
Saat berbalik Andre langsung terhenyak kaget melihat seseorang sudah berada di depan matanya.
"Ini saya Pak Rais." Ucap Pak Rais. Andre dengan ekspresi kaget masih berusaha menyusun lagi perasaan yang tersisa setelah baru saja dia merasa jantungan hebat.
"Saya kira apa, Pak." Ucap Andre menundukkan wajah mengatur napasnya yang naik turun.
"Kamu kira saya hantu." Cetus Pak Rais.
Andre tidak menjawab, sebenarnya memang itu yang dia pikirkan. Saat matanya mengintip ke arah gang Andre masih memperhatikan Sani yang berdiri di gang itu.
"Oh ia saya sampai lupa." Ucap Pak Rais dengan nada khawatir. "Nak Andre, itu ke apa ya Non Sani di sana diam saja. Saya sudah berusaha mengajaknya bicara tapi diam saja terus. Kok saya khawatir ya." Jelas Pak Rais.
Mendengarkan penjelasan Pak Rais batinnya seperti dipukul hebat saat itu. Andre tak menyangka jika itu memang Sani, tadi kira dia sedikit takut jika itu bukanlah Sani melainkan hantu karena dari tadi Sani kan ada di pohon tak lama sudah ada berdiri di sana.
Pikiran Andre langsung tertuju pada Sani, dia bersiap untuk mendekat ke arah Sani. Tidka boleh dibiarkan terus jika Sani kerasukan mungkin sudah tugasnya untuk menyadarkan.
"Nak Andre, apa Bapak salah lihat?" Ungkap Pak Rais tak menyangka membuat Andre menghentikan lagi niatnya.
Andre berbalik menatap Pak Rais yang tampak memperhatikan ke arah jendela kamar Tri, benar saja jika di sana kan Pak Tarman sedang melakukan sesuatu pada Sani. Apa sebaiknya sekarang dia menjelaskan dan langsung melakukan penggrebekan pada Pak Tarman.
"Astagfirullah, Nak Andre. Di rumah itu Pak Tarman kan?" Ucap lagi Pak Rais. Andre hanya bisa memutar bola matanya tanpa mengatakan apapun saat itu. Dia benar-benar sangat takut dan bingung. Hingga akhirnya ragu untuk menjelaskan.
"Ayo cepat Nak Andre!" Ajak Pak Rais menarik lengan Andre. Tak disangka tindakannya itu membuat Andre langsung membulatkan mata. Sudah saatnya untuk melakukan rencana yang sangat penuh pertimbangan itu.
Tak disangka jika Pak Rais yang melakukan rencananya dan itu kabar baiknya.
Andre bingung menatap Pak Rais yang tampak sangat khawatir, memperlihatkan jika Pak Rais memang tidak mengetahui apapun tentang hubungan Pak Tarman.
"Cepat !" Pak Rais nampak tak sabar.
__ADS_1
Mau tidak mau Andre harus mengikuti niatnya itu. Mungkin memang sudah jalannya jadi dia hanya harus mengikuti alur ini sekarang.
Pak Rais bergegas mempercepat langkah kakinya saat itu, mungkin setengah emosi jika dia terus melihat kelakuan Pak Tarman dengan Sani.
"Tarman buka! Tarman!" Teriak Pak Rais dari arah luar menggedor pintu rumah yang tertutup.
Andre tak ingin membayangkan bagaimana perasaan Pak Tarman saat itu, dia tidak ingin juga mengingat dengan tindakan yang sedang dilakukan Pak Tarman. Itu sangat menjijikan dan membuat dia harus bergidik ngeri.
"Tarman! Cepat buka!" Teriak lagi Pak Rais karena tak puas melihat Pak Tarman belum membukakan pintu.
Di sisi lain Andre bingung, matanya masih menatap kearah Sani dengan khawatir.
"Jangan pergi! Mau kemana kamu?" Ucap Pak Rais.
"Sani di sana Pak!" Terang Andre sambil menunjuk ke arah Sani.
Beruntung tangan Andre terlepas dari pegangan erat Pak Rais hingga dia langsung berlari menghampiri ke arah Sani yang masih berdiri di antara jalan gang itu.
Andre terdiam lagi menatap Sani yang melamun dengan tatapan kosong. Selain pertolongan pak ustad siapa lagi yang akan menyadarkan Sani? Dia cukup bingung untuk mengatasi orang kesurupan.
"Apa sih Lo?" Sengit Sani membalas panggilan Andre. Mendengarkan sebuah jawaban dari Sani seketika Andre terperanjat. Padahal tadi dia sudah yakin jika Sani kesurupan.
"Ngapain di sini?" Tanya Andre masih ragu-ragu dia tidak ingin tertipu oleh tampang Sani saat itu.
"Mana Gua tahu. Tadi kan di kamar ngapain ada di sini." Jawab Sani tampak bingung melihat ke sisi kanan dan kirinya dengan pemandangan yang berbeda.
"Itu Pak Rais kan?" Sambung Sani saat matanya menangkap Pak Rais yang terus berusaha menggedor pintu.
"Wah ketahuan deh kan!" Ungkap Sani.
__ADS_1
"Mau berdiri terus?" Tanya Andre membuyarkan. "Cepat ikut!" Ajak Andre merasa sia-sia saja jika terus berdiri seperti gerbang di depan gang.
Sani mengikuti langkah Andre yang tampak saat itu sudah mendekat ke arah rumah.
"Gak dibuka." Ucap Pak Rais kecewa. Dia menggelengkan kepala dan terlihat memikirkan cara lain.
"Ada pintu lain gak ya?" Tanya Andre.
"Betul sekali, kita bisa lewat pintu belakang. Ayo cepat!" Seru Pak Rais terburu-buru langsung mempercepat langkah kakinya. Padahal tadi Andre tak berniat memberikan sebuah ide itu hanya terlintas begitu saja.
Andre, Pak Rais, dan Sani berjalan bersamaan ke arah pintu belakang tepatnya ke pintu dapur di dekat kamar yang harusnya Sani sudah tidur di sana.
Namun sudah sampai di depan pintu tiba-tiba pintu terbuka. Tampak keluar wajah Pak Tarman yang setengah mati merasa terkejut karena melihat ketiga orang yang tampak sudah berada di depan matanya.
"Tarman! Kamu mau lewat jalan sini? Kenapa gak buka pintu depan dari tadi?" Sengit Pak Rais yang mungkin setengah emosinya masih dia simpan di dalam hati.
Pak Tarman tak menjawab dia masih mengabsen memandangi satu persatu wajah Andre dan Sani saat itu.
Andre tak sedikitpun menundukkan tatapannya, dia ingin sekali melihat wajah Pak Tarman apakah ada segaris kecewa saja yang terlintas.
"Tarman! Ngapain kamu dari tadi? Aku sudah lihat semuanya!" Bentak Pak Rais merasa tak puas DNA kecewa karena sudah diabaikan.
"Apa sih Rais? Kamu memangnya lihat apa?" Timpal Pak Tarman.
"Kamu mau tahu lihat apa? Cepat sini biar kamu tahu." Pak Rais tak segan menarik lengan Pak Tarman yang beberapa kali menahan ajakan Pak Rais mungkin dia juga ingin menolak dan melawan tapi sebagian hatinya yang sangat terkejut membuat Pak Tarman tidak bisa melakukan apapun juga.
"Di sana lihat! Itu Tri kan?" Tunjuk Pak Rais tepat ke depan wajah Pak Tarman menunjukkan Tri ya g masih duduk di dalam kamar.
Bak melihat hantu, Pak Tarman nampak terkejut saat tahu siluet dari kamar begitu tergambar jelas dari luar. Apakah itu artinya selama ini dia tidak sadar jika segala sesuatu yang terjadi di dalam sana sangat terlihat jelas dari arah luar.
__ADS_1
"Dia itu anak kamu. Anak sambung!" Ucap Pak Rais sangat marah. "Kamu menikahi Ibu mereka dan dia anakmu." Tekannya lagi membuat Lam Tarman tak bisa berkata apapun lagi. Dia mematung mendengarkan Pak Rais sahabat nya.