
Andre mematung matanya berpaling ke arah lain. Seperti yang dia takuti sekarang, rasa takutnya mulai menguasai pikiran hingga dia tidak bisa begitu fokus untuk menuruti tuntutan polisi.
Sani yang berada di sampingnya tidak berbeda jauh. Apalagi dia seorang wanita untuk pertama kalinya menjadi saksi kunci dari kasus yang sudah terlanjur menyeretnya. Pandangan mata Sani yang polos terlihat begitu tertekan, setiap polisi meminta sesuatu darinya dia tidak langsung menuruti, seolah setiap perkataan yang dikatakan polisi adalah sesuatu yang sulit. Meski sekedar memerintah dia untuk berdiri bangun dari duduknya.
Keadaan saat itu sangat tidak mendukung, bagaimanapun Andre dan Sani keduanya mengalami trauma dengan cara yang sama.
Pada saat kejadian itu, rasanya setiap detik berlalu masih berdiam diri di tempat seperti ketika Andre masih berdiri di satu ruangan dan mayat Pak Rais yang terbujur kaku di hadapannya.
"Andre!" Panggil Sani, Andre berbalik melihat Sani yang tampak canggung.
"Dipanggil Pak polisi dari tadi." Lanjut Sani berbicara.
Andre berbalik dan menatap polisi yang memang tengah memperhatikan ke arahnya, dia heran mengapa sampai tidak mendengar suara polisi yang terus memanggilnya dari tadi.
"Bisa kita lanjutkan penyidikannya?" Tanya Pak polisi, Andre sama sekali tak pernah berniat untuk meneruskan penyidikan ini apalagi orang yang ada di hadapannya adalah Pak Tarman. Keberadaan Pak Tarman membuat Andre tak bisa berpikir waras.
Sani di samping Andre mengangguk ragu, sudut matanya masih menangkap jelas ketika Andre yang diam saja melamun. Dengan situasi ini Sani juga tak bisa berkomentar apapun, dia benar-benar tertekan tapi memang apa boleh buat tahapan hukum harus dilaluinya, bebannya sebagai saksi harus dia laksanakan.
"Pertama untuk jadwalnya akan dilakukan satu jam dari sekarang, silahkan untuk bersiap. Sementara Pak Tarman kembali ke sel tahanan." Terang Pak Polisi yang bagi Andre dan Sani di setiap perkataannya adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan, mau tidak mau.
Hanya satu jam, rasanya belum cukup bahkan untuk sedikit menghirup napas diantara waktu singkat satu jam. Membayangkan apa yang akan dilakukan dalam waktu itu saja tidak ada, dan bagaimana kesiapan Andre dan Sani dalam satu jam itu? Tidak mungkin bisa.
__ADS_1
Andre dan Sani keluar dari ruangan itu dan kembali berjalan menuju bagian ruangan lain dimana Pak Dean dan yang lainnya sudah menunggu di sana.
Saat semua pasang mata sudah menangkap sosok Andre dan Sani, mereka kompak tidak bertanya apapun dan tidak rumit menanyai Andre juga Sani. Sorot mata Pak Dean seperti bisa merasakan beban yang benar-benar membuat Andre tertekan sampai dia hanya bisa diam, duduk, dengan tatapan kosong.
Siapa yang mau dalam situasi ini, meski sebagai seorang saksi tapi bayangan kejadian di waktu itu cukup mengganggu dan membuat stress. Padahal hanya cukup bersaksi, mengutarakan setiap rinci kejadian dengan sebenarnya, tidak ada yang sulit kan? Tapi masalahnya apakah mungkin bisa Andre dan Sani kembali menghadapi sosok Pak Tarman di depan matanya? Hal yang wajar kan jika dia kini trauma dan ketakutan saat bertemu dengan Pak Tarman.
"Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang maupun nanti tidak akan ada yang berubah kan? Semua sudah terjadi, sekarang Nak Andre dan Sani hanya ingin membantu pihak kepolisian hanya itu." Celoteh Pak Dean.
#####
Waktu terus bergulir tanpa bisa diminta untuk berganti lebih cepat dari biasanya, menghabiskan waktu di tempat asing masih membuat Andre dan Sani harus berpikir panjang lagi meski mereka harusnya bisa meluangkan waktu untuk pulang walau sebentar.
Pertama untuk kasus Andre, bukan hanya satu tragedi yang menyeretnya melainkan dua sekaligus. Dan kedua kasus ini hampir membahas prihal yang sama, yaitu tentang kehidupan diantara batas dan kepercayaan manusia.
"Sudah 2 bulan sejak kita diputuskan untuk wajib lapor saja. Kok bisa-bisanya Pak Tarman jadi gangguan jiwa kaya gitu." Sani tampak serius membahas masalahnya sekarang.
Andre berbalik dan melihat Sani yang masih berdiri di belakang saat itu. "Mau bagaimana lagi, sudah takdir." Balas Andre dengan nada biasa, tidak seperti Sani yang memperdengarkan nada kesal.
"Itu gak adil tahu. Padahal jelas-jelas dia yang sudah membunuh Pak Rais, semua buktinya sudah ada, hukuman Pak Tarman itu rasanya belum cukup." Sani semakin tersulut emosi.
"Udahlah aku gak mau bahas masalah lagi, sekarang sudah beres kan kamu juga bisa pulang." Andre masih berusaha menghindari percakapan itu dengan Sani, dia tampak ingin membuang semua masalah sebelum pulang.
__ADS_1
"Ia akhirnya bisa pulang. Tapi kamu harus janji untuk mengantarkan aku sampai rumah." Tiba-tiba Sani menyatakan sebuah persetujuan yang membuat Andre langsung mengerutkan dahi.
"Kan Pak Dean mau bantu kamu pulang, kamu sudah setuju kan!" Tegas Andre mengingatkan Sani akan persetujuan yang sepertinya sudah dibahas matang dengan semua orang.
"Ia. Tapi kan bukan berarti kamu lari gitu aja, kan harusnya kamu sendiri yang bisa lebih memikirkannya dan melakukan tanggung jawab itu, bukan Pak Dean." Kilah Sani mencari-cari alasan dan yang jelas saat itu entah mengapa Sani tiba-tiba secara tidak langsung meminta Andre untuk datang ke rumahnya.
Andre menghela napas sebelum dia mengatakan keputusannya. "Oke, aku juga akan mengantar kamu ke rumah. Aku tahu." Jawab Andre langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sani diam saja melihat tingkah Andre yang bisa ditebak saat itu Andre tidak begitu menyetujui keputusan Sani, tapi tidak akan ada apa-apa kan jika Sani membawa Andre ke rumah.
"Aku duluan turun ke bawah, Pak Dean dan yang lain sepertinya sudah siap." Ucap Andre datar dan langsung berjalan menuju pintu.
Sani masih tidak begitu menghiraukan perasaan Andre, bukan hanya itu Sani tidak terlalu keterlaluan kan? Wajar saja jika dia harus sedikit memaksa Andre untuk mengantarnya pulang, sudah jelas karena Andre yang menyeretnya pada masalah.
Sani mengintip ke balik kaca dimana tadi Andre berdiri di tempat itu, benar saja dalam penglihatannya jika Pak Dean dan yang lain sudah menutup bagasi mobil itu berarti semua barang sudah masuk.
Tak...tak..tak
Suara sepatu yang menghentak ke lantai
Sani langsung terdiam, dia mengira jika Andre naik lagi dan sudah masuk ke ruangan. Tapi dia tidak begitu menghiraukannya dan dengan santai Sani masih berdiri mengamati ke arah luar.
__ADS_1
"Andre!" Ucap Sani sambil berbalik. Raut wajahnya langsung berubah saat itu. Saat sudut matanya mengabsen seisi kamar di sana, berusaha mencari sosok Andre yang harusnya dia ada. Tapi Sani tidak melihat Andre juga. Tiba-tiba sesuatu seperti sudah berjalan tepat di belakang tubuhnya, Sani tertahan dengan semua pikiran yang masih bisa dia kontrol dengan baik.
"Siapa?" Tanya Sani dengan cepat langsung berbalik karena dia merasa seperti ada orang yang tepat berjalan di belakang tubuhnya.