kedua orang polisi masuk dan seperti tak menghiraukan keberadaan Andre DNA Pak Tarman, menjelaskan di depan mereka berdua dengan maksud dan tujuannya.
Andre seperti menemukan satu keberuntungan yang sejak awal itu adalah tujuan pastinya. Tentu saja ingin pergi ke tempat Anis dan menyelesaikan semuanya.
Andre tersenyum mendengarkan penuturan petugas.
"Silahkan Pak saya akan tunjukkan ruangannya!" Petugas itu terus menatap ke arah Pak Tarman dan Andre, terburu-buru mengajak polisi untum mengikutinya seperti sengaja tidak ingin membahas kasus itu di hadapan Andre dan Pak Tarman.
Sekarang sudah jelas dan jalan untuk pergi ke sana sudah Andre temukan, Tingg dia harus berani dan menyatakan sebagai saksi atau orang yang langsung berkomunikasi dengan korban sebelum kejadian.
Andre melangkahkan kakinya.
"Nak Andre mah kemana?" Tanya Pak Tarman dan menahan lengan Andre.
"Bapak lebih mengerti semuanya, saya akan pergi dulu sebentar pak!" Jawab Andre.
Tanpa disangka Pak Tarman membiarkan Andre pergi keluar dari pintu.
__ADS_1