
"Neng Sani mau pergi sama temannya?" Tampak tak percaya kata-kata itu dilontarkan oleh penjaganya yang tak lain pak abdulah. Mata Pak Abdulah mengamati ke arah Andre, tapi tatapan Andre berulah seolah dia tidak menyadari apa yang dipikirkan Pak Abdulah.
"Pokoknya sekarang aku udah mutusin kalau Andre jadi bodyguard ku, jadi Bapak tidak boleh protes." Ucap Sani Pak Abdulah yang sengaja agar Pak Abdulah tidak banyak bicara.
Pak Abdulah tidak melarang atau berbicara lagi, dia diam seribu bahasa. Namun, sudut khawatirnya kian terlukis jelas pada tatapan Pak Abdulah. Andre tahu itu dan apa yang dipikirkan Pak Abdulah, Andre tidak tahu mengapa Pak Abdulah begitu mengkhawatirkan Sani.
"Hati-hati ya Non, tapi sebaiknya Non tetap mengizinkan Bapak ikut kemanapun seperti biasa." Pak Abdulah langsung menerangkan keinginannya. Tatapan Andre langsung tajam melihat Pak Abdulah bersikeras ingin ikut.
"Duh Bapak ini, udah deh aku perginya sama Andre saja lagian kan udah ada Andre. Bapak di rumah saja." Sudah bisa ditebak, Sani langsung menolak keinginan Pak Abdulah itu. Tapi sepertinya juga Pak Abdulah tidak terlalu mempermasalahkannya. Sani masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan okeh Pak Abdulah, Andre berjalan melewati Pak Abdulah untuk menjadi supir Sani. Langkah Andre terhenti seketika ketika sejajar dengan Pak Abdulah. "Pak Sani akan baik-baik saja." Ucap Andre singkat kemudian tak menunggu Pak Abdulah untuk meresponnya dia cepat berjalan menuju arah kursi kemudi di jok depan.
"Kita langsung ke kampus ******" Ucap Sani. Andre diam dan tidak bicara, dia tahu ke arah mana harus pergi karena di tempat Sani ini dia sudah hapal sebagian besar setiap lokasi.
Wajah Sani berubah gusar membuang tatapan ke arah jendela dan sesekali menatap layar Hp yang dia pegang.
Beberapa artikel berseliweran di branda, dan ada artikel yang begitu menarik sampai dia harus membaca judulnya dua kali. Satu hal yang membuat Sani tertarik ada foto artikel itu, sebuah tempat yang baru-baru ini dia kunjungi tak lain adalah jalanan yang pernah Sani lalui bersama keluarga Pak Dean.
Sani terdiam, dia baru saja membaca judul artikel berita yang menginformasikan sebuah kecelakaan tunggal. Sani tidak berani membaca isi beritanya, entah mengapa dia langsung memikirkan tentang Pak Dean dan keluarga jika saja kecelakaan mobil itu adalah Pak Dean?
"Dari tadi diam terus." Komentar Andre yang baru saja melihat Sani melamun.
Sani tidak menjawab hanya membalas ucapan Andre dengan tatapannya itu.
"Ada apa sih?" Andre bertanya penasaran.
Sani masih ragu untuk bicara, sebenarnya dia takut jika dugaannya benar bagaimana dia harus bicara pada Andre sekarang?
__ADS_1
"Dre!" Ucap Sani terdengar jelas.
Andre segera menatap Sani penasaran, tapi dia tidak bertanya karena ingin membiarkan Sani untuk melanjutkan bicaranya itu.
"Aku kepikiran Pak Dean." Lanjutnya berbicara lagi. Tapi kali ini Sani tidak berekspresi khawatir seperti tadi.
Andre juga langsung kepikiran Pak Dean apalagi ketika diingatkan Sani sekarang, sebenarnya hal itu karena mimpi semalam yang membuat Andre tidak bisa tenang.
"Oh Pak Dean. Semoga mereka baik-baik saja." Jawab Andre tidak panjang lebar. Sani juga tidak terdengar membahas lagi bermaksud untuk melanjutkan percakapannya, apalagi maksud awalnya Sani inggin memberitahukan tentang berita web yang dia baca.
Setelah percakapan singkat itu, keduanya baik Sani ataupun Andre tidak lagi membahas hal lain. Sani lebih sibuk dengan hp dan Andre yang fokus dengan perjalanan mereka.
Beberapa kali Andre fokus memperhatikan kemudi dan juga kedua tangannya. Padahal dia sempat trauma, belum lama waktu 3 bulan itu masih terasa seperti kemarin baginya. Dan jika diingat lagi terlalu banyak kejadian yang membuat dia tidak bisa bernapas tenang beberapa saja, semoga saja itu tidak menjadi hal yang paling menakutkan baginya.
"Dre! Kok kamu lewatin kampusnya. Hei udah kelewat tuh!" Teriak Sani memperingatkan.
"Kita putar balik lagi." Ucap Andre segera mengemudikan mobilnya ke jalur kanan.
"Banyak melamun dari tadi, ngomong-ngomong kenapa?" Cetus Sani.
Sebenarnya Pak Dean, dia sangat memikirkan tentang Pak Dean sampai tidak bisa fokus seperti ini.
Andre hanya menjawab pertanyaan Anak dengan hatinya, dia tidak berani mengutarakan hal itu pada Sani.
"Nah sekarang kamu harus ikut aku ke kelas!" Seru Sani memperingatkan Andre dari dalam mobil.
__ADS_1
Andre langsung tercengang. "Loh, harus ikut ke kelas juga?" Andre mengulangi perkataan Sani.
"Ya ialah. Harus dong." Sani sekali lagi menegaskan.
"Baiklah." Ucap Andre langsung menyetujuinya. Mendengar jawaban Andre, justru membuat Sani berpikir aneh. Normalnya Andre akan menolak dengan banyak alasan, namun itu tidak terjadi kan.
Mobil sudah terparkir. Sani berjalan lebih dulu di depan Andre, sedangkan Andre mengikutinya kemanapun. Mau tidak mau memang seperti itu tugasnya kan? Sudah jadi pekerjaannya sekarang dan dia tidak bisa menolak lagi.
Baru pertama kalinya lagi Andre memasuki gedung universitas, berjalan melewati banyak mahasiswa dan itu membuatnya canggung.
"Nah sekarang kamu harus daftar duku, kita kuliah di satu fakultas yang sama." Terang Sani membuat Andre segera menghentikan langkah kakinya.
"Harus kuliah juga di sini?" Andre dengan ekspresi tak percaya mengatakannya.
"Wah keren, Lu masuk ngampus juga Dan?" Seru teman-teman Sani, sekelompok wanita tiga orang berjalan ke arah Sani. Karena kedatangan orang-orang itu Sani tidak menjawab pertanyaan Andre.
Bagaikan seperti nyamuk, Andre harus merasa dirinya seperti itu di tengah obrolan ornag-orang yang tidak dia kenali, dia menjadi pendengar saja.
"Bodyguard nya cowo nih?" Ucap seseorang yang membuat Andre langsung segera mengalihkan perhatiannya.
Andre tidak nyaman dengan tatapan teman Sani, tapi kau bagaimana lagi dia harus memilih tetap diam saja.
"Udah 3 bulan ini gak ada kabar. Lu pasti gak nyangka kan kalau teman Lu sendiri udah meninggal?" Sani tampak langsung menyadari arah pembicaraan itu. Dia menyimpulkan jika tidak ada orang yang tahu dengan kejadian sebenarnya, sehebat itu kasus langsung di tutupi. Pasti karena ulah ayahnya.
"Udah ya, gua mau bawa bodyguard gua buat daftar kuliah dulu." Sani pamit. Tidak mendengarkan ocehan dan komentar dari teman-teman, Sani langsung pergi bersama Andre. Apalagi alasannya karena satu hal tadi, dia tidak mau membahas tentang kematian sahabatnya itu, terlebih karena semua masalah dia pun terlibat banyak.
__ADS_1
Andre masih diam saja, kali ini dia membiarkan Sani menarik tangannya dan membawa dia ke salah satu pintu ruangan prodi.
Sebaiknya Andre tidak menolak karena itu sudah menjadi tugasnya untuk menuruti perkataan Sani sebagai majikannya.