
Sani merasa sudah benar jika seseorang tadi berjalan tepat di belakang tubuhnya, tapi kenapa dia tidak melihat apapun saat itu.
"Aw..." Rintih Sani tiba-tiba meringis merasakan sebuah sayatan yang mendarat di balik lengan tangannya. Spontan Sani langsung memegang tangan kanannya saat itu, memastikan rasa sakit berasal dari luka sayatan.
Kedua mata Sani langsung membulat, darah basah jelas tampak di tangannya dan mengapa bisa? Dia langsung melihat ke lengan tangannya yang sekarang sudah jelas jika darah itu berasal dari belakang lengan tangannya. Sani langsung merasa heran, dia masih mematung namun perlahan dan semakin pasti perasaannya campur aduk tak terkendali, sekarang dia merasa seseorang sedang memperhatikannya dari arah yang dia bisa langsung merasakannya.
Sekujur tubuh Sani membatu di tempat, dia harus yakin jika tidak ada apapun dan bukan apapun. Lukanya mungkin karena serangan serangga tajam dari arah yang tidak bisa dia lihat, dan sekarang mungkin hanya perasaannya saja yang salah. Tidak ada siapapun kan, untuk apa dia takut sampai harus merasa cemas seperti sekarang?
Tapi semakin keras dia menolak perasaan takutnya semakin nyata membuat dia tidak bisa melakukan apapun, bahkan sekedar melangkahkan kaki untuk pergi dari ruangan.
"Sani!" Sebuah suara panggilan untuknya langsung memecah suasana seketika.
Akhirnya Sani bisa berbalik memastikan dan melihat Andre berdiri di ambang pintu.
Dengan rasa syukur karena beruntung sekali Andre yang tiba-tiba datang bisa membuat Sani sadar juga segera berlari.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Andre membuat Sani merasa heran.
Pikiran Sani langsung melayang pada kejadian yang baru saja dialaminya. "Kenapa Andre? Kita jadi pulang kan." Tanya Sani. Dia berusaha sekali untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sangat ketakutan.
"Jadi! Cepat dong!" Andre berusaha menarik lengan Sani tapi dengan sigap Anak langsung meraih tangannya.
"Ia kita pergi sekarang." Ucap Sani. Terbalik, sekarang Sani yang menggandeng tangan Andre.
Harusnya Sani merasa senang dia akhirnya bisa pulang, setidaknya kini dia tidak akan jauh dari rumah lagi kan.
"Neng Sani dari tadi Bapak teriak-teriak dari sini loh. Neng gak apa-apa kan?" Pak Dean langsung membuat Sani bingung dengan pertanyaannya.
"Kamu melamun terus kalau ditanya. Kamu gak apa-apa kan?" Andre langsung menyenggol lengan Sani, menyadarkannya dengan perkataan Andre.
__ADS_1
"Kenapa Pak?" Sani masih belum mengerti pertanyaan Pak Dean.
"Ada apa Neng? Dari tadi Neng ini melamun terus bahkan tadi Bapak khawatir lihatnya kok aneh Neng Sani melamun menghadap kaca lama sekali." Jelas Pak Dean untuk kedua kalinya.
Sani terdiam mencerna kata-kata Pak Dean. Sekarang dia baru paham, mungkin benar jika dia sudah melamun lama sampai membayangkan kejadian tadi.
"Gak apa-apa kok Pak. Sani tadi sebenarnya hanya melamun saja." Jawab Sani meski beberapa saat dia membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban yang akan dikatakannya.
"Neng jangan banyak melamun dong, Ibu takut dengernya jadi merinding gini." Timpal Istrinya Pak Dean.
"Ah Ibu suka dilebih-lebihkan, Neng Sani juga gak apa-apa. Tadi Ibu denger sendiri kan!" Pak Dean langsung membuat Istrinya diam saat itu juga.
"Persiapan semuanya sudah selesai kan Pak. Kita berdoa dulu sebelum berangkat!" Seru Andre membuat perhatian semuanya teralihkan.
Akhirnya semua orang menundukkan kepala membaca sebuah doa yang akan menghantarkan kepergian menuju kota tempat tinggal Sani.
Perjalanan panjang yang akan cukup memakan waktu lama. Di sepanjang jalan mungkin sudah sekitar 1 jam berlalu sejak mobil melaju dari rumah Pak Dean, sekarang orang-orang terlihat begitu lelah, dimulai tidak adanya percakapan lagi. Istri Pak Dean sudah terlelap tidur, begitupun Bu Ratih. Mungkin hanya Sani yang dari tadi diam saja memperhatikan ke arah jendela.
Andre berpaling ke arah Pak Dean, tapi matanya langsung syok melihat sesuatu yang saat itu tampak melekat dekat dengan Pak Dean.
"Berhenti Pak! Berhenti!" Teriak Andre yang tanpa pikir panjang langsung membuat orang lain terganggu dengan suaranya.
Pak Dean langsung berhenti dan dengan reaksi yang syok. Beruntung jika jalanan kali ini sepi.
"Kenapa Nak Andre?" Tanya Pak Dean panik setelah memarkirkan mobilnya dan berhenti saat itu juga.
Andre mematung dengan mata yang membulat seolah sudah melihat sesuatu yang menakutkan dari arah Pak Dean.
Istri Pak Dean yang baru saja terjaga langsung menatap Andre dengan panik.
__ADS_1
"Bu, berdoa semuanya cepat berdoa." Seru Bu Ratih yang saat itu langsung memberikan sebuah instruksi.
Andre berbalik melihat ke arah Bu Ratih d egan sedikit perasaan bingung. Mengapa Bu Ratih langsung berbicara seperti itu.
Tanpa diminta lagi semua orang berdoa dalam hati dan terlihat khusu, kecuali Sani yang masih melamun memperhatikan ke arah cermin. Posisinya duduk dan caranya melamun tidak berubah. Sesuatu yang aneh.
"Pak lebih baik kita jalan dan cari pemukiman warga sekitar saja." Pinta istrinya sekaligus memberikan sebuah saran.
Pak Dean menyetujuinya meskipun dengan perasaan gugup.
"Sudah aman Alhamdulillah." Ucap Bu Ratih.
Andre yang berdiri langsung duduk lagi dengan bingung, matanya kembali melihat ke arah Pak Dean, dia sudah tidak melihat setan itu lagi, setan perempuan yang hampir mencelakakan Sani saat menuju ke rumah Bu Ratih. Andre tidak bisa menghilangkan trauma itu.
"Pak Dean, ayo kita berangkat lagi!" Seru Bu Ratih.
Sesuai dengan permintaan Bu Ratih akhirnya mobil kembali bergerak ke jalan.
"Neng Sani! Neng!" Ucap Bu Ratih yang langsung membangunkan Sani. Tapi seperti yang sudah bisa ditebak karena Sani tidak merespon sama sekali.
Andre memberanikan diri memegang Sani dan langsung membuatnya agar tidak terus menunduk.
"Astagfirullah." Ucap Bu Ratih panik saat melihat Sani sudah pingsan.
"Sani!" Andre langsung panik. Padahal tadi Sani tidak apa-apa kan kenapa sekarang malah sudah pingsan seperti ini.
Mata Andre tertarik dengan sebuah goresan dari lengan Sani, sebuah luka. Entah mengapa hati Andre tidak merasakan sesuatu yang baik, dia mendapatkan firasat buruk lagi. Padahal tidak ada setan atau apapun yang tampak mengganggu Sani, lantas mengapa Sani bisa pingsan seperti ini?
"Pak Dean, kita berhenti di rumah warga ya." Seru Bu Ratih.
__ADS_1
Entah mengapa suasananya terasa kembali seperti ketika Andre, Sani dan temannya dalam satu mobil di waktu itu. Apa yang akan terjadi lagi sekarang? Dan pertanda apa?