Dunia Mu

Dunia Mu
Akhirnya


__ADS_3

Sani langsung menarik kesadarannya dia berusaha bersikap biasa saja dan tidak memperlihatkan bagaimana suasana hatinya sekarang. Tentu saja dia begitu bimbang dan canggung dengan sikap Andre yang tidak biasanya.


Saat ingin mengambil sendok sayur secara tak sengaja keduanya bersamaan mengambil sendok, hingga mata Sani yang sudah canggung dari tadi kembali bertemu dengan tatapan Andre. Tak lama keduanya juga langsung melepaskan tangan dan tersenyum seolah berbicara sedang mempersilahkan Andre untuk mengambil sayur lebih dulu, begitupun Andre sebaliknya.


"Ibu bakalan rindu banget suasana makan bersama yang sangat jarang ini. Kalau kalian jadi pulang sekarang pasti bakalan lebih jarang lagi ya." Bu Ratih dengan santainya berbicara, dia tidak bermaksud untuk menyinggung dan membuat Andre agar segera pulang, tapi Bu Ratih seolah kembali mengingatkan kesepakatan Pak Dean dan dirinya.


"Jadi kalian mau pulang hari ini?" Sontak istrinya Pak Dean langsung bertanya seolah tidak percaya.


Andre yang dari tadi berusaha untuk mengambil sesuap nasi ke dalam mulutnya langsung berhenti. Hatinya kembali bingung bahkan harusnya dia yang mengatakan tegas di hadapan semua orang jika dia akan pulang bersama Sani.


Sedangkan Sani yang mendengarkan pembicaraan orang-orang dia hanya bisa melongo kaget sekaligus tidak percaya, apakah dia harus senang atau sebaliknya?


"Karena acara makannya jarang banget, jadi mending kita harus menikmatinya dengan senang. Soal itu nanti Andre yang berbicara sendiri. Begitu kan ya?" Ucap Pak Dean malah mewakili isi hatinya, benar sekali Andre harus berbicara pada semua orang di waktu yang tepat dan di saat dia siap untuk mengatakan pamit.


Bu Ratih tersenyum. "Pokoknya acara makan bersama ini yang paling berkesan. Di rumah yang sudah jarang kedatangan orang dan Ibu masih merasa seperti mimpi." Ungkap Bu Ratih seolah dia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.


"Tenang Bu Ratih, aku sama Bapak bakalan makin sering kesini kan beruntung banget bisa numpang makan." Celoteh istrinya Pak Dean. Dan serempak Pak Dean dan yang lainnya juga ikut tertawa senang mendengarkan guyonannya.


"Pokoknya kalau urusan makan, Bapak nomor satu " Ucap Pak Dean yang langsung kembali ditertawakan.

__ADS_1


Dan masih seperti mimpi, bagi Sani, bagi Andre, Pak Dean juga istrinya, dan Bu Ratih. Siapa sangka jika kesempatan itu datang, Andre harus pulang memenuhi tanggung jawabnya yang sudah lama dilupakan.


Suasana semakin akrab dan benar saja jika makan bersama kali ini begitu sangat berkesan.


Diam-diam Andre menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya, untuk sekarang dia ingin menyimpan momen setiap ekspresi dari orang-orang yang dia lihat sekarang. Akhirnya kesempatan itu datang dia akan pulang dan mengantar Sani selamat sampai di tengah-tengah keluarganya. Begitupun Andre akan mengakhiri sejenak kasus yang sedang dia hadapi terutama karena dia adalah saksi dari kedua kasus yang cukup rumit. Tapi sekarang rasanya dia tidak ingin mengingat hal lain, hari ini Andre ingin merasa senang dan sangat bahagia. Dengan begitu beban yang mengikat batinnya bisa terlepas sendiri.


"Terimakasih untuk semuanya, terutama Pak Dean."Ucap Andre di tengah-tengah keramaian dari renyahnya obrolan semua orang. Dan saat ini perhatian yang lain teralihkan ketika Andre mulai berbicara dengan bibir yang tersenyum tulus.


Pak Dean langsung diam dan diikuti dengan yang lainnya. Mata Pak Dean nampak fokus memperhatikan Andre yang sudah tidak lagi banyak melamun dan matanya kini fokus melihat pada semua orang.


"Saya sangat senang tidak menyangka setelah sekian lama tinggal di tempat orang tapi bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan baik." Lanjut Andre berbicara merangkai setiap ucapannya dengan nada bicara yang santai.


Pak Dean dan orang-orang hanya bisa saling membalaskan pandangan, mata yang seolah berbicara tentang beban di hati Andre.


"Saya hanya ingin meminta maaf. Walau terlambat." Lanjut Andre berbicara meski dengan bersusah payah ketika dia harus menahan kesedihan dan sesak di hatinya sekaligus harus berbicara.


"Kok jadi begini ya. Apa Ibu yang merasa perpisahan itu sesedih ini. Kita terlalu mendalami peran ya!" Ucap Celoteh Bu Ratih ketika beberapa saat Andre terdiam.


"Ah Ibu, itu sih biasanya karena efek terlalu banyak nonton drama korea." Ledek Pak Dean yang diakhiri dengan tertawaan. Dan semua orang juga berusaha untuk tertawa mengembalikan suasana.

__ADS_1


"Pokoknya Nak Andre dan Neng Sani kapan-kapan main kesini lagi. Jangan kapok. Lagipula kalau urusan takdir siapa juga yang tahu, sesuatu yang sudah terjadi itu sudah takdirnya kan" Ucap Bu Ratih sangat berharap Andre tetap menjaga hubungan baik diantara semua orang yang hadir, bukan karena kejadian itu Andre sampai merasa bersalah dan kembali enggan untuk datang.


"Bapa dan keluarga sudah ikhlas, yang terpenting sekarang hanya doa itu yang bisa kita lakukan." Timpal Pak Dean, meski dalam hatinya entah bagaimana karena sebagai anak satu-satunya tentu saja dia yang paling merasa kehilangan sosok ayah. Tapi Pak Dean sekarang tampak yang paling tegar diantara semua orang.


Andre masih tidak berbicara, bagaimanapun beban itu tidak bisa dia lupakan dengan mudah terlebih Andre baru kali pertama ini mengalaminya.


"Lanjut makan lagi yuk, duh sayang banget nih padahal Ibu Pak Dean ini udah susah payah bantu masak." Seru Bu Ratih menengahi suasana yang saat itu terasa canggung.


"Padahal Ibu cuman bantu motong sayur juga kok " Timpal istrinya Pak Dean lalu tertawa.


"Kayaknya bakal ada yang nagih nih Bu dengan masakan Bu Ratih ini. Nak Andre bakalan kangen banget loh!" Celoteh Pak Dean yang langsung disambut dengan tatapan Andre saat itu, meski Andre cukup kikuk.


"Harus nagih biar Nak Andre dan Neng Sani kapan-kapan datang lagi ke rumah Ibu, kan kalau ramai kayak gini rasanya udah lengkap aja." Balas Bu Ratih.


Sedangkan Sani hanya bisa memperhatikan beberapa orang tua di hadapannya, dia tidak bisa lancar berbicara jika lawan bicaranya adalah orang uang lebih tua darinya.


"Neng Sani, puji dong Bu Ratih biar nanti semangat masakin lagi." Istri Pak Dean tak kalah kembali berusaha mencairkan suasana.


Bu Ratih tersenyum melebarkan bibirnya, tapi matanya memang tidak bisa lepas dari Andre, dia hanya ingin memastikan jika Andre sudah biasa kembali.

__ADS_1


"Pokoknya Pasaman Ibu terbaik." Tiba-tiba puji Andre diakhiri dengan senyumnya. Itu sudah cukup melegakan dari pada Andre membisu saja.


__ADS_2