
"Pak, kok Andre baru sadar dari tadi jalannya masih di tengah hutan. Masih lama Pak?" Tanya Andre basa-basi, tapi dia benar-benar ingin bertanya karena merasa heran juga.
"Pokoknya setelah jalanan ini habis kita bisa langsung cepat sampai ke alamat. Meskipun jalanan sepi karena melewati hutan tapi ini jalur terbaik yang bisa buat kita cepat sampai loh." Jelas Pak Dean.
"Selain jalan ini apa ada jalan lainnya Pak?" Celoteh Andre masih penasaran. Wajar saja karena dia memang baru pertama kalinya melewati hutan menuju kota tempat tinggalnya.
"Untuk jalur jalan sebetulnya banyak Nak Andre, kita bisa lewat jalan manapun setidaknya ada tiga pilihan. Tapi kalau jalan sini memang jalan yang paling dekatnya. Nah kalau kita pilih jalur lain itu bisa memakan waktu lama." Terang Pak Dean yang cukup tertarik berbicara dengan Andre.
"Yah meskipun resikonya lumayan, kita harus kuat mental kalau jalan sini." Lanjut lagi Pak Dean.
Pernyataan terakhir dari Pak Dean membuat Andre langsung membulatkan matanya, Andre seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Dean.
"Bisa kamu bayangkan di kanan kiri kita adalah hutan dan sepi. Ya begitulah resikonya." Pak Dean tidak bermaksud membuat suasana menjadi mencekam tapi dia hanya mengatakan kebenarannya.
"Kalau malam pasti gak akan pernah ada orang yang bakal jalan sini kan Pak." Timpal Andre.
"Bapak juga gak mungkin kalau malam-malam kita perginya dan milih jalan sini. Tapi kalau siang gini kan enak ya." Ucap Pak Dean.
"Bapak kayaknya udah sering jalan sini ya, jadi tau banyak." Timpal Andre bermaksud untuk basa-basi saja agar pembicaraan mereka tidak segera berakhir.
"Duh kayaknya enggak deh. Bapak baru kali pertama ini." Jawab Pak Dean dengan sedikit senyum.
"Jadi bapa baru pertama kali ini jalan kesini?" Andre mengulangi jawaban Pak Dean karena dia tidak bisa percaya.
"Ia. Tapi gak apa-apa kan lagian siang terus kita berangkat rame-rame jadi gak usah takut kan." Pak Dean mengatakan alasannya mengapa dia sampai memilih jalur sekarang yang ditempuhnya. "Biar cepet sampai, gak harus muter-muter kan." Cetusnya menambahkan.
__ADS_1
Andre hanya terdiam saja, dia cukup syok ternyata Pak Dean baru pertama kali ini melalui jalur sekarang, dia tidak menyangka nya.
"Mudah-mudahan kita cepat sampai saja ya pak." Ucap Andre.
"Kamu jangan khawatir ya, pokoknya kalau dibandingkan jalan biasanya lama perjalanan kita bisa berbanding setengahnya. Kalau jalan biasa kita sampai 4 jam nah kalau lewat hutan sini 2 jam kita bisa sampai." Pak Dean menjelaskan lagi dengan yakin meskipun kenyataannya dia sendiri baru pertama kali ini melewatinya.
Waktu terus berlalu dengan sangat membosankan, Andre lebih mengkhawatirkan Sani bagaimana dengan keadaannya? Mengapa Sani bisa tiba-tiba kembali pingsan dalam keadaan seperti ini, apa yang menyebabkannya seperti sekarang?
Andre dengan sibuk melihat ke arah jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Jika dia menghitung dari awal keberangkatan maka sampai saat ini Andre sudah menghabiskan waktu 1 jam lamanya di perjalanan. Sedangkan di sepanjang ujung jalan yang terlihat masih saja sebuah hutan. Perasaan Andre mulai tidak tenang, bukan karena bosan tapi dia sangat mengkhawatirkan Sani.
"Nah, akhirnya kita sudah memasuki jalur utama." Seru Pak Dean.
Andre langsung memperhatikan ke arah jalan setelah Pak Dean mengatakannya, ternyata memang benar dan syukur saja jika waktu yang dibutuhkan tidak lama hanya satu jam bukan 2 jam seperti yang dikatakan Pak Dean tadi.
"Kita langsung ke rumah sakit saja atau ke tempat pusat kesehatan terdekat saja ya." Ucap Pak Dean.
"Udah sampai mana Pak?" Istri Pak Dean langsung terbangun di tengah obrolan Pak Dean dengan Andre. "Loh udah mau sampai ini?" Tanyanya lagi sebelum sempat Pak Dean menjelaskan.
"Kita ke pusat kesehatan terdekat Bu, sepertinya Sani butuh dokter kan." Jelas Pak Dean yang masih fokus memperhatikan jalan.
"Oh gitu, jadi kapan kita sampainya? Masih lama Pak?" Istri Pak Dean sudah memperlihatkan rasa jenuhnya, wajar saja perjalanan tadi kan sudah lebih dari cukup lama.
"Sabar ya Bu, Nak Andre juga tuh dari tadi nanya jalan aja terus. Insyaallah kita sampai kalau sudah waktunya kan." Diakhiri dengan sebuah senyuman yang tersungging di bibir Pak Dean.
Andre cukup malu mendengarnya, sebenarnya dia bukan takut tapi lebih ke merasa khawatir karena sudah melewati jalanan di tengah-tengah hutan, sesuatu yang tidak biasakan.
__ADS_1
"Neng Sani! Neng!" Terdengar Bu Ratih yang beberapa kali berusaha membangunkan Sani.
"Kenapa Bu?" Andre langsung bertanya panik.
"Tadi kayaknya bangun loh Ibu rasa tangannya gerak." Jawab Bu Ratih. Tangan Bu Ratih tak sengaja meraba ke bagian lengan Sani, dan dia langsung terhenyak kaget. "Kenapa ada luka seperti ini ya?" Celoteh Bu Ratih terdengar heran.
"Gimana Bu?" Andre langsung melihat ke arah lengan tangan Sani saat itu. Lagi-lagi dia juga cukup kaget hingga matanya terbelalak memperhatikan sebuah sayatan panjang beberapa goresan di tangan Sani. "Ini bekas luka Bu. Kok saya baru lihat ya." Ucap Andre heran.
"Bukannya Nak Andre yang selalu bersama Neng Sani, kan. Tadi juga kan sebelum berangkat Neng Sani sama Nak Andre." Terang Bu Ratih.
Andre terdiam, rasanya perkataan Bu Ratih benar, tapi anehnya mengapa Andre baru melihat bekas luka itu sekarang.
"Bu, ini kaya luka baru loh." Komentar Andre. "Tapi harusnya ada darah ya kalau luka sedalam ini, bekasnya pun gak ada." Andre dengan teliti melihat luka itu di matanya.
"Ada apa lagi, Bu? Luka? Luka apa Bu?" Istri Pak Dean yang mendengar juga ikut penasaran.
"Neng Sani gak apa-apa kan Bu? Bapak sudah berusaha cepet-cepet nyari tempat praktek dokter." Terdengar ucapan Pak Dean yang cukup khawatir saat itu.
Bu Ratih diam saja dia tidak berani menyimpulkan jelasnya situasi yang terjadi pun membuat nalarnya tidak bisa berpikir.
"Pak Dean! Pak! Berhenti!" Tiba-tiba Bu Ratih meminta Pak Dean berhenti. Nada bicara Bu Ratih membuat orang yang mendengarnya langsung merasa panik.
"Kenapa Bu?" Pak Dean masih berusaha agar dia tetap tenang dan fokus hingga akhirnya mobil berhenti terparkir di dekat Alfamart. Kebetulan sekali ada tempat untuk parkir.
Andre kaget dan melihat ke arah tatapan mata Bu Ratih, saat matanya mengabsen Andre menemukan sosok perempuan mengerikan itu tepat berada di depan kaca mobil Pak Dean. Jantungnya langsung berdebar tak karuan, Andre cukup terhenyak dan langsung menyimpulkan jika Bu Ratih juga bisa melihat sosok Wanita yang terus mengikuti di sepanjang jalan.
__ADS_1