
"Istighfar Tarman. Kau tega sekali." Hardik Pak Rais nampak sudah kehilangan akalnya, sangat kecewa dengan Pak Tarman.
Pergulatan terjadi di luar rumah hingga suara Tri dari arah kamar membuat semua orang langsung teralihkan, kecuali Andre yang saat itu sudah pergi ke kamar Sani untuk bertanya lagi apakah tadi Sani mengalami sesuatu yang aneh.
"Neng Tri." Ucap Pak Rais panik. Segera disusul dengan tubuh Pak Rais yang langsung menyelinap ke dalam ruangan.
"Astagfirullah, Neng Tri." Ucap Pak Rais seraya membuang wajah karena saat itu Tri moal belum berbusana menjerit di dalam kamar.
"Tarman panggil Nenek sepuh!" Seru Pak Rais sangat ketakutan jika saja sudah terjadi sesuatu pada Tri. Tapi seruan kedua kalinya tidak dihiraukan bahkan sudah beberapa kali terjadi.
__ADS_1
"Tarman jangan bercanda!" Pak Rais mungkin berkomentar untuk terkahir kalinya karena tak disangka Pak Tarman yang sudah kehilangan akal dan kewarasannya sekaligus membuat dia buta. Mungkin hatinya saat itu tertutup sudah karena sebuah bacokan mendarat ke leher Pak Rais yang membuatnya sekarat.
Bak tak berperasaan Pak Tarman sama sekali tak mengedipkan mata dan melihat Pak Rais dengan santai tergeletak di lantai. Tujuannya bukan lagi untuk meluruskan urusan dan menyadari letak kesalahannya, Pak Tarman tak ingin jika hubungannya dengan Tri terlanjur terbongkar dengan begitu saja.
Saat Pak Rais sekarat bahkan kewalahan, kedua tangannya berusaha menahan aliran darah dan rasa sakit seperti ditancapkan paku di ubun-ubun kepala, atau sesuatu pisau ditarik dari dalam tubuhnya sekaligus, bahkan bisa lebih dari itu rasa sakitnya melawan maut dan dia sendiri mungkin tak akan pernah menyangka bisa kehilangan nyawa ditangan sahabatnya sendiri.
Sedangkan di dalam kamar Tri masih tak sadarkan diri tanpa berbusana terlentang di atas kasur. Pak Tarman sedikit melihat ke arahnya, namun seketika dia langsung memperlihatkan wajah paniknya. Sesegera mungkin Pak Tarman mengemas beberapa uang yang tersimpan di dalam lemari Tri dan dimasukannya ke kantong celana. Nampak dia sangat siaga melakukan hal itu, karena satu hal yang ditakutkannya yaitu kedatang orang lain yang bisa menjadi saksi kunci dari perbuatan pidana yang dilakukannya, yaitu kedatangan Andre dan satu temannya.
****
__ADS_1
"Bener Lu gak ada merasa sesuatu?" Tanya Andre masih melontarkan bahasan yang sama.
"Bener Andre, lagian aku juga gak tahu kenapa bisa sampai ada di sana." Elak Sani masih menepis dugaan Andre.
"Aku yakin, pasti ada sesuatu." Ucap Andre pada dirinya sendiri.
"Kenapa sih penasaran banget. Ribet!" Hardik Sani yang tidak mengindahkan rasa khawatir Andre saat itu.
Sebenarnya Andre sangat penasaran jika saja Sani membahas tentang sosok perempuan yang terus mengikutinya dan membuat dia kesurupan seperti tadi. Tapi mengapa Sani tak membahas hal itu membuat Andre kecewa. Tak mungkin juga di sisi lain Andre menjelaskan jika dia sangat penasaran dengan sosok jin itu, karena jin itu Ibunya sampai meninggal.
__ADS_1
Beberapa saat Andre diam.
"Eh ngomong-ngomong Kok sepi di luar. Tadi kan Pak Rais sama Pak Tarman emang lagi berantem kan." Cetus Sani langsung membuat perhatian Andre teralihkan padanya.