Dunia Mu

Dunia Mu
Sani tidak gila


__ADS_3

"Apa ada sesuatu yang salah?" Tanya dokter sinis.


Andre masih melihat garis wajah dokter yang tidak senang. Entah karena dia sudah mengatakan sesuatu yang salah atau apa, tapi dia merasa dokter itu benar-benar marah.


"Tidak ada Dok. Hanya tadi begitu saya masuk pandangan saya langsung mengarah ke sana." Jawab Andre gugup sambil menunjuk apa yang dia lihat tadi. Tapi sepertinya terlihat salah Dokter juga menunjukkan wajah kesal hingga suasana menjadi hening.


Di depan matanya Andre melihat Dokter sudah beberapa kali memeriksa buku dan menuliskan sesuatu tanpa mengatakan apapun, dari awal dia merasa salah tingkah, bukan hanya karena sosok anak kecil yang dia lihat di mimpi itu tapi juga sikap dokter terhadapnya setelah tadi dia menunjukkan foto keluarga itu.


Beberapa menit sudah berlalu. Andre berusaha tetap sabar dan tenang menunggu satu kata yang akan diucapkan Dokter di hadapannya, tapi menit berganti dia semakin yakin jika penjelasannya tadi tidak disukai Dokter, atau Dokter tidak senang jika Andre memperhatikan foto di belakang sana hingga membuat keadaannya menjadi serba salah.


Dokter tetap diam seribu bahasa, Andre tetap diam dan bingung. Dia berusaha tetap nyaman dan mempertahankan diri untuk menunggu sampai kesempatan untuknya datang.


Banyak arti yang dilihat Andre, sekilas dari wajah Dokter menjelaskan selain karena kesal dokter seperti menyimpan banyak hal yang dipendamnya, entah apa tapi jika diingat-ingat lagi Dokter langsung berubah sikap saat Andre menyinggung tentang foto dan sosok yang ada di latarnya. Cukup aneh hanya saja bagi Andre tidak bisa mengartikan dengan benar bagaimana jalan pikiran orang yang terus berkutat sibuk sendiri dengan kesibukannya.


"Keluarga/ saudara dari kamar 103." Ucap dokter masih terdengar dingin.


"Ya Dok saya sebagai..." Perkataan Andre terhenti. Dia bukan keluarga dan teman yang dikenal Sani.


"Apa ada yang anda lupakan?" Ucap Dokter saat melihat sikap Andre yang langsung terdiam.


"Tidak ada. Saya keluarga pasien." Jawab Andre meski dia gugup saat mengatakannya.

__ADS_1


"Kalau orang lain ya kenapa harus ngaku-ngaku sebagai keluarga. Paska kejadian itu saya tahu semuanya dan saya harap keluarga aslinya cepat diberi tahu." Ucap Dokter.


Andre langsung tertegun dibuatnya, bukan hanya tersinggung dengan kata-kata Dokter yang memang benar tapi juga dia merasa malu karena sudah berbohong, hanya saja kata-kata Dokter tidak menyenangkan hati. Tidak perlu disampaikan seperti itu kan? Menyindirnya sinis.


"Baik Dok." Ucap Andre singkat.


"Kesehatannya bagus, dan pasien masih belum sadar saja. Sepertinya kita butuh penanganan dokter yang lebih ahli jika saja pasien masih belum sadar juga dalam sepekan ini." Jelas Dokter menyampaikan semua yang dilihat dari hasil diagnosa pemeriksaan.


Andre kembali diam, dia ingat jelas dengan kejadian janggal sebelumnya. Insiden di ruangan Sani. Dia tidak yakin juga jika kejadian itu benar, pasti dia hanya sudah salah melihat saja.


"Dok apa Sani benar-benar tidak sadarkan diri juga?" Tanya Andre saat dia memperlihatkan ekspresi seperti baru mengetahui sesuatu.


Penjelasan Dokter membuat Andre tidak bisa berkata-kata.


"Sani tidak gila. Ada sebab lain." Ucap lagi Dokter menambahkan.


Andre langsung mengalihkan perhatiannya melihat saat dokter mengatakan itu padanya dengan penuh yakin. Baru pertama kali ini ada dokter yang mengatakan itu padanya. Padahal Dokter sebelumnya mengatakan jika Sani ada gangguan jiwa berdasarkan dari tingkah dan kesadarannya.


Andre terus memandangi Dokter hingga akhirnya dia diminta untuk melengkapi informasi ke bagian administrasi.


Andre terlihat bingung apa yang bisa dilakukannya? Dia seperti terus menahan langkah kaki dengan perasaan ragu.

__ADS_1


Tiba-tiba Andre berbalik. "Dok, Sani memang tidak gila." Ucap Andre memandangi mata Dokter dengan penuh harapan kemudian memmbungkuk dan segera pergi dari ruangan.


Dokter melihatnya tenang tanpa berkomentar, namun dari kedua pasang mata yang saling memandangi tadi seperti sudah menyampaikan semua maksud dari isi pikiran dan hati keduanya.


Andre diam berlalu keluar dari ruangan Dokter. Dia masih menyimpan perasaan ragu nya, tapi sedikit keyakinan kecil tentang perkataan dokter dan hatinya yang mulai setuju. Andre melihat ada sesuatu yang lain dengan Sani, bukan karena dia sudah gila didasarkan dari penglihatan sekilas saja. Saat Sani memberontak, mengamuk, dan tingkahnya mulai tidak terkendali. Tapi dalam satu waktu dia hanya terus diam seperti sekarang.


Andre berharap jika dia bisa mempercayai perkataan Dokter. Tapi masalahnya bukan itu, tindakan medis mungkin tidak begitu membantu bagaimana jika sedikit bantuan dari Nenek atau Pak Kyai.


Sedikit ekspresi Andre berubah, dia merasa sudah menemukan solusi pertamanya. Andre bergegas pergi keluar dari gedung.


Jam berganti dan suasana di luar mulai mendung. Sesekali sepasang mata menerawang ke atas langit dan kemudian beralih ke jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Hari belum terlalu sore, tapi cuaca mendung membuat suasana teduh dan cahaya matahari hampir berkurang.


Andre berlari ke depan jalan, dia menunggu di pinggir jalan berharap akan ada taxi atau kendaraan umum yang lewat. Dia harus menemukan rumah yang disewakan atau kontrakan sekalipun, karena dengan cuaca yang sekarang tidak mendukungnya untuk pulang dan dia juga tidak bisa meninggalkan Sani.


Samar-samar terlihat dari kejauhan lampu mobil. Andre berusaha melambaikan tangan berharap mobil cepat berhenti. Saat kaki kanannya melangkah satu langkah untuk lebih maju tiba-tiba saja dengan cepat terjadi sesuatu di luar kendalinya. Andre hanya mendengar suara hantaman keras dan suara decitan ban mobil yang di rem mendadak. Spontan Andre hanya menutup mata tidak bergerak sedikitpun. Hingga mulai ramai terdengar suara orang-orang yang panik.


Andre membuka mata karena penasaran, meski dia sudah bisa menebaknya mobil dan sebuah tabrakan. Matanya langsung terbelalak tidak percaya. Orang-orang berkerumun di sekitarnya dan di jarak 5 langkah kaki di depannya ada seorang perempuan tergeletak bersimbah darah. Andre melihat ke sekeliling dan orang-orang sudah berkerumun banyak, tidak lama seorang perawat masuk ke dalam kerumunan dan terlihat sangat cemas. Andre yang menyaksikannya hanya bisa diam. Dia tidak bisa berkata apapun, kakinya bahkan terasa lemas dan suara tabrakan tadi masih terus terngiang di telinganya.


Satu persatu wajah orang-orang hanya bisa dilihatnya dengan diam. Ada ekspresi cemas dan orang-orang terlihat banyak bicara bahkan terlihat ada yang histeris menangis. Tapi semua pemandangan itu membuat Andre semakin tak berdaya, bahkan dia tidak mendengarkan satu suarapun dari mereka. Andre melihat lagi seragam perawat uang dipakai persis sama dengan perawat di RSJ yang baru saja dia tinggalkan. Apakah korban berasal dari sana?


Hanya sebatas pertanyaan yang terpikirkan, insiden yang terjadi di dekatnya membuat Andre merasakan kembali bingung bahkan seperti merasa traumanya kembali. Pendengarannya mendadak hilang dia hanya mendengar suara yang berdengung saja sampai satu persatu orang-orang mulai membubarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2