
Tatapan Andre tertahan, kedua matanya membulat dan mulut yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia sangat tahu betul dimana dirinya sekarang, mungkin dia sudah melintasi waktu lain lagi dan kejadian di kampus terulang lagi. Seingat Andre hanya Sani beberapa kali yang berhasil membawanya pulang, itu artinya dia harus berusaha mencari Sani di bagian dunia lain.
Beruntung Andre cepat menyimpulkan apa yang harus dia lakukan saat itu juga. Andre berdiri dan seluruh tatapannya masih mengabsen setiap inci kegelapan yang menyelimuti suasana di sekeliling. Tapi tidak apa-apa selagi dia masih bisa berjalan itu sudah cukup bagi Andre untuk memulai perjalanannya.
Perasaan gelisah nya memang tidak bisa ditolak lagi, ketakutan terbesarnya saat itu hanya dia tak ingin jika terjebak seterusnya di antara waktu dan dimensi yang berbeda seperti sekarang.
Kalut, Andre merasa kedua kakinya gemetar saat berjalan yang tampak di setiap pandangannya sesosok wanita berambut panjang dengan gaun, tampak rambutnya sangat panjang hingga saat Andre melihat ke bagian kakinya rambut itu terjuntai bahkan terinjak oleh kakinya. Syok setelah menyadarinya Andre langsung terdiam mematung, sekarang tidak ada waktu baginya untuk terus berdiam lama di tempat ini, tapi tidak ada siapapun yang akan menolongnya juga kan.
"Kalahkan rasa takutmu Nak Andre dan cepatlah kembali." Suara. Andre jelas mendengar suara itu menusuk di telinganya hingga dia terus mencari dari mana arah sumber suaranya. Naas Andre tak mendapatkan apapun selain sosok itu yang masih terdiam di hadapannya.
Jika dihitung mungkin keringat dingin sudah membuat kulit tubuhnya sedikit menggigil. Bukan makhluk biasa, hatinya mengatakan itulah sosok yang mengambil nyawa ibunya. Keyakinan itu datang jika sosok itu benar yang sedang ada di hadapannya sekarang.
Andre tidak tahu apakah ketakutannya sampai sebesar ini, sampai dia tidak tahu bagaimana caranya untuk melawan dan melupakan sosok itu.
Tidak ada perubahan tubuhnya tetap mematung, Andre tidak bisa mengendalikan bayangan yang paling dia takuti di masalalu sampai sekarang, bahkan sekarang Andre berpikir akan menyerah kenyataannya dia tidak bisa melupakan sosok itu.
Andre memejamkan mata dalam hati yang terus memohon agar suatu pertolongan menyambutnya hangat, setidaknya dia ingin hidup untuk Ibunya. Dia harus tetap hidup untuk neneknya dan dia harus bisa hidup normal.
Keyakinan hati yang sangat besar membuat Andre bisa bertahan meski setelah dia kembali melihat sosok di masalalu, tak lain itu adalah Ayahnya. Dia harus melihat Ayahnya yang hidup dengan mudah dan bahagia di atas semua yang sudah terjadi. Sampai rasanya semakin diingat lagi perasaan benci Andre semakin nyata, Andre semakin melihat tujuannya sekarang apa, dia hidup untuk apa, tak lain untuk melihat Ayahnya sengsara dan mendapatkan apa yang semestinya dan sepantasnya.
"Nak Andre!"
"Nak Andre!"
__ADS_1
Beberapa kali sebuah tepukan Andre rasakan. Dalam hitungan detik dia terperanjat bangun. Penglihatannya langsung pada Pak Arman yang entah mengapa begitu ngos-ngosan, keringat bercucuran seolah sudah melakukan suatu pekerjaan berat.
Andre mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
"Bapak tidak kuat lagi, sepertinya kamu lebih baik seperti biasanya. Terlalu beresiko." Ucapnya di tengah napas yang tidak lancar.
"Maksud Bapak?" Andre sempat bertanya spontan namun tidak mendapatkan jawaban.
"Kamu sudah berapa kali kehilangan kendali seperti tadi?" Tanya Pak Arman langsung membuat Andre tertarik dengan pertanyaan itu.
"Saya sering, dan apa tadi suara Bapak?" Andre menanyakan tentang suara yang dia dengar di alam bawah sadarnya.
Andre mengalihkan penglihatannya dan memastikan ke sekeliling tempatnya dan Pak Arman berbincang.
"Sering? Astaga itu tidak baik. Sebaiknya Bapak tarik kembali semua yang bapak tanam di tubuh Nak Andre, rupanya menutupi penglihatan Nak Andre hanya berefek tidak baik." Tutur kata Pak Arman memberikan sebuah pernyataan yang langsung membuat Andre syok.
"Apa setelah saya kembali seperti biasa kejadian itu tidak akan terulang lagi Pak?" Andre langsung menyerbu Pak Arman dengan pertanyaannya, dia sangat cemas dan entah mengapa langsung berpikiran buruk jika dia tidak bisa kembali lagi dari dunia lain.
"Bagaimana Pak?" Masih tak sabar Andre terus bertanya.
Kesal dalam hati dia ingin menyalahkan namun melihat niat baik Pak Arman dia tidak bisa menutup mata. Mungkin itu kesalahan, Pak Arman juga mungkin tidak tahu.
"Bapak benar-benar tidak tahu. Jika kejadiannya akan seperti itu pada Nak Andre. Biasanya tidak akan terjadi apa-apa." Ucapnya beberapa kali menjelaskan.
Andre diam saja tapi dalam hati dia berharap jika semua akan baik-baik saja setidaknya dia tidak ingin kejadian tadi terulang lagi.
__ADS_1
"Nak Andre sudah siap?" Tiba-tiba Pak Arman memberikan sebuah Aba-aba.
Andre langsung menoleh kaget. "Maksudnya, Pak?" Tanya Andre namun telat. Karena sekarang dalam hitungan detik kemampuan itu kembali lagi padanya. Andre merasa ada sesuatu yang sudah keluar dari tubuhnya dan ada sesuatu yang lain masuk lagi.
Saat melihat ke sekeliling Andre tidak melihat apapun, persis seperti yang dia rasakan sebelumnya. Pada malam hari kemampuannya itu menghilang dan pada siang hari kemampuannya itu datang.
Andre tertegun beberapa saat hanya bisa diam dan tak perlu bertanya lagi pada Pak Arman.
"Hanya Nenek Nak Andre yang bisa menghapus ilmu turun temurun itu, sepertinya Bapak tidak bisa. Bapak tidak tahu jika malah pintu yang lain terbuka jika sudah melakukan usaha seperti tadi." Pak Arman menjelaskan.
Andre diam tapi hatinya langsung mempertimbangkan perkataan Pak Arman. Benar saja siapa yang bisa hidup normal dengan kemampuan seperti itu di zaman sekarang.
"Nak Andre harus mempertimbangkan perkataan saya tadi mulai dari sekarang." Ucap Pak Arman seperti sedang ingin menyudahi obrolan diantara mereka.
"Sebaiknya kalian tidak bertemu lagi. Dan Bapak juga tidak yakin entah besok atau. lusa masih bisa bertemu dengan kalian lagi." Ucap Pak Arman.
"Memangnya Bapak mau kemana?" Terkejutnya Andre mendengarkan pernyataan itu. Seolah Pak Arman akan pergi dan tidak akan kembali lagi.
"Entahlah, Bapak merasa seperti itu." Terangnya dan nampak murung.
"Sani bagaimana Pak? Apa Bapak mau menyudahi usaha Bapak setelah sekian lamanya itu?" Andre mengingatkan tujuan yang dikatakan Pak Arman tadi.
"Tidak mungkin Ayahnya sendiri akan mengorbankan Anaknya. Semoga saja seperti itu." Pak Arman menjawabnya dengan nada pasrah.
Andre tercengang, dia mendapatkan kesimpulan lagi jika saja ayahnya Sani benar-benar berbahaya bahkan bagi Sani sendiri. Entah praktik apa yang dilakukan tapi pastinya hidup Sani pun tidak bisa dipastikan masih aman. Apakah suatu saat nanti dia harus membawa Sani pulang ke kampung halamannya saja? Apakah Sani tak akan keberatan?
__ADS_1
Tanpa sadar Andre memikirkan hidup Sani, rasa peduli itu dengan begitu saja muncul.