Dunia Mu

Dunia Mu
Pilihan untuk Andre


__ADS_3

Pak Arman masih duduk pasrah, di sampingnya Andre yang keduanya sibuk diam saja.


Andre masih memikirkan perkataan Pak Arman sekaligus nasib Sani. Hatinya masih terus bertanya mengapa urusan dunia masih bisa membuat hubungan keluarga tidak ada apa-apanya. Antara Sani dan Ayahnya, Andre tidak bisa mengabaikan suatu masalah yang ada di depan matanya sendiri. Jika saja dia ada dalam situasi yang sama mungkin Andre hanya menjadi satu-satunya orang yang paling menyedihkan. Bayangkan saja menjadi anak piatu satu-satunya di tengah keluarga yang tidak bisa menganggapnya sebagai keluarga, jauh dari semua saudara dan yang paling menakutkan berada di sisi orang yang salah.


"Bapak sangat bahagia melihat Neng Sani, andai saja dia tidak tumbuh bersama Ayahnya mungkin keluarga di sana sangat bahagia juga bisa bersama." Ucap Pak Arman dengan nada bicara yang begitu lembut.


Beberapa kali hati Andre terasa tercabik-cabik sudah, karena dia juga seorang piatu dan anggap saja dia tidak pernah memiliki ayah. Beruntungnya dia masih memiliki keluarga di kampung.


"Tolong pertimbangkan lagi, Nak Andre sebaiknya pulang saja ke kampung. Bapak mohon sekali!" Lagi-lagi Pak Arman memohon seperti itu.


Andre cepat melihat kedua sorot mata Pak Arman yang sangat sedih bersimpuh di hadapannya sebagai orang tua. Yang tidak membuat Andre bisa mengerti sampai sekarang adalah alasan Pak Arman yang memintanya untuk pulang. Kenapa?


Andre terdiam saja dia tidak bisa meninggalkan Sani apalagi setelah mendengar cerita dari Pak Arman sendiri.


"Pak, saya tidak bisa meninggalkan Sani. Saya sudah berjanji. Apa boleh saya tahu kenapa Bapak sampai keberatan sekali saya tinggal disini?" Andre langsung menanyakannya. Dia tidak peduli jika itu menyinggung karena dia tidak menghiraukan perkataan Pak Arman.


"Bapak tidak bisa mengizinkan. Alasan itu hanya Bapak yang tahu, tapi Bapak berjanji ini adalah untuk kebaikan kalian berdua karena itu Nak Andre pulang saja dan jangan sampai menemui Neng Sani lagi." Pak Arman memperlihatkan sedikit rasa cemasnya. Entah apa Andre benar-benar penasaran sekali. Dia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Pak Arman sampai membuat keputusan seperti itu.


Sekarang Andre benar-benar bingung, sudah sejauh ini dia tidak bisa mengabaikan Sani apapun alasannya. Kali ini bukan hanya karena alasan kerja tapi rasanya dia tidak mau jika Sani dalam bahaya sendirian.


"Pak." Ucap Andre tertahan. "Saya akan pulang besok, saya tidak bisa berpamitan pada Sani." Ucap Andre tertunduk.

__ADS_1


"Syukurlah, Bapak sangat berterimakasih jika Nak Andre mendengarkan perkataan Bapak. Baik, Bapak akan sampaikan pada Neng Sani setelah Nak Andre pergi besok. Bapak mau Nak Andre sudah pergi dari rumah pagi-pagi sekali." Pak Arman mengungkapkan rasa senangnya saat itu juga. Sebaliknya bagi Andre dia semakin tidak mengerti dan semakin penasaran apa yang disembunyikan Pak Arman, sebuah alasan apa yang dipikirkannya.


"Sudah malam. Nak Andre cepat naik ke lantai atas, sebaiknya turun lagi pada waktu subuh saja sekitar jam 5 pagi." Pak Arman memberinya pilihan yang harus dilakukannya.


Andre terdiam saja, dia hanya menganggukkan kepala tanda setuju dan sudah mengerti.


Sesuai yang diinginkan Andre pergi kembali ke dalam rumah, menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Di dalam kamar dia tidak bisa memang langsung tertidur, mengingat ada begitu banyak Masalah yang berdebat di dalam hatinya sendiri.


"Hey ... Andre!" Tiba-tiba suara terdengar memanggil. Andre menoleh dan langsung terkejut karena melihat Sani yang berdiri di tangga.


"Dari tadi udah nungguin di sini." Jawab Sani. "Eh. Tadi kalian ngobrol apaan?" Sani lanjut bertanya. Maksudnya ingin menanyakan apa yang diobrolkan oleh Andre dan Pak Arman.


"Em. Itu disuruh harus patroli keliling. Boro-boro patroli keliling yang ada aku bakalan ketakutan di sini." Jawab Andre ngasal sambil bergidik ngeri.


Sani diam saja menanggapi jawaban Andre seperti itu bukan lagi Masalah baginya. "Emang. Disini serem banget, tapi aku gak bisa pergi jauh dari rumah." Keluh Sani sambil berjalan menghampiri Andre dan tak disangka dia langsung menjatuhkan tubuhnya tertidur malas di atas kasur.


"Eh malah tidur disini." Andre merasa tak nyaman, bukan karena alasan apa tapi dia takut Pak Arman naik ke sini dan tersinggung karena melihat suasana seperti sekarang.


"Kunci aja pintunya. Cepet kunci!" Tak disangka Sani satu pemikiran dengan Andre, dia sengaja meminta seperti itu kan agar Pak Arman tidak masuk ke kamar.

__ADS_1


"Kunci? Pak Arman masuk nanti gimana?" Andre berlaga tidak mengerti apa-apa.


Sani melihatnya kesal, dia langsung berdiri dan jalan ke arah pintu. Tanpa bisa disangka dia benar-benar mengunci pintunya.


Andre ingin sekali melarang tapi tidak apa-apa jika melarangnya? Banyak sekali pertimbangan yang dipikirkan Andre tapi karena hal itu membuatnya terlambat dan tidak bisa melakukan apapun.


"Dre, besok bisa kan bawa aku pergi lagi. Kita pergi kemana saja dan menginap lama di luar, rasanya rumah ini malah membuat aku pusing saja." Tiba-tiba Sani meminta sesuatu yang mengejutkan lagi.


"Hah. Emangnya mau kemana lagi?" Andre tak berdaya setelah mendengarnya, apalagi setelah dia tahu bagaimana kehidupan Sani tentu saja rumah bukanlah tempat yang nyaman untuknya di rumah ini juga banyak sekali ancaman yang paling dekat dirinya.


"Udah deh kemana saja. Aku terus kepikiran nih." Jawab Sani. Dia sedang membicarakan tentang kecelakaan itu, benar juga tak bisa dibohongi karena hati Andre memikirkan orang yang sudah baik pada hidupnya. Pak Dean dan keluarganya mengalami kecelakaan tapi sangat tak pantas sekali karena dirinya dan Sani malah kabur dari tempat kejadian.


"Pak Dean ya." Jawab Andre singkat. Di satu sisi Andre tidak bisa memberikan Sani lebih banyak harapan karena dia sudah mengatakan pada Pak Arman untuk menyetujui permintaannya. Tapi dia juga masih memiliki masalah yang tidak bisa diabaikannya juga. Andre benar-benar tidak tahu harus apa sekarang.


"Mau kesana aja?" Tanya Sani.


"Udah deh cepet balik ke kamar sana aku mau tidur!" Andre tiba-tiba tak ingin membahas yang dibicarakan Sani. Andre juga meminta Sani agar cepat meninggalkannya di kamar sendirian.


"Ia deh aku pergi dulu." Beruntung sekali karena Sani langsung mengerti dan pergi secepatnya menaiki tangga ke kamarnya yang ada di lantai tiga.


Andre tak menjawab lagi, dia memilih diam saja karena bagaimana pun sekarang dia sedang bingung dengan pilihannya. Dia benar-benar tersudut dan tak berdaya jika seperti ini, tapi mungkin dia harus memilih salah satunya untuk pilihannya. Mungkin salah satu yang harus dia selesaikan dulu yang lebih penting selain harus pergi dari rumah dengan alasan yang tidak dia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2