Dunia Mu

Dunia Mu
Fakta yang tidak diharapkan


__ADS_3

"Sudahlah Pak sebaiknya seperti biasa kita tidak perlu memperpanjang masalah tentang rumah yang di sana. Lupakan saja." Bicaranya yang tampak cemas sambil terus mondar-mandir berjalan kesana kemari.


"Kita memang tidak ada pilihan lain." Jawabnya menghela napas, seolah sudah sangat pasrah.


"Semoga ibu-ibu yang lain tidak terlalu menyebarkan rumor yang tidak-tidak, lagipula kita tidak tahu kan mengapa pemuda itu pingsan di sana, bisa saja hanya kebetulan."


"Pak! Dia sudah sadar!" Serbu seseorang berlari mendekat.


Ketiganya langsung berlari menghampiri seorang pemuda yang tak lain adalah Andre.


"Maaf Bu izin kan saya pergi sekarang!" Ucap Andre memohon setelah dia sadar dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


"Sebaiknya istirahat dulu disini nampaknya seperti kurang sehat." Timpal Bapak-bapak tadi mencemaskan Andre.


"Saya sudah terlalu lama pingsan ya, padahal saya ada kepentingan Pak!" Andre tak bisa sabar terus diam beristirahat. Dia benar-benar cemas pada Sani yang ada di rumah.


"Sebenarnya mau kemana? Biar Bapak antar saja." Jawabnya.


"Tapi sebelum itu saudara ini pingsan di depan rumah yang ada di komplek tadi, apa ada suatu masalah?" Lanjutnya yang tampak sangat penasaran.


Andre membagikan pandangannya sambil mengingat kembali apa yang menimpanya tadi. "Saya tidak ada masalah apapun Pak. Tadi saya merasa pusing saja." Jawab Andre yakin.


Kemudian Bapak-bapak yang bertanya langsung melihat ke salah satu orang yang ada di sampingnya dan tampak menggelengkan kepala.


"Maaf ya. Bapak disini sama semua warga hanya mau memastikan tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Sepertinya memang tidak ada masalah, tadi sih kami khawatir kalau saudara ada masalah dengan pemilik rumah itu." Dengan penuh hati-hati menjelaskan secara rinci pada Andre.


Dari penjelasan itu Andre mulai menyangka jika orang-orang seperti ketakutan, entah karena hal apa namun pasti ada erat kaitannya dengan rumah yang disebutkan, yaitu rumah Sani.


"Bapak hanya mau minta tolong saja, tolong ya jangan berbicara hal lain tentang rumah itu apalagi jika itu sesuatu yang tidak baik." Karena Andre tak kunjung merespon Bapak itu semakin mempertegas apa yang ingin disampaikannya.


Mendengarnya membuat Andre mengernyitkan dahi tanda semakin tak mengerti.


"Saya mau pamit dulu Pak, dan terimakasih ya mohon maaf jadi merepotkan." Tak ingin terlalu lama berdiam diri di tempat yang tidak dia ketahui dimana, lagipula Andre sekarang bertekad untuk kembali ke rumah Sani setidaknya hanya ingin memastikan keadaan Sani.


"Tidak apa-apa itu sudah menjadi kewajiban setiap orang kan untuk saling menolong dan saling membantu." Jawabnya.

__ADS_1


"Oh ia. Biar Bapak antar sekalian saja khawatir masih pusing nanti jadi kenapa-napa." Tawarnya pada Andre.


"Tidak perlu Pak terimakasih. Tapi saya mau tanya saja kalau dari sini ke rumah tadi apa sangat jauh?" Tanya Andre.


Entah mengapa pertanyaan Andre langsung membungkam semua orang di dalam ruangan. Keadaan Pun berbalik menjadi begitu tegang.


Andre hanya melihat tak mengerti, tapi dia bisa menebaknya mungkin orang-orang memang ada masalah dengan rumah Sani entah apa dia tidak tahu.


"Mohon maaf. Bapak lancang sekali ingin bertanya lagi. Apa saudara ini tinggal di rumah itu?" Tanyanya dengan nada gemetar.


Andre tak mengerti mengapa dia terus ditanyai dari tadi, memang ada sesuatu masalah namun dia juga tak berharap jika orang-orang menjadi tampak ketakutan sekali setelah mendengar pernyataannya tadi.


Andre menghela napas. "Mohon maaf pak, saya terburu-buru sekali. Saya ingin tahu jalan ke rumah itu lagi." Andre kembali mempertegas tujuannya.


"Baik akan Bapak tunjukkan jalannya, silahkan!" Akhirnya jawaban yang diharapkan Andre.


kemudian Andre dan ketiga orang lain keluar dari rumah, seperti yang dikatakan Bapak-bapak itu tadi kesediannya untuk mengantar Andre kembali ke rumah Sani.


"Boleh Bapak tahu saudara namanya siapa? Biar Bapak enak ngobrolnya." Pembicaraan mulai kembali terdengar, Andre dan satu orang dari mereka yang mengantar Andre.


"Panggil saja saya Pak RT kebetulan saya RT di lingkungan ini. Kalau nama saya Ramli." Jawabnya.


Andre tersenyum lagi. "Sebelum nya saya ucapkan terimakasih lagi karena Bapak mau mengantar saya ke rumah majikan saya. Tadi saya mau pulang tapi sepertinya ada yang tertinggal di rumah." Terang Andre menjelaskan alasan yang sebenarnya itu tidak benar.


"Oh jadi Nak Andre ini bekerja toh di rumah itu. Sudah lama atau masih baru?" Tanyanya pada Andre saat itu. Entah mengapa pertanyaannya kembali dengan nada bicara yang tadi. Andre tidak begitu nyaman dengan pikiran dan suasana obrolan yang canggung diantara keduanya.


Andre tiba-tiba menghentikan langkah kakinya membuat Pak Ramli penasaran dan was-was. "Pak, kalau boleh saya tahu sepertinya orang-orang disini cukup tidak bersahabat dengan rumah Sani. Apa ada masalah selama ini yang belum Saya ketahui?" Tiba-tiba Andre langsung menanyakan sesuatu yang membuat pikirannya terus terganggu dari tadi.


"Tidak ada, kami tidak merasa ada masalah, sungguh. Dan sebenarnya saya hanya ingin memastikan saja, maaf karena saya berpikir yang tidak-tidak tentang rumor orang-orang. Jika Nak Andre ini cukup baik-baik saja saya sangat bersyukur." Buru-buru Pak Ramli memulihkan suasana, bukan hanya khawatir sudah menyinggung tapi Pak Ramli sangat khawatir dengan keadaan Andre yang bekerja di rumah Sani. "Jika ada apa-apa jangan sungkan ke rumah Bapak lagi ya!" Ucap Pak Ramli.


Andre cukup terkejut dengan ucapan Pak Ramli.


"Nak Andre rumahnya ada di depan sana." Ucap Pak Ramli menunjukkan arah yang langsung membuat Andre menoleh saat itu juga.


"Baik Pak terimakasih sudah mengantar saya!" Ucap Andre.

__ADS_1


"Rumah Bapak tadi tidak jauh hanya belok kanan dari sini ya!" Pak Ramli kembali mengingatkan. Andre hanya tersenyum membalas perkataan Pak Ramli.


Tak menunggu lama Andre langsung berjalan menuju arah gerbang rumah Sani lagi, padahal tadi dia sudah bisa berhasil keluar dari rumah namun pikirannya tidak bisa tenang karena terlalu penasaran.


Andre sudah membuka pintu gerbang saat melihat ke arah rumah dia menebak jika mobil yang terparkir di halaman adalah milik ayahnya Sani. Perasaannya menjadi ragu lagi, terutama dia belum secara langsung bertemu dengan ayahnya Sani.


Saat kembali melihat ke arah rumah Andre merasa ada sesuatu yang aneh, bukan hanya penglihatannya menjadi hilang atau mungkin makhluk-makhluk tadi sudah pergi?


Pintu rumah nampak masih terbuka, Andre berharap masih ada Sani di rumah atau dia akan bingung untuk mengatakan apa di hadapan Ayahnya Sani nanti.


Ragu-ragu namun Andre tak bisa menghentikan kakinya juga, langkah demi langkah berjalan mendekat hingga tak terasa sudah berada di ambang pintu rumah.


"Pak, Sani sudah pergi ke kampus?" Terdengar suara Bapak-bapak, Andre menebak mungkin suara Ayahnya.


"Belum tuan, Non Sani masih ada di kamar." Jawab Pak Arman. Andre bisa menebaknya karena sudah kenal betul dengan suara Pak Arman.


"Ayah!" Ucap Sani dari arah tangga yang langsung berjalan ke bawah.


Andre cukup senang mendengar suara Sani, karena itu dia mendapatkan sedikit keberanian untuk menghampiri Sani. Sangat tidak mungkin jika Sani akan mengusirnya kan?


Andre langsung membuka pintu semakin lebar. "Permisi! Ucap Andre percaya diri.


Matanya langsung menoleh ke arah Sani yang saat itu juga tampak melihatnya, namun terus bergerak ke arah Pak Arman dan terakhir Ayahnya Sani.


Pandangan Andre tertahan pada satu titik yang membuat dia langsung tak berkutik, yaitu ketika melihat Ayahnya Sani.


"Teman mu San?" Tanya Ayahnya pada Sani.


"Wah syukurlah udah bangun, ayo cepat kita ke kampus!" Seru Sani yang nampak terburu-buru.


Andre masih mematung diam, namun napasnya mulai tak beraturan bahkan tangannya sendiri gemetar.


"Andre! Cepat!" Ajak Sani untuk keberapa kalinya lagi. Tapi Andre tak langsung merespon setelah satu atau dua kali panggilan.


Benar saja mata Andre langsung tertahan pada Ayah Sani.

__ADS_1


__ADS_2