
Perasaannya benar, nalurinya dari tadi memberi dia pertanda ada sesuatu yang tidak beres. Kemudian dengan keinginan yang besar Tri memaksakan dirinya sampai bisa meraih gagang pintu hingga terbuka lebar dan menampakkan pemandangan yang tidak bisa diterima olehnya.
Bayangkan saja saat ada orang terdekat, sudah menjadi seperti seorang ayah pengganti, keluarga terdekat. Kini dalam satu detik helaan napas menyaksikan kenyataan yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya bahkan tak pernah bisa diterima oleh akal sehatnya. Tri tercengang mematung di ambang pintu, dia masih bisa berdiri kokoh dengan perasaan yang sebenarnya sudah hancur lebur bersama kenyataan yang dilihatnya saat itu.
"Bapak!" Teriak Tri dengan langkah yang langsung memburu mendekat ke arah tubuh yang tertidur kaku di atas lantai.
Mungkin langit serasa sudah runtuh baginya, saat matanya bergerak melihat darah yang banyak sudah banjir di atas lantai ketika itu juga hatinya sudah memiliki prasangka yang tidak pernah ingin dia ingat.
Tangan Tri masih menggerakkan tubuh Pak Rais yang saat itu masih tidak merespon juga, tapi seketika dia langsung berhenti dengan mulut yang langsung bungkam diam. Entah apa yang dipikirkan saat itu karena Tri sama sekali tak berbicara.
Dari arah kamar Sani segera mendekat merangkul tubuh Tri yang dikhawatirkan bisa ambruk kapan saja.
Masih bungkam, Tri diam kehilangan semua kewarasannya saat itu. Dia tak berkomentar apapun. Dengan tatapan yang kosong Tri terlihat seperti orang pingsan dengan keadaan mata yang terbuka.
"Hey, kamu masih sadar kan?" Tak penting, pembicaraan Sani diabaikan.
Namun tak lama dari arah pintu terdengar suara langkah kaki orang, ternyata itu adalah Andre. Tak lama saat Andre masuk yang lebih mencengangkan kembali didengar oleh ketiga orang itu, karena suara deru mesin mobil terparkir di halaman rumah.
Sani, Tri, dan Andre tatapan mereka kompak melihat ke arah pintu sambil terus bertanya-tanya dalam hati.
"Rumah saudara Tri?" Seseorang berpakaian seragam yang dibalut jaket masuk melalui pintu.
__ADS_1
Tri yang melihat seorang polisi masuk langsung semakin cemas.
"Saya yang melapor tadi Pak." Ucap Andre. Namun perkataannya tak berlangsung lama karena sepasang mata polisi langsung menangkap sosok Pak Rais yang masih tergeletak di atas lantai.
Seseorang berseru dan segera mengevakuasi tubuh Pak Rais.
Sani dan Andre yang masih syok tidak bisa berbicara apapun, meski mereka tahu sebab dari insiden ini. Dan bagaimana dengan Tri yang tak tahu menahu?
Dugaan Andre dan Sani tak tepat. Saat keduanya melihat ke arah Tri yang masih terdiam seperti tadi seperti menyimpan banyak pemikiran yang tidak pernah bisa ditebak oleh siapapun.
Andre kemudian hanya bisa menghela napas, apalagi sekarang dia harus ikut dengan polisi memberikan keterangan, tak tertinggal juga Sani dan Tri harus ikut sebagai saksi. Padahal ketiganya sudah cukup takut dengan insiden yang menimpa apalagi sekarang harus pergi dengan polisi, menambah perasaan gugup saja.
"Kita ikut juga?" Tanya Sani masih tak percaya.
Di dalam mobil Sani masih terdiam, dia cukup bingung untuk membahas banyak sekali Masalah yang ingin ditanyakan pada Andre. Seperti pelaku pembunuhan ini dan juga tentang Tri, tapi tidak mungkin juga kan jika harus membahas di hadapan Tri saat itu.
Sani yang duduk berdampingan dengan Tri hanya bisa diam tanpa mengoceh seperti biasanya. Begitupun Andre, saat menatap ekspresi wajahnya mungkin orang akan banyak berpikir untuk mengajaknya bicara dan pada akhirnya Sani harus lebih sabar dulu. Tapi ada pemikiran yang terus mengganggu saat itu, sikap Tri yang seolah baik-baik saja atau dia yang memang bersikap dingin seperti itu. Dari awal ketika dia juga melihat mayat Pak Rais tadi, Tri tidak banyak membahas atau menangisinya. Dan juga kali ini yang mengherankan ketika Tri tak bertanya tentang Pak Tarman. Apakah hal itu bisa diartikan jika Tri sudah tahu atau sudah menduga semua sebabnya.
Andre tak berbicara sedikitpun bahkan tak juga melihat ke arah Sani dan Tri saat itu, mungkin hatinya sedang berdebat dengan akalnya sendiri.
Tak lama dalam perjalanan mobil sudah berhenti, Andre hanya bisa menghela napas mengikuti prosedur yang dibutuhkan kepolisian untuk penyidikan. Saat harus mengeluh karena timbul masalah lain, Andre harus berpikir lagi dengan dirinya, jika sekarang dia tidak serius dalam masalah ini bagaimana nasib Tri? Jauh dalam hatinya mungkin Andre tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana perasaan Tri saat itu.
__ADS_1
"Bagaimana di TKP?" Di dalam ruangan Andre, Sani dan Tri duduk di sebuah kursi dan di hadapan mereka adalah seorang polisi yang sama.
Yang tidak dimengerti Andre ketika itu dia melihat raut wajah polisi yang langsung berubah, Andre berharap itu bukan kabar buruk untuknya dan semoga saja bukan apa-apa.
Beberapa saat polisi membutuhkan sedikit waktu untuk membahas persoalan di balik telepon hingga waktu yang ditunggu akhirnya datang.
"Ada korban lain yang ditemukan." Ungkap polisi itu pada ketiganya tanpa basa-basi lagi. Pernyataan itu langsung membuat Andre membulatkan mata tanda tak percaya.
"Seorang nenek tua yang ditemukan sudah meninggal di dalam kamar." Jelas lagi polisi dengan ekspresi sedikit kecewa.
Namun sekali lagi ada keganjilan yang bisa disebut sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa jika Tri bersikap biasa saja mendengar kabar Neneknya tepat di hadapan dia ketika duduk.
Saking syok Andre tak bisa mengatakan apapun, pikirannya sibuk membayangkan langkah Nenek sepuh dan pembicaraannya di dalam rumah, seperti baru saja dia bertemu dengan Nenek sepuh dan kali ini dalam kesempatan Andre mendengar kabar duka yang tidak bisa dia terima sampai kewarasannya kembali.
Satu pemikiran yang langsung muncul, alasan Nenek sepuh mati dan siapa yang menyebabkan insiden kedua kalinya.
Tapi bola mata Andre bergerak karena sedikit tertarik dengan kebisuan Tri yang masih sama saja seperti tadi.
"Baiklah proses penyidikan akan kita mulai." Simpul polisi yang tidak langsung di respon, Andre seperti sengaja menunggu mengulur waktu. Saat matanya kembali memperhatikan ke arah Tri yang tetap tenang saja.
"Bisa dimulai sekarang? Tolong ceritakan kesaksian pelapor pertama!" Tanpa basa-basi polisi langsung memberikan instruksinya agar Andre segera berbicara tentang inti dari permasalahan dan juga kesaksiannya.
__ADS_1
Terlebih dulu matanya kembali memastikan ke arah Tri, sebenarnya dia berharap jika Tri akan bereaksi bersikap sewajarnya dia harus lebih syok dan kaget.
"Silahkan untuk berbicara!" Kedua kalinya polisi menjelaskan baru Andre bisa mengembalikan kesadarannya dan langsung berbicara.