Dunia Mu

Dunia Mu
Sosok perempuan dan Bu Ratih


__ADS_3

"Bener juga ya Bu, kok aku gak sampai kepikiran kesana." Jawab Pak Dean. "Yasudah sekarang kita coba tanya sama orang kalau rumah sakit terdekat di sini ke arah mana!" Seru Pak Dean.


"Biar aku aja Pak yang tanya, Bu Ratih bisa tolong bantu kan!" Ucap Andre pada semua orang.


"Boleh Nak Andre, tapi Neng Sani ini gimana?" Tanya Bu Ratih.


"Neng Sani sama saya aja dulu Bu, biar saya yang jaga gantian ke situ." Ucap istrinya Pak Dean yang sudah siap gantian jaga Sani di jok belakang.


"Bu! Biar aku saja yang tanya warga nah Nak Andre sama semuanya tunggu aja di mobil." Pak Dean malah berinisiatif untuk menawarkan diri.


"Udah biar saya saja, Bapak sama Ibu di sini dulu aja! Ayo Bu." Andre masih bersikeras untuk pergi dengan Bu Ratih. Bagi Bu Ratih rasanya tidak terlalu keberatan juga.


"Ia Pak Dean udah tunggu aja sama Ibu!" Ucap Bu Ratih yang sudah bersiap pergi dengan Andre.


"Pokoknya hati-hati ya!" Ucap Pak Dean.


Andre pamit segera dengan Bu Ratih.


Awalnya Andre dan Bu Ratih hanya saling diam, tidak ada yang bicara. Padahal Bu Ratih yang biasanya suka mengajak bicara tidak seperti biasanya.


"Bu!" Panggil Andre dengan ragu-ragu.


"Kenapa Nak Andre?" Tanya Bu Ratih dengan nada bicara yang seperti biasanya.


"Andre sebenarnya mau bicara dari tadi, tapi Andre takut salah dan malah buat Ibu tersinggung."


"Gimana Nak Andre? Mau bicara soal apa ya?" Tanya Bu Ratih, semakin lama Bu Ratih tampak canggung.

__ADS_1


"Ibu lihat perempuan yang di mobil kan?" Tanpa basa-basi Andre langsung berbicara tentang intinya pada Bu Ratih.


Entah apa yang salah dengan pertanyaan Andre, setelah maksud pembicaraan sudah dia katakan seketika Bu Ratih langsung terdiam seribu bahasa.


"Bu, soal itu maaf. Andre sebenarnya bisa lihat mereka. Andre hanya ingin tahu saja." Ucap Andre sekali lagi bermaksud tak ingin membuat Bu Ratih takut ataupun tersinggung karena pertanyaannya.


"Apakah roh perempuan itu sudah membuat masalah?" Tanya Bu Ratih.


Andre tertegun mendengarkan pertanyaan Bu Ratih, dia hanya bisa menduga jika Bu Ratih sudah tahu kejadian yang sudah menimpanya.


"Ibu minta maaf, Ibu tidak bisa mengatakan pada siapapun. Tapi sebaiknya sekarang kita bawa Neng Sani ke ustad saja, Ibu takut sekali." Bu Ratih sudah mengubah topik pembicaraannya lagi.


"Itu ada warga, kita tanya sekarang!" Sejak Andre mengatakannya tiba-tiba perilaku Bu Ratih langsung berubah, dia terlihat ketakutan dan benar-benar ingin segera membawa Sani pada ustad.


"Nak Andre! Ayo kita segera pergi ke Pak Dean. Ibu sudah tahu rumah Pak ustad, beruntung sekali tidak begitu jauh." Ucap Bu Ratih dengan semangat dari kejauhan sudah berbicara tentang sesuatu yang mereka cari.


Namun saat Bu Ratih mendekat sontak mata Andre membulat seketika, kehadiran roh perempuan itu tiba-tiba muncul lagi di depan mata Bu Ratih dan Andre. Entah apa tujuannya, sekilas melihatnya setelah beberapa kali pun Andre masih merasakan sesuatu yang tidak begitu baik karena firasatnya selalu buruk.


"Tolong! Pergi! Jangan ganggu mereka!" Teriak Bu Ratih dengan nada gemetar karena takut.


Tak mengindahkan perkataan Bu Ratih tiba-tiba sosok roh itu berbalik memperlihatkan lekuk wajahnya yang begitu dekat tak berjarak di hadapan wajah Andre.


Andre tak pernah berpikir jika roh perempuan itu bisa langsung mendekat kearahnya dengan menakutkan. Andre tak sanggup mengucapkan apapun, kedua kakinya gemetar, jantung yang tiba-tiba berpacu dengan perasaan takut yang semakin lama membuat dadanya kian panas. Andre tak mengerti mengapa dia yang diincar oleh roh itu?


Wajah perempuan yang hampir seluruh kulitnya melepuh putih, jarak sedekat itu Andre bisa tahu detail lubang-lubang kecil yang tersebar di semua permukaan, dari dalam sana ada sesuatu yang menggeliat membuat mata Andre terbelalak karena tak percaya sekali dia bisa melihat setan dalam sedekat ini. Entah apa yang terjadi selanjutnya, Andre merasa pendengarannya berdenging hingga dia tak mengerti pandangannya juga perlahan kabur memudar.


Bu Ratih yang panik karena ketakutan tak bisa melakukan apapun ketika tubuh Andre tiba-tiba ambruk di hadapannya. Sampai Bu Ratih berteriak, dia benar-benar panik dan tak bisa berpikir apapun dalam kecemasan yang membuatnya hanya bisa mematung.

__ADS_1


Tak berselang lama Bu Ratih segera memastikan ke arah mobil Pak Dean yang terparkir tidak begitu jauh. Tanpa pikir panjang lagi Bu Ratih segera berlari berniat untuk memberitahukan pada Pak Dean tentang Andre.


Sebelum berhasil sampai ke dekat mobil kebetulan sekali Pak Dean tampak turun dari mobil membuka pintu.


Pak Dean cukup tegas memperlihatkan wajahnya yang bingung karena Bu Ratih berlari was-was ke arahnya.


"Nak Andree! Di sana!" Ucap Bu Ratih dengan napas yang putus-putus.


Pak Dean langsung menanggapinya dan berbalik melihat ke arah yang ditunjukkan Bu Ratih. Betapa kagetnya karena dia melihat tubuh Andre yang tergeletak di atas tanah.


Tanpa sebuah instruksi dan permintaan dari Bu Ratih, secepatnya Pak Dean melangkahkan kaki berlari memburu Andre yang membuatnya cemas.


"Andre!" Ucap Pak Dean cemas. Dia segera membawa Andre ke mobil.


Semua orang benar-benar sedang panik, sekarang rasa panik itu bertambah lagi karena Andre dalam keadaan pingsan. Entah apa yang terjadi Bu Ratih tak mungkin ditanyai sebabnya dalam keadaan yang begitu panik.


"Loh Pak! Nak Andre?" Istri Pak Dean langsung berbicara tentang kepanikannya. Pak Dean tak banyak bicara dia segera menyandarkan tubuh Andre.


"Kenapa lagi Pak?" Tak berhenti dengan pertanyaan tadi, Pak Dean masih ditanyai oleh istrinya.


"Bu Ratih?" Istri Pak Dean semakin tak mengerti apalagi ketika Bu Ratih yang muncul sambil menangis.


"Semua masuk sekarang!" Perintah Pak Dean pada semuanya.


Bu Ratih dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil, dia masih tidak bisa mengatakan apapun bahkan tak banyak bertanya saat Pak Dean langsung meminta semuanya untuk masuk mobil.


Tak lama mobil kembali melaju.

__ADS_1


"Harusnya ada rumah sakit setelah belokan di sana." Terang Pak Dean pada semuanya, meski tak ada satupun orang yang menanggapi, orang-orang sepenuhnya panik dan tak tahu apa yang akan dikatakan atau apapun yang harus dilakukan.


Tak lama seperti apa yang dikatakan Pak Dean, tampak sebuah gerbang rumah sakit yang ada di sebelah kiri jalan. Beruntung sekali karena tidak perlu menunggu waktu untuk menemukan rumah sakit di tempat yang bahkan tak ada satupun orang dalam mobil yang tahu, kecuali Pak Dean dengan usahanya mencari rumah sakit dalam bantuan browsing internet.


__ADS_2