
"Pasti disini ada yang gak beres, Pak Parman (Mamang kosan) masih saja berani menyuruh ku untuk menyajikan sesajen di kamar itu. Kaya sebuah pemujaan dan bisa saja orang yang mati di sini karena dijadikan tumbal." Gerutu Anis dalam hati sambil membereskan baju ke dalam koper nya.
"Neng mau kemana kok bajunya dimasukan semua?" Terdengar suara Pak Parman menyapa Anis dari luar.
"Aku mau pindah Pak, oh ya untuk pembayaran kosannya nanti siang setelah saya ambil gajih dari rumah sakit." Ucap Anis percaya diri.
Pak Parman masih memandangi Anis dengan geram. "Hutang mu juga harus dilunasi loh, udah punya uang nya?" Cetus Pak Parman dengan angkuh bahkan memandangi Anis sangat judes.
Mendengar kata-kata itu Anis langsung bisa menebaknya, uang yang dipakai puluhan juta dari Pak Parman. "Sial. Dia dari awal emang gak niat buat bantu cuman mau memperalat supaya aku selalu bisa disuruh macem-macem." Ketus Anis dalam hatinya. "Apaan sih Pak kan udah dibayar kalau aku lakuin kemauan Bapa, aku kan udah nurutin kemauannya kemarin." Anis sudah tersulut emosi, dia bahkan tidak bisa mengatur nada bicaranya.
"Ciih" Pak Parman meludah di tempat. "Emangnya hutang begitu banyak bisa langsung lunas?"Pak Parman tak mau kalah dia juga berteriak di hadapan Anis.
Anis langsung memandangi Pak Parman dengan geram. "Ingat ya Pak aku bisa bayar semua utangnya, emangnya Bapak pikir aku gak tahu?" Balas Anis tanpa rasa takut lagi. "Bapak melakukan pesugihan kan? Aku tahu semuanya dan aku bisa membuat Bapak masuk penjara." Bisik Anis ke telinga Pak Parman mengancam.
Pak Parman sampai melotot mendengarkannya. "Kamu emang harus diberi pelajaran, biar tahu diri dan gak asal ngomongnya!" Cetus Pak Parman dia berlalu dengan begitu saja dari kamar Anis.
"Rasain, emangnya dia kira aku anak kecil gak ngerti apa-apa." Anis merasa puas berhasil mengusir Pak Parman dari kamarnya. Dia segera menutup pintu kamar dan mengunci dari dalam. "Pokoknya harus beres dulu baru aku pergi dari sini, kalau gak dikunci bisa-bisa orang gak tahu diri itu nyelonong lagi masuk ke sini." Anis terus saja membicarakan Pak Parman sepanjang dia membereskan baju di dalam.
Hari itu adalah hari libur tepatnya hari Minggu, Anis mengambil hari libur dan kerja di hari Senin sampai Sabtu non sip. Memang sepi kalau hari libur biasanya orang-orang pergi ke car free day yang ada di alun-alun, selain itu kamar kosong di sini bertambah terus karena para penghuninya pindah, tepatnya dua hari yang lalu. Hanya sisa 2 kamar yang masih diisi kalau dia pergi hari ini. Tak peduli yang penting Anis harus pergi dulu gimana pun caranya.
Anis selesai merapihkan baju ke dalam koper sekarang dia bersiap untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Sampai saat itu Anis masih belum percaya penuh dengan kalung yang diberikan oleh Neneknya, dia juga belum memakainya hanya terus dibawa di saku celana yang baru saja sudah dilepas karena Anis mengganti pakaiannya.
Tidak terlalu banyak barang yang dia pakai, karena di kosan sudah tersedia lemari tempat masak nasi dan dapur umum. Jadi Anis hanya membawa pakaiannya yang sedikit.
Anis sudah menyiapkan tas ransel yang penuh dengan pakaian kotor dan sebuah koper berukuran sedang diisi penuh dengan pakaian bersih. Akhirnya sudah beres semua, bola matanya bergerak menatap sampah yang belum dibuang dari kemarin, Anis segera mengambil tempat sampah yang penuh dengan sampai kering seperti plastik, dibukanya kunci pintu kamar dan dia tarik sampai terbuka.
"Loh kok sudah gelap aja?" Pekik Anis tak percaya, pemandangan diluar sudah berubah menjadi gelap padahal dia ingat betul harusnya sekarang masih siang kan.
Saat itu pikirannya tidak bisa lagi mencerna logika dari kenyataan yang sekarang dia lihat.
Anis seperti linglung melihat ke samping kiri dan kanan hingga dia melihat ke atas saat dia berdiri.
"Aaaa...." Teriak Anis ketakutan, dia sampai berlari dan menabrak benteng beruntung tidak sampai terjatuh kebawah.
Panjang lidahnya menjulur sampai bagian dada berwarna putih pucat senada dengan wajahnya yang juga pucat, Anis melihat warna bola matanya yang seluruhnya putih.
Tiba-tiba sosok itu mengejar seperti seekor kadal sedang berlari sangat cepat menuju ke tempatnya. Anis ketakutan mencari cara agar bisa menghindari kejaran makhluk di hadapannya. Tentu saja bukan manusia, mungkin setan.
Anis tidak bisa pergi kemanapun lagi, dia sampai tersudut di pojokan, satu-satunya jalan yang dilihat hanya balkon lantai dia harus loncat dari tempat itu?
Anis menggelengkan kepala dan hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit dan tersendat di tenggorokan. Apa yang bisa dilakukan bahkan untuk bernapas pun dia tidak bisa.
__ADS_1
Ha...ha...ha...
Suara tertawa seseorang memecah ketakutan Anis.
Tapi yang dilihat membuat dia harus menelan kecewa lagi, ternyata Pak Parman.
Pak Parman berjalan tunggang langgang dengan tangan yang bersedekap di dada, tertawa puas mentertawakan Anis yang sangat ketakutan. Anehnya Makhluk itu langsung diam tak bergerak saat Pak Parman datang mendekat, dan dalam sekejap mata berubah menjadi sosok perempuan tinggi semampai yang menggelayut manja di punggung Pak Parman, memeluk Dari arah punggung.
Kali ini Anis melihat lagi sebuah pemandangan yang tidak dia inginkan, tatapan dari Pak Parman yang membuat dadanya sesak karena emosi.
"Kamu bahkan gak bisa kembali hidup-hidup!" Ancam Pak Parman. Mendengarnya Anis langsung bergidik ngeri dia tak menyangka bisa berurusan dengan pemuja setan seperti ini. Apa yang bisa dilakukannya untuk pergi?
"Disuruh nurut saja susah malah melawan, padahal kan orang miskin itu susah buat dapat uang puluhan juta dalam satu malam. Gak bersyukur banget." Gerutu Pak Parman mengatai Anis.
Anis tidak bisa bergerak sedikitpun apalagi harus melawan kata-kata Pak Parman, rasanya tidak sanggup.
"Aku ini baik hati, sekarang pilih! Mau hidup atau mati saja?" Pak Parman langsung menyerang Anis dengan sebuah pilihan yang tidak bisa dimengerti. Jika Anis memilih hidup apa yang akan terjadi pada hidupnya? Jika Anis memilih mati apakah itu artinya?
Anis tertegun dia masih tidak.bisa menjawab, tapi siapa yang ingin mati konyol? Dia harus tetap hidup untuk Ibunya.
"Apa untungnya? Aku hidup atau mati itu bukan urusan kalian kan!" Jawab Anis, tetap saja pada akhirnya dia merasa bersalah karena sudah berani berbicara seperti itu, apa mungkin kali ini dia tidak bisa lepas dari ancaman Pak Parman lagi? Bagaimana nasib Ibunya?
__ADS_1
"Menarik." Ucap Pak Parman. Terdengar seperti hinaan bagi Anis.
Secepat cahaya suasana langsung berubah, Anis melihat dirinya masih di dalam kamar kosan itu, baju yang dirapihkan tadi? Koper? Tas ransel? Anis melihatnya masih tetap di tempat semula, dan semua baju tertata rapih di dalam lemari. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?