
Pikirannya jauh melayang yang membuat Andre kembali melamun. Jika bisa, dia ingin melupakan semua masalah yang sudah berakar tertanam di dalam kepalanya kini. Dan juga melupakan Sani anggap saja semuanya tidak pernah terjadi, Andre hanya ingin kembali pada kehidupan normalnya seperti dulu di kampung sana.
Beberapa saat melamun permintaan Pak Arman yang dibicarakannya tadi kini terngiang jelas di ingatan. Andre cukup bimbang, dia tidak bisa mengabaikan semuanya yang terjadi di depan mata, sekali lagi dia merasa hatinya benar-benar berat. Tapi di sisi lain jika kembali mengingat Nenek di kampung sedikit membuat hatinya juga terpanggil untuk pulang dan Andre tidak bisa menahannya lebih lama lagi, perasaan ingin bertemu dengan Nenek.
Secepat cahaya sudut matanya tertarik dengan bayangan yang tercipta jelas di balik tirai jendela rumah. Padahal masih malam, menakutkan juga jika sesuatu yang tak terbiasa tampak lagi.
Andre mulai mengatur perasaannya agar tetap tenang, dia penasaran sosok yang menjadi bayangan di balik tirai itu. Meski sekilas tapi Andre yakin jika itu bukanlah bayangan biasa yang muncul sebagai halusinasinya saja. Tapi semoga itu benar, jika yang Andre lihat hanya halusinasi saja.
Andre melamun frustasi, dia kesal karena tidak bisa memutuskan satupun pilihan hidupnya, dia juga sangat kesal karena menjadi orang yang bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata.
Saat tertidur menyamping, sialnya lagi Andre merasa ada seseorang yang tepat ada di belakang punggungnya saat itu. Sedetikpun Andre tak bisa berkutik, tubuhnya benar-benar terkunci dengan perasaan panas yang mulai menyiksa di dadanya. Jantung yang berpacu cepat membuat Andre semakin gelisah, entah siapa yang datang namun yang pasti itu bukanlah manusia biasa melainkan sesuatu yang seharusnya tak datang saat malam seperti ini.
Andre masih terdiam kaku dalam posisi tidur yang sama, sosok itu masih terasa ada di belakang tubuhnya, jarak yang sangat dekat sekali entah berapa Senti meter.
Sekuatnya Andre membanting tubuh hingga dalam posisi terlentang, napasnya yang masih naik turun menandakan perasaan takut yang menyelimuti. Namun tidak ada siapapun, tepatnya Andre tak bisa melihat sosok tak kasat mata itu. Sayang sekali tapi cukup membuat perasaan lega.
__ADS_1
Untuk menyegarkan kembali pikirannya Andre berdiri dari kasur dan berjalan menuju lemari kulkas. Dia butuh minum setelah detik-detik menegangkan itu.
Sebuah air mineral yang dingin juga sudah cukup.
Matanya tak sengaja menatap pintu yang tadi sengaja Sani kunci dari dalam. Spontan Andre berjalan menuju pintu bermaksud ingin membuka kunci karena merasa tak enak juga jika Pak Arman tidak dibiarkan masuk.
Niat Andre tertahan lagi, tangan yang sudah meraih ujung kunci di lubang pintu padahal hanya tinggal dia putar saja dengan mudah. Tapi Andre mengurungkan rencananya itu. Dia bertekad untuk tidak melakukan permintaan Pak Arman juga rencananya sendiri. Pikirannya dia hanya akan melakukan apapun sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sendiri. Apapun nanti Andre hanya tinggal berpikiran sederhana seperti biasanya, menyelesaikan masalah dengan cara sangat sederhana, dia tidak butuh sebuah permintaan penting yang tidak dia ketahui alasan jelasnya, dia juga akan melupakan Sani, Andre hanya harus menganggapnya sebagai tempat untuknya bekerja tidak ada yang lain.
Tak ingin merasakan pusing lebih lama, dia akhirnya bisa memutuskan apa yang ingin dia lakukan sendiri. Tidak akan membuatnya menyesal kan jika segala sesuatunya dia lakukan karena pilihan hatinya.
Andre kembali tidur di atas kasur. Untuk waktu yang baru saja menunjukkan pukul 09.00 malam, seharusnya tidak sedingin dan sesepi ini. Aneh saja karena Sani terbiasa dengan larangan Pak Arman yang tidak memperbolehkannya untuk turun dari lantai atas.
Buaaghhh....
Suara benturan yang sangat keras.
__ADS_1
Andre terperanjat dari tidur yang baru saja membuat sebentar matanya terpejam.
Dari alam bawah sadarnya itu, dia yakin sudah mendengar sebuah suara keras seperti hantaman sampai-sampai dia juga terbangun kaget.
Saking terkejutnya Andre merasa sudah kembali segar, kedua mata yang mungkin tadinya sayu karena mengantuk sekarang 100 persen sudah hilang. Andre terjaga karena sesuatu yang tidak jelas seperti itu.
Matanya mengitari seluruh ruangan yang tidak melewatkan sejengkal pun oleh pengawasannya.
Sekarang pada malam hari, mata Andre memang terlihat dengan sangat normal sama seperti sebelumnya. Andre tidak melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang normal, sekecil apapun itu Andre tidak bisa melihatnya.
Syukur sekali, entah untuk ke berapa kalinya lagi Andre mengucap syukur di dalam hati. Setidaknya beberapa saat dia bisa menghirup napas lega.
Namun tak sesuai dengan rencana. Saat matanya kembali melihat ke arah jendela sesuatu yang tampak seperti tadi ada lagi. Namun sekarang Andre bisa menebak bayangan di balik jendela itu adalah seorang perempuan.
Hatinya berdegup kencang lagi, Andre tak mengerti dia cukup bingung karena yang langsung terbayangkan adalah sosok perempuan itu.
__ADS_1
Beberapa detik bayangan itu hilang lagi di depan mata. Khasnya hantu yang hanya menakuti, seperti itu lah yang Andre lakukan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang harus Ande lakukan hanya harus terbiasa dengan semua itu, apapun alasannya dia harus terbiasa.
Waktu terus bergulir, sayang sekali karena kali ini malam terasa panjang. Andre tak bisa mengejapkan mata, dia harus terbiasa dengan rasa bosan rupanya.