
Mata Sani tak hentinya mengabsen ke setiap sudut pandangan malam yang dia dapatkan di jalan. Ada perasaan takjub dan bingung, benar seperti yang sudah dikatakan oleh Pak Dean di sepanjang jalan tadi dia yang berada di dalam mobil merasakan suasana sama. Yang terlihat hanya jalanan sepi tanpa ada orang apalagi keramaian dari lampu-lampu jalan yang ditata sebagai penerangan untuk para penjual.
Sani menatap ke arah Andre yang masih menundukkan wajah, sempat terlihat jika Andre tampak gugup.
"Pak, apa kita bisa teruskan jalannya lagi?" Tiba-tiba Sani bertanya berharap sekali jika perjalanan ini cepat selesai dan sampai di rumah Pak Dean.
"Tadi Andre mau ngopi, sepertinya Bapak juga. Jadi gimana gak apa-apa kan? Lagian banyak yang jualan kami bisa beli makanan dulu." Ucap Pak Dean sambil melihat ke arah Andre, dia berharap untuk mendukung sarannya itu tapi melihat Andre yang menunduk saja Pak Dean ragu-ragu mengambil keputusannya sendiri.
Sani harus kembali menghela napas, akhirnya rencana dia untuk bisa tidur lebih awal gagal lagi. "Baiklah Sani ikut Bapak dan Andre." Sani memberikan keputusannya.
"Pak!" Panggil Andre berhasil menghentikan langkah Pak Dean dan Sani yang lebih dulu berjalan di depannya.
Pak Dean menatap bingung ke arah Andre saat itu.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Pak Dean memastikan.
Andre terlihat menarik napas, sebaiknya Bapak telpon Ibu dan sekalian Bapak tidak bisa ke rumah sakit lagi.
Mendengar perkataan Andre yang tidak masuk akal Pak Dean memicingkan mata ke arahnya menatap Andre dengan sangat heran. "Kenapa Nak Andre? Jika seperti itu kan Ibu bisa sendirian di rumah sakit." Terang Pak Dean yang tentu saja dia langsung merasa keberatan.
"Udah deh Pak jangan dengerin Andre!" Timpal Sani langsung memotong percakapan mereka, Sani terlihat malu tak menyangka jika Andre bisa tak tahu diri seperti itu. "Kan mau ngopi, udah ngopi dulu jangan bahas yang aneh-aneh." Terang lagi Sani yang sepenuhnya menolak dan tidak terima perkataan Andre itu.
__ADS_1
Pak Dean mematung, lekat sekali dia melihat ke arah Andre yang sedikit dalam perhatiannya ada sesuatu yang salah dengan penglihatan Andre karena itu Pak Dean tertarik sekaligus penasaran Saat Andre hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Tunggu! Kita dengarkan lagi perkataan dia." Pak Dean berhasil menghentikan Sani yang kala itu dia sudah setuju dan bersiap untuk ngopi.
Sani berdecak kesal akhirnya dia hanya memalingkan wajah ke arah lain, terlampau kesal sampai-sampai Sani tak ingin melihat Andre.
Andre mendongakkan wajahnya, sebetulnya saat itu dia tidak bisa mengatur perasaannya sendiri. Perasaan tenang seolah sudah hilang dalam hidupnya setelah dia melihat sosok Jin wanita itu. Apalagi kali ini yang dia lihat di hadapannya. Jin wanita seolah menempel pada Sani dan dengan jelas memperlihatkan wujudnya di mata Andre, tapi sayang sekali karena hanya dia yang bisa melihat kengerian itu.
Tangan Andre masih gemetar, irama jantungnya dari tadi sudah berdegup kencang, kalau bisa Andre lebih memilih langsung pingsan agar dia tidak seterusnya melihat sosok yang menjadi trauma di masalalu nya.
Pak Dean langsung menyentuh bahu Andre sedikit membuat Andre sadar dan balas melihat ke arah Pak Dean dengan perasaan yang masih sama.
Sani masih manyun cukup kesal, dia tidak hanya tak terima karena setiap perkataan Andre, kali ini Sani cukup kesal saat Pak Dean yang juga mendukung perkataan Andre. Tapi harus bagaimana lagi karena situasinya Sani sangat membutuhkan dua orang itu.
"Sekarang kamu bisa kan ngopi dulu?" Tanya Pak Dean melihat ke arah Andre.
Andre cukup menganggukkan kepala tanda setuju dan ketiganya langsung pergi mencari penjaja makanan yang menyediakan minuman kopi. Jika untuk Sani dia hanya perlu langsung memilih makanan apa yang ingin dibeli.
Sibuknya Sani yang memilih makanan diantar Pak Dean dan juga Andre, tapi hanya dua orang uang saling berbicara kecuali Andre yang masih diam sibuk sendiri. Tentu saja mata Andre terus melayangkan pandangannya ke arah mobil mereka tadi, di sana sayangnya masih tampak setan yang sama itu, tapi anehnya di dekat Sani juga ada jenis yang sama. Andre tak ingin penasaran bahkan untuk bertanya apapun, saat membayangkannya saja dia sudah tidak sanggup apalagi harus mencari tahu.
"Loh Nak Andre kok belum pilih makanan juga?" Protes Pak Dean saat melihat Andre yang memperhatikan ke sembarang arah lain dan di tangannya belum juga ada makanan pilihan.
__ADS_1
Andre terperanjat mendengarnya, dia seperti kaget karena baru saja diingatkan sesuatu yang sudah dilewatkannya.
"Saya akan makan itu!" Ucap Andre terburu-buru mengatur diri sambil berjalan ke arah gerobak makanan yang dipilihnya saat itu.
Pak Dean hanya menggelengkan kepala. Sementara Sani yang sudah siap dengan makanan di tangan memilih untuk kembali ke dalam mobil. Bukankah sudah tidak ada alasan untuk tetap berada di luar mobil?
"Saya sudah cukup banyak, Pak. Boleh ke mobil sekarang?" Tanya Sani.
Pak Dean sekilas melihat ragu ke arah Andre yang saat itu terlihat sibuk membeli makanan yang dipilihnya. "Boleh sepertinya, di mobil saja kita nunggu Andre." Balas Pak Dean menyetujui.
Terburu-buru Sani pergi ke dalam mobil yang saat itu terparkir tidak begitu jauh di badan kiri jalan yang sedikit menjorok ke lahan terbuka pedagang yang menjajakan makanan di sana.
Pak Dean berjalan mengikuti Sani.
Dan tanpa sadar karena Andre yang tidak memberitahukan pada Pak Dean apa yang dilihatnya saat itu ternyata berhasil membuka sedikit kesempatan untuk setan mencari peluang agar mengacaukan kembali penglihatan Pan Dean.
Andre yang baru saja sudah selesai memesan dan siap menunggu, dia langsung mengalihkan penglihatannya ke tempat dimana harusnya ada Pak Dean dan Sani. Tapi kali ini dia hanya bisa menatap panik ke sembarang arah karena di tempat tadi Pak Dean sudah hilang. Kemana perginya Pak Dean? Andre langsung berlari dan melihat ke arah mobil dimana ada Pak Dean dan juga Sani. Dia sedikit bisa lega setelah baru saja rasa panik itu menyerang hatinya.
Andre kembali berbalik berniat untuk mengambil makanan yang sudah dipesan dari tadi.
Namun saat berbalik, matanya menangkap sorot mata seseorang yang langsung tepat bertatapan dengannya saat itu. Tapi mata yang dia lihat membuat Andre rasanya langsung berhenti bernapas seketika. Hatinya jelas tahu jika mata itu bukanlah mata milik manusia melainkan makhluk setan yang tak kasat mata.
__ADS_1