
Andre langsung gugup saat Pak Tarman menyebutkan tentang polisi itu. Akhirnya masalah yang dia tutupi tanpa diharapkan terbongkar juga dan menjadi kesalahan pahaman.
"Sekarang kamu katakan! Untuk apa panggil polisi dan masalah yang kalian bahas?" Sengit Pak Tarman yang tidak bisa menahan diri.
Di sisi lain Sani membuat masalah baru, dia merengek ingin segera pulang, memangnya terdengar gampang seperti itu ya?
Andre terdiam menghadapi masalah yang bertubi-tubi seperti ini.
"Cukup Tarman, kita bicarakan baik-baik di luar jangan seperti itu." Cegah Pak Rais karena cukup kasihan melihat Andre yang menatap bingung dari tadi.
"Pak, polisi itu tidak ada kaitannya dengan kasus di rumah sakit dengan kasus Sri. Saya tidak membicarakan masalah itu dengan polisi." Jelas Andre dia juga tak tahan sepertinya jika terus diam saja.
"Memangnya kamu bisa bohongi saya?" Pak Tarman masih tidak menurunkan nada bicaranya.
"Pak! Saya tidak mungkin berani mengadukan masalah yang sebetulnya bukan masalah saya. Untuk apa?"
Penjelasan Andre sepertinya tidak cukup meredam emosi Pak Tarman.
Tiba-tiba Tri muncul diantara ke empat orang.
"Tri! Aku tidak membicarakan masalah adik mu, mana mungkin aku lakukan. Itu hanya masalah ku saja." Andre masih berusaha terus menjelaskan.
Pak Tarman melihat ke arah Tri yang masih menunduk dan kembali memperhatikan Andre, lalu menarik napas dalam. "Saya ingin sekali percaya perkataan itu. Tapi Maslaah apa sebenarnya yang kamu bicarakan dengan polisi?" Tanya Pak Tarman nampak serius ingin tahu.
__ADS_1
"Saya mempunyai masalah lain, tapi nanti saya akan bicarakan jika penyelidikannya sudah selesai." Terang Andre.
"Penyelidikan? Bagaimana bisa? Aku gak bisa nunggu selama itu, pokoknya kita pulang sekarang!" Serang Sani nampak memang tak sabar.
Andre menggelengkan kepala. "Masalahnya harus selesai dan besok pagi aku harus kembali ke kantor polisi!" Tekad Andre.
"Masalah apanya? Sekarang kamu sudah bilang masalah lain lagi, dengan ku gimana? Masalahnya belum selesai kan!" Sani memperingatkan Andre tentang masalah kematian Ira itu dan juga memang seharusnya dia tanggung jawab untuk mengantar Sani pulang kembali secepatnya.
"Sekali ini saja, tolong! Masalah ini juga penting." Andre sangat kekeh membicarakan masalah di hadapan semua orang, dan orang-orang selain dirinya tidak ada yang mengerti masalah apa yang coba dia kerjakan dengan polisi itu.
"Masalah apa yang coba kamu sembunyikan itu? Sekarang jelaskan pada kami semua!" Pak Rais mewakili orang-orang di hadapan Andre yang mungkin memiliki harapan sama.
Andre menundukkan wajah, bukan saatnya lagi memang untuk menutupi masalah yang tidak ada habisnya itu.
******
Malam semakin dingin entah hari ke berapa lagi dia sudah tinggal di tempat orang asing yang kebetulan baik. Beruntung rasanya.
Andre tidak tidur di kamar sebelumnya, karena kamar itu sudah menjadi tempat tidur Sani yang beristirahat di sana, dia kini tidur di ruang tamu dekat dengan kamar Tri dan Nenek sepuh, sebetulnya Andre juga bisa tidur di ruangan dekat dengan dapur. Pak Rais memutuskan tidur di rumahnya tidak menginap lagi.
Setelah kejadian sebelumnya saat Sani kerasukan dia juga mengalami imbas dari masalahnya. Entah ada serangan ghaib dari mana hingga membuat Andre sekarang harus merasa sakit di sekujur tubuhnya, dan juga kalung itu dia sudah tidak memilikinya lagi.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Pak Tarman yang tiba-tiba datang dari arah dapur.
__ADS_1
Andre menggelengkan kepala rasanya tidak sanggup menjawab karena merasa sakit di sebelah kepalanya. Andre diam saja.
"Mau tidur di kontrakan? Bapa juga tidur di sana." Ucap Pak Tarman mungkin maksudnya ingin mengajak Andre ke kontrakan rumah di sebelah rumah Tri ini.
"Saya di sini saja Pak." Ucap Andre mendongak melihat ke arah Pak Tarman. Tapi dia langsung terdiam begitu saja, nadinya terasa langsung berhenti saat melihat nenek-nenek yang biasa Andre lihat di luar menggelayut di tubuh Pak Tarman.
"Sudah lah sekarang kita pergi ke kontrakan saja, bapa juga gak enak badan seperti ini." Ucap Pak Tarman yang berharap besar agar Andre segera menurut.
Bagaimana bisa dia pergi dengan Pak Tarman? Sosok menyeramkan yang menempel di tubuh Pak Tarman tidak bisa membuat dia tenang.
"Cepatlah Nak Andre kita pergi!" Ajak lagi Pak Tarman.
Andre diam tidak bisa langsung menjawab. "Baik Pak, saya pergi." Nada gemetarnya terdengar. Dari arah lain Pak Tarman nampak memicingkan mata menatap heran ke arah Andre.
"Kamu lihat apa?" Pak Tarman mendekat dan langsung menepuk pundak Andre membuat hatinya terhenyak kaget.
"Saya duluan Pak!" Ucap Andre menyingkirkan tangan Pak Tarman saat langsung berdiri dan melangkahkan kaki melewati Pak Tarman. Aroma anyir begitu menyengat sampai menusuk tajam ke hidungnya. "Pasti karena makhluk itu." Batin Andre yang berusaha tidak menunjukkan perasaannya di depan Pak Tarman.
Apa karena kalung itu tidak ada di tangannya lagi? Sekarang perlahan satu persatu Andre bisa menyaksikan setiap penampakan yang nampak dekat sekali. Sampai harus menanggung takdir ini, Andre cukup menyesalinya jika terlahir dengan keluarga yang mempunyai kemampuan sama dari leluhurnya itu.
"Nak Andre tidur saja duluan! Saya mau makan. Nanti saya nyusul." Ucap Pak Tarman sepintas langsung menghentikan langkah kaki Andre.
Apa yang dilakukan Pak Tarman lagi di rumah ini? Andre tidak bisa berpikir jernih apalagi saat dia memergoki kejadian itu. Dia hanya menarik napas tidak memperdulikan perkataan Pak Tarman.
__ADS_1
Waktu malam memang menjadi jam favoritnya makhluk tak kasat mata menakuti manusia yang mempunyai mental rendah sepertinya. Saat harus berdiri menginjakkan kaki di luar di tengah suasana malam yang langsung membuat bulu kuduknya merinding ngeri. Semilir anginnya juga menambah suasana kian tak menenangkan bagi Andre. Masalahnya sekarang mungkin dia bisa melihat beberapa makhluk tak kasat mata seperti mereka. Dan bagaimana dengan mentalnya? Andre tidak bisa yakin bisa menghadapi semua makhluk itu.