
"Tri." Pekik teriakkan Andre yang tampak terkejut, diikuti dengan langkah sigap masuk kembali ke dalam rumah.
Sani sempat memandanginya heran, tapi setelah kembali memikirkan Tri dia juga merasa cemas dan segera mengatur kaki berlari mengikuti jejak langkah Andre.
Sampai tak bisa mengatakan apapun, kedua telapak tangannya digunakan untuk segera membungkam mulut Sani dan wajahnya langsung memasang ekspresi tercengang kaget lagi. Betapa tidak karena saat itu Sani melihat penampakan tubuh Tri tanpa busana kemudian dengan tenang Andre menutupinya memakai selimut yang menggulung di atas kasur.
Andre tak terlihat gugup sedikitpun, meski mungkin bagi Sani dia akan merasa risih tapi untuk apa merasa seperti itu? Andre tak mungkin membiarkan Tri tanpa busana dan disaksikan oleh orang lain.
"Andre!" Ketua suara keluar dari mulut Tri yang tiba-tiba dan tangannya juga ikut menahan lengan Andre saat akan beranjak dari tempat tidur. Spontan Andre langsung menatapnya kaget hingga bola matanya membulat, dia masih diam tak ingin menanggapi apapun sesudah menangkap tatapan sayu dan sendu dari arah tatapan Sani. Akhirnya Andre hanya menarik napas kembali membuat dirinya setenang mungkin.
"Semua baik-baik saja, kamu sebaiknya tetap beristirahat dengan Sani di kamar ini." Seru Andre yang membuat ekspresi Sani seketika berubah memperlihatkan tidak setuju. Andre tak ingin Sani berulah dia menatap lekat berusaha memberikan arti dengan tatapannya, apa daya Sani tak bisa menolak dengan mengatakan satu kata sederhana dia memilih diam dan setuju meski hanya terpaksa.
Tri terlihat sangat terpukul, dua orang yang ada di ruangan sama dengannya pasti bisa merasakan perasaan yang sama. Tri malu, kabar dari rahasia bodoh yang dilakukan oleh Ayah sambungnya mungkin sudah terbongkar. Meski hatinya terus bergejolak tak sabar sekaligus gelisah tapi dia masih tidak bisa menyusun setiap kalimat lain untuk membuka pembicaraan diantara ketiga orang, apalagi setelah melihat tingkah Andre dia sudah pesimis dan berpikir bahwa Andre kecewa dengannya.
Bola mata Tri bergerak mengikuti hatinya dan dia menatap lekat ke arah Sani yang masih canggung dan diam di samping tempat tidur. Padahal dalam hati dia ingin menghancurkan suasana dingin dan sunyi diantara mereka berdua, karena Andre sudah lebih dulu keluar kamar dan meninggalkan kamar dengan pintu tertutup rapat. Karena sikap Sani membuat Tri ikut canggung dan tidak bisa mengatakan apapun.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tiba-tiba suara dari pertanyaan Sani sekilas terdengar. Tri sedikit terhenyak dan nampak berpikir sejenak untuk menjawabnya.
"Baik." Jawab Tri singkat dan masih memperlihatkan wajah bingung.
__ADS_1
Sani tampak menarik napas dan terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sangat sulit dan penuh pertimbangan, sebaliknya bagi Tri saat melihat pandangan itu dia langsung merasakan jantungnya berdegup kencang lagi, dalam nuraninya dia tidak berharap jika Sani akan membahas tentang Pak Tarman dan.
"Kita masih harus menunggu lama di sini, ya?" Lain lagi yang diungkapkan Sani malah membuat sedikit alis Tri terangkat heran. Maksud dari perkataannya itu untuk apa? Terdengar seperti Sani yang sudah tidak tahan tinggal di satu ruangan itu.
"Ayo kita keluar!" Seru Tri tak ragu-ragu, dia memilih peka dan menerka maksud dari ucapan Sani.
"Jangan! Sudah, kita di sini saja." Balas Sani tampak rusuh dan bersikeras menahan maksud Tri saat itu. Tingkahnya membuat Tri semakin bertanya-tanya, jika bukan itu maksudnya lalu apa yang dimaksud Sani dengan kata-katanya itu? Apakah ada hal lain?
"Aku akan menemani mu di sini. Sebaiknya kita memang harus di sini." Ucap lagi Sani untuk kedua kalinya menambah perasaan Tri semakin terheran. Tapi tak ada alasan untuk menolak permohonan Sani, meski kali ini dia cukup curiga apalagi setelah melihat penampakan kegelisahan Sani yang sangat panik sampai Sani tak bisa merangkai ucapannya lebih jelas lagi.
Tak ada gunanya menerka-nerka pikiran orang, karena Tri sudah cukup gagal untuk menebak maksud Sani. Saat ini dia cukup menyerah dan memilih diam saja mengikuti suasana yang diciptakan oleh Sani sendiri, apa daya memang karena tak ada pikiran lain selain perasaan cemas dan gugup yang sudah semakin jelas memperlihatkan wujud nyata di hadapan Tri.
Tri mendongak dan menangkap sorot mata Sani. "Kamu bisa bantu?" Tanya Tri memperingatkan sebuah bantuan untuk dilakukan Sani.
"Oh ia, aku lupa." Seru Sani tampak dia merasa bersalah. "Pakaianmu ada di lemari mana?" Sambungnya lagi dan langsung menatap Tri saat bertanya.
"Maaf. Di lemari itu!" Tunjuk Tri pada salah satu lemari yang berjajar. Saat menunjukkannya matanya bergerak menatap salah satu laci lemari yang sudah terbuka, dia tentu tahu apa yang ada di dalamnya adalah uang. Yang membuatnya harus tercengang mengapa sudah dalam keadaan terbuka. Saat masih bertanya-tanya tapi dia tidak berani untuk bertanya pada Sani tentang laci lemari itu, Tri memilih menunggu diam dan setelah berpakaian lengkap dia akan memeriksanya sendiri.
Beberapa baju sudah ditunjukkan Sani dan akhirnya Tri memilih untuk memakai terusan daster panjang yang lebih simpel.
__ADS_1
Saat akan mengganti baju Tri masih diam ragu, dia tak mungkin kan harus mengganti pakaian di hadapan Sani meskipun dia adalah perempuan juga. Tapi perasaannya lebih merasa bersalah jika harus menyinggung dan mempersilahkan Sani untuk keluar, apalagi sepertinya Sani tak berniat untuk keluar dulu dan terpaksa saja Tri harus mengganti pakaiannya di belakang Sani yang sedang menghadap ke arah pintu.
Di luar sangat sepi tak terdengar ada suara orang-orang yang seharusnya terdengar lebih ribut atau apa. Apalagi jika mereka memergoki sesuatu yang dilakukan Ayah sambungnya, tapi dugaan Tri meleset apa mungkin dugaannya salah lagi.
Beberapa saat Tri terdiam tapi hatinya semakin tak sabar, entah mengapa dia sangat ingin keluar kamar jika sudah berpakaian lengkap, sesuatu cukup banyak membuat hatinya tidak tenang.
"Kita keluar saja ya, bagaimana?" Tanya Tri meski dia masih sibuk memasang baju dan menatanya rapih.
Tri tak berharap jika Sani tak juga menjawab pertanyaannya itu, karena semakin membuat dia tidak tenang.
Tri tak ingin menunggu dan semakin mempercepat memakai baju. "Aku sudah selesai!" Serunya memberi isyarat agar Sani berbalik menghadap.
"Kita sudah bisa keluar sekarang, kan?" Tanya lagi Tri dengan maksud yang sama tak lain keinginannya untuk keluar kamar.
Sani malah gugup sampai tak berani menatap langsung ke arah Tri yang saat itu jelas-jelas berusaha berbicara padanya.
Hingga terdengar keributan suara dari beberapa orang asing. Mata Tri bergerak dan dia semakin terjaga kemudian dengan tak sabar menyerbu pintu kamar yang dia buka dengan kedua tangannya tanpa mengalami usaha Sani untuk mencegahnya.
Dan setelah pintu terbuka, Sani yang sudah tak bisa berpikir jernih dari tadi, perasaan yang sudah berteriak tak tenang semakin membuatnya gelisah, apalagi saat ini ketika Tri berhasil membuka pintu kamar. Satu hal yang akan langsung Tri lihat adalah tubuh kaku milik Pak Rais yang sudah tak bernyawa di atas lantai.
__ADS_1