
Ira hanya cemberut. Memikirkan nasibnya sendiri dan keamanannya. Semakin lama dia terus tinggal di tempat asing dengan orang-orang desa yang baru, membuat dia tidak bisa tenang. Apalagi setelah mengalami banyak kejadian dan keanehan yang terasa terus mengikuti di sepanjang matanya memandang. Tidak terlepas dari perasaan khawatir dan cemas, pikirannya ingin segera pergi dari tempat yang membuat dia harus merasa ngeri di setiap detiknya. Hanya saja apakah jika dia berhasil pergi dari desa semua masalah juga akan selesai? Seperti yang sudah banyak ia baca dan tonton jika masalah tentang jin itu memang ada dan nyata, apalagi setelah kejadian yang sudah menimpanya itu menambah keyakinan Ira bahwa bisa pulang saja bukan satu-satunya jalan, mungkin ada cara lagi yang akan dilakukannya seperti pengusiran setan.
Mata Ira hanya terbelalak, bagaimanapun Ira penikmat horror Indonesia dan dia juga sangat hapal dengan semua jin dan setan yang ada, apalagi sekarang dia malah harus merasakan langsung momen horror di kehidupan nyatanya.
Sekilas Ira melihat orang-orang desa yang masih sibuk bolak-balik ke rumah Pak RT yang ia tempati itu, melihatnya membuat dia risih karena antusias orang desa pada hal mistis masih kental.
Ira pergi tidak menghiraukan orang-orang, dia pergi keluar rumah lagi. Selangkah kaki keluar membuatnya kembali mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Tidak bagus, Ira tidak bisa membayangkan jika dia harus kedua kalinya mengalami hal yang sama. Teringat dengan cerita horror yang hampir sama, jika di setiap tempat pasti ada aturan yang harus dia patuhi sendiri apalagi sebagai pendatang baru. Atau sesuatu bisa saja terjadi lagi di luar keinginannya.
Lama Ira tertegun di ambang pintu.
"Pak RT ada mayat di sungai.!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Ira langsung melihat lelaki tua berlari dengan panik ke arahnya.
__ADS_1
"Mayat! Mayat!" Teriaknya lagi menggemparkan. Niatnya mungkin ingin memberitahu tapi Semua pasang mata memandanginya dengan sangat ketakutan.
Tidak lama orang-orang dari dalam rumah Pak RT langsung berlari keluar dan terburu-buru memasuki rumah mereka yang jaraknya tidak jauh hampir masih bersebelahan atau ada di seberang. Ira sampai terkejut melihat orang-orang kompak pergi ke rumahnya masing-masing, sedangkan saat matanya berbalik dia menangkap kebingungan dari raut wajah Pak RT, Ira bisa menebak mungkin karena sikap warganya sendiri yang malah kabur dalam situasi genting seperti ini membuat Pak RT kecewa.
"Padahal sebentar lagi jam 5 sore." Keluh Pak RT yang masih kebingungan, dia terlihat gelisah tapi juga tidak bisa melakukan apapun dan memaksa warga untuk membantunya memastikan.
"Mari saya bantu, Pak RT jangan takut.!" Ucap Pak Kyai yang kebetulan masih ada di rumah.
Mendengarnya sorot mata Pak RT langsung berubah, dia merasa tenang setelah Pak Kyai dengan suka rela menawarkan diri hingga dia ada teman yang cukup handal dalam situasi seperti kini.
"Neng Ira di dalam rumah ya jangan nongkrong di luar!" Ucap Pak RT sebelum akan pergi. Melihatnya Ira masih bisa merasakan perasaan cemas Pak RT yang tidak bisa dibuangnya dengan mudah.
Hanya tiga orang yang pergi, Ira menyaksikan punggung tubuh mereka yang hilang di ujung jalan. Tujuan mereka langsung ke tempat dimana bapak-bapak tadi menemukan temuannya itu dan mungkin mereka sudah melaporkan atas kejadian ini.
__ADS_1
Selepas melihat kepergian Pak RT, Ira yang masih berdiri di ambang pintu berbalik menuju ke dalam rumah, Ira menangkap pemandangan dari Bu RT di dalam rumah yang juga sangat terlihat khawatir. Melihatnya Ira bisa mengerti dengan orang-orang yang masih memiliki ketakutan tentang jin dan setan. Padahal apa yang sangat pentingnya? Jin dan Setan tidak perlu terlalu dipikirkan.
"Selalu saja pak RT sedangkan warganya sendiri jelas tidak mau mengurus masalah sebesar ini." Keluh Bu RT yang nampak tidak terima karena hanya suaminya yang terpaksa harus pergi ke tempat kejadian itu. Mendengar Bu RT membuat Ira menghentikan lagi langkah kakinya.
Ira hanya melihat dan mendengarkan saja karena dia tidak berani bertanya. Wajahnya menunduk ke bawah. Langkah kaki Ira bergerak mundur dan membuatnya kembali berada di luar rumah.
Ira melepaskan perasaan lelah dengan menghirup udara dan membuangnya. Rutinitas yang berharap dia bisa mendapatkan lagi ketenangannya.
Pandangannya jauh menerawang ke arah depan, memilih diam saja tanpa menghiraukan masalah yang sudah terjadi, dengan cara berkomentar atau ikut bicara berpendapat dengan Bu RT. Ira tidak melakukannya, perasaan hatinya tetap tidak berubah. Dia merasa tidak perlu ikut memikirkan masalah warga di desa ini, alasannya jelas karena dia juga tidak tahu dia masih bisa aman jika ikut campur dengan masalah warga.
Tiba-tiba saat termenung semilir angin kecil yang dingin langsung menyapa, menangkap Punduk nya dan membuat Ira merinding. Ira langsung melihat ke arah belakang mencari sumber angin, tapi tampak keadaan tenang tidak merasa jika ada hembusan angin lainnya yang menggerakkan ranting atau menerbangkan apapun. Dan pandangannya bergerak ke arah hutan yang berada tak jauh dari penglihatannya. Ira langsung terkejut melihat ke arah hutan seperti baru saja untuk pertama kalinya dia melihat ada sebuah hutan di seberang rumah.
Pandangan Ira tertahan pada rimbun pohon yang sangat lebat. Seketika dia sadar jika dilihat dari tempatnya hutan yang berada di depan itu pasti yang dia lalui dalam kejadian sebelumnya. Ira masih bingung dan tidak tahu kebenaran itu. Tadi dia pergi memasuki hutan itu? Mengapa dia baru melihatnya sekarang? Padahal dia tidak merasa sudah melihatnya tadi. Ira langsung terkejut saat di sepanjang lamunannya matanya menangkap sosok bayangan hitam yang samar dari celah pohon. Ira segera memalingkan wajah menarik kembali penglihatannya. Dia seperti menghindari apa yang dilihatnya. Tadi itu orang kan? Pertanyaan yang langsung dia pikirkan. Ira tidak ingin berpikir lain, lebih tepatnya berpikir jauh tentang makhluk yang ada di dalam hutan tadi, dia berusaha untuk tidak melihatnya.
__ADS_1
Beberapa saat Ira diam santai di depan rumah, dan suasana tak terasa semakin gelap juga.
Entah mengapa Ira merasa sangat terjaga di setiap suara yang terdengar, entah karena suara daun atau angin. Sudut matanya bergerak hati-hati, dia terus menundukkan wajah dan tidak berani mengangkat kan wajahnya. Ira merasa ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya saat itu, langsung muncul ke dalam pikirannya banyak sosok yang sering muncul terus menghantui di pikiran hingga Ira harus merasa was-was lagi.