Dunia Mu

Dunia Mu
Awal tragedi.


__ADS_3

Anis tersenyum lega hari ini dia merasa senang karena sudah melakukan satu tugas yang diminta pemilik kosan untuk menebus hutangnya. Membayangkan angka uang yang dia dapat untuk pengobatan ibu bukanlah hal mudah untuk didapatkan, kerja di RSJ saja tidak mungkin bisa secepat itu dapat mengumpulkan uang.


Anis melihat angka pada jam tangan yang dia pasang di pergelangan tangan kiri, jarum pendek sudah menunjukkan pukul 07.00 sore. Dia tak berani mengintip keluar jendela yang sudah ditutup rapat oleh tirai ketika setibanya dia ke dalam kamar kosan.


Anis mempersiapkan diri untuk mandi, seluruh tubuhnya yang capek dan kotor butuh air segar. Tak butuh banyak yang dilakukan Anis pergi langsung ke arah pintu kamar mandi, disimpannya handuk di bagian belakang pintu. Tapi pikirannya masih kembali melayang mengingatkan sebuah rutinitas yang pemilik bebankan untuknya, sesajen yang tertata rapih di kamar itu kemungkinan masih ada di sana dan bagaimana jadinya jika orang asing yang dia bawa tadi melihat sesajen itu? Dia berpikir sejenak apa yang harus dilakukan? Sani panik dan kembali menyambar handuk yang sudah dia gantung di belakang pintu, terburu-buru dililitkan satu handuk ke tubuhnya dan satu handuk yang dia gunakan untuk dia pakai sebagai jaket menutupi bagian atas tubuhnya.


"Kak permisi masih di dalam?" Teriak Anis, beberapa saat dia tidak mendengarkan sebuah jawaban melainkan samar terdengar suara air deras yang mengalir.


Anis mematung panik, dia juga tak berani mengatakan kecerobohan yang sudah dilakukannya. Setelah menit berlalu tidak mungkin juga bagi Anis yang harus diam menunggu di luar apalagi saat matanya bergerak ke sisi lain ornag-orang penghuni kosan sedikit memperhatikannya. Tanpa berpikir lagi Anis cepat berlari ke arah pintu kamarnya.


Semoga saja kesalahannya sekarang tidak menyebabkan apapun, pikir Anis berulangkali bergumam sendiri. Memikirkan wajah kecewa pemilik kos atau orang asing itu yang mulai tidak senang dan banyak menanyainya, rasanya tak sanggup.


Anis masih diam di balik pintu, pandangannya sesekali mengintip ke arah pintu kamar di seberang karena pintu kamar itu di dalamnya adalah orang yang sudah dia bawa tadi. Hingga tak terasa waktu di jam dinding menunjukkan pukul 08.30 malam.


Sekali lagi Anis bertekad memastikan, matanya yang mulai mengintip ke balik tirai jendela kali ini usahanya berhasil karena dia melihat orang tadi terlihat menyapu hingga keluar pintu. Ternyata tidak terjadi apapun. Anis kemudian menghela napas lega karena sudah memastikan jika tidak terjadi apapun dan sekarang tidak akan ada alasan yang membuat dia kepikiran terus.


Anis sudah tidak sabar lagi untuk pergi mandi. Tapi karena waktunya sudah malam dia tidak boleh terlalu lama mandi, pikirnya kembali memastikan agar Anis tidak harus mengalami hal mengerikan seperti malam kemarin ketika dia masih mandi di kamar mandi, itu tidak boleh terjadi.

__ADS_1


Beruntung masih ada camilan yang akan membebaskan perutnya dari rasa lapar, jika sudah malam seperti ini Anis tidak berani harus pergi keluar sekedar memesan nasi goreng. Lagi pula sekarang dia sudah tidak mendengar suara penghuni kosan yang lain, hal itu membuat Anis segera bersiap untuk pergi ke kasur dan membalut tubuhnya hingga tertutup penuh dengan selimut.


Kemarin malam lampu padam, Anis harus berjaga-jaga jika terjadi lagi di malam sekarang. Dia hanya tahu harus diam dan tidak boleh ribut di kosan ini, karena itu aturan yang pemilik sampaikan dari awal. Lebih baik diam mengurung diri saat terjadi mati lampu dan jangan sampai keluar kamar.


Matanya menatap aneh kertas yang harus dia pasang di atas pintu itu, entahlah pemilik ingin jika kertas itu ditempel lagi di sana dan itu seperti khusus untuknya yang selalu merapihkan sesajen di kamar itu.


Anis tidak ingin memperdebatkan sesuatu yang tidak masuk akal, dia lebih ingin menghargai tradisi orang lain karena itu tidak mungkin menimbulkan keributan atau kemarahan dari pemilik kosan.


Baru kali ini dia belum bisa tidur padahal hari sudah sangat larut, tepatnya pukul 11.00 malam.


Anis seperti sedang menunggu sesuatu sendirian dia tidak bisa melakukan apapun selain harus tetap berdiam diri di kamarnya sekarang, jelas saja alasannya karena tak ingin melanggar aturan kosan ini.


Malam berlalu dengan singkat bagi Anis yang harus kembali sibuk mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit. Anis sangat terburu-buru menyisir rambutnya yang sedikit membuat dia kesulitan, tak berpikir lagi meski rutinitas itu memang menyita waktu Anis memilih segera menyudahinya karena siapa yang akan melihat keadaan rambutnya yang masih berantakan tertutup oleh jilbab.


Anis melihat lagi ke arah pintu yang ada diseberang, dia tertegun dan sedikit berasumsi jika orang di dalamnya mungkin masih tidur. Persoalan seperti itu membuat Anis tidak peduli dia harus cepat pergi ke rumah sakit sebelum jam 06.00 pagi. Anis segera berlari untuk menuruni anak tangga.


"Aaaaaa...." Jeritnya saat masih berada di tangga lantai bawah. Matanya sampai melotot memandangi sesuatu yang langsung membuat Anis terkejut setengah mati.

__ADS_1


Teriakkan Anis berhasil membuat beberapa orang membuka pintu kamar termasuk Mamang pemilik kosan yang berlari menghampiri.


Anis masih tak bergeming dia sangat terkejut sampai hanya bisa duduk di anak tangga, tubuhnya gemetar takut dan langsung menangis menutup mata dengan kedua tangannya.


Seorang mayat tak lain adalah perempuan yang Anis ajak untuk menginap di kosan, perempuan yang terlihat dari rambut dan kulit kepala yang hampir terlepas setengahnya seperti dikuliti, bahkan sampai menampakan tengkorak kepala dipenuhi darah.


Tak kuasa melihat pemandangan yang disuguhkan di pagi hari seperti ini Anis langsung tak sadarkan diri.


Pada malam selanjutnya.


Mamang kosan masih berani mengatakan untuk mengajak orang lain tinggal atau menyewa kamarnya lagi pada Anis. Otomatis Anis langsung menolak dengan setengah marah dia tidak ingin jika kembali mengikuti permintaan seperti itu, Anis tidak bisa lupa satu hari sebelumnya tragedi besar mengguncang seiisi otaknya hingga dia tidak bisa menjaga kewarasannya untuk tenang. Anis tidak ingin mendapatkan pengalaman buruk dan membuatnya setengah mati ketakutan.


2 malam telah berlalu.


Keributan besar terjadi lagi tapi kali ini bukan Anis yang menemukan melainkan penghuni lain. Asal keributan tak lain setelah ditemukan salah satu penghuni kamar yang gantung diri.


Sekarang Anis hampir tidak bisa bernapas dengan lega, kejadian beruntun membuat jantungnya berdegup tak biasa, dadanya sesak dipenuhi ketakutan yang setiap saat membuat Anis terjaga, tidak bisa tidur dan makan.

__ADS_1


Sampai Anis ingin keluar dari kosan dengan alasan lain dan dia sudah memutuskan akan pergi pada malam besok.


__ADS_2