Dunia Mu

Dunia Mu
Pertemuan Sani dan Ayah


__ADS_3

"Loh, Nak Andre, Neng Saninya mana?" Istrinya Pak Dean langsung bertanya menatap heran karena Andre datang lagi sendirian.


Andre terdiam sebentar. "Saya sudah coba bujuk Bu, tapi Sani kekeh mau nunggu di luar." Jawab Andre apa adanya.


"Gimana, Pak?" Tanya nya pada Pak Dean.


"Ibu nyusul Sani ya! Biar aku yang beres-beres." Saran Pak Dean yang langsung disetujui.


Andre membantu Pak Dean di dalam ruangan, merapihkan sebagian barang.


####


Sani berjalan keluar dari pintu rumah sakit dengan wajah murung, dia tidak pernah membayangkan bisa akhirnya bertemu dengan ayahnya. Tapi pertemuan itu membuat hatinya kecewa lagi, Ayah sedang bersama seorang perempuan entah apa yang dilakukan mereka.


Membayangkan apa yang akan terjadi ketika ayahnya melihat dia lagi setelah sekian bulan. Apakah pernah Ayahnya berusaha mencari setelah Sani pergi dari rumah dalam waktu yang cukup lama? Perdebatan itu tidak membuat Sani khawatir, kenyataannya dia memiliki Ayah yang mempunyai dunianya dengan banyak perempuan.


Saat terus berjalan di luar sendirian, dari banyak keramaian orang yang keluar masuk rumah sakit, berjalan kesana kemari dan tidak ada yang tampak santai seperti yang dilakukannya.


"Orang pingsan!"


Teriak seseorang yang sudah lebih dulu menemukan.


Sontak semua pasang mata langsung memperhatikan ke arah sumber suara, begitupun Sani yang berlari saat melihat kerumunan orang berkumpul.


Sani memperhatikan seorang perempuan yang pingsan di luar rumah sakit, dia mulai melangkah mundur rasanya tadi dia membayangkan jika orang yang pingsan adalah Ayahnya sendiri, entah mengapa dia harus khawatir seperti itu.


Tak lama saat berniat akan kembali duduk di kursi tunggu, dia melihat Istrinya Pak Dean berjalan ke arahnya, tatapan mata keduanya pun saling bertemu.


"Neng Sani! Ibu khawatir sekali dari tadi nyari kesana kemari, padahal kan baru siuman." Ujarnya cemas.

__ADS_1


Sani tidak bisa berkata apapun atau menjawabnya, dia hanya sedikit tersenyum saja memperlihatkan jika dia baik-baik saja.


"Nak Andre berani sekali ninggalin kamu gini, Ibu temani kamu ya di sini." Ucapnya lagi.


Sani masih tak menjawabnya tapi dia tidak keberatan juga dengan ikut duduk di kursi itu. Nantinya mungkin Sani akan merasa bersalah lagi, dia tidak bisa mengatur emosinya hingga orang-orang baik malah kecewa karena sikapnya.


"Loh, melamun terus sih. Ibu jadi gak enak gini liatnya. Gak apa-apa kan kalau Ibu yang temani?" Tanyanya pada Sani, merasa jika Sani tidak begitu nyaman tiba-tiba ditemani seperti sekarang.


"Gak apa-apa kok Bu, duh maaf ya Sani dari tadi diam aja terus padahal bukan bermaksud untuk apa-apa jadi buat Ibu merasa gak enak." Sani akhirnya bicara, menerangkan bagaimana keadaannya saat itu. Sani kemudian tertunduk lesu, tidak sepenuhnya dia baik-baik saja buktinya Sani masih tidak bisa membuang perasaan sekarang yang disebabkan karena Ayahnya sendiri.


"Syukurlah kalau seperti itu." Jawabnya singkat. Tapi sebenarnya sebagai orang tua yang sudah mempunyai seorang anak, tentu saja sekilas melihat Sani dengan raut wajahnya sekarang bisa langsung ditebak apa yang dipikirkan Sani pasti sesuatu yang cukup memberinya beban.


Sani tak mungkin menceritakan tentang Ayahnya ada di rumah sakit kan.


"Loh, Sani?" Seorang pria berpakaian jas hitam rapih berdiri di hadapan Sani.


Seketika Sani menoleh dengan wajah yang takut, tentu saja dia mengenal baik suara Ayahnya.


"Sani kok kamu ada di sini?" Tanyanya. "Sakit kamu?"


Sani tidak menjawabnya juga.


"Mohon maaf, Bapak ini siapa ya?" Tanya istrinya Pak Dean yang kebetulan masih duduk bersama Sani.


"Sani ayo ikut, Ayah mau ngomong sama kamu." Ucap Ayahnya yang sudah mengabaikan perkataan orang lain yang duduk di samping Sani.


Tampak tak acuh seperti biasanya, Sani bahkan tak sedikit saja menoleh ke arah Ayahnya. Bukan karena dia tak ingin bertemu dan berbicara, tapi karena kehadiran seorang perempuan di samping Ayah yang membuat dia merasa benci juga kecewa.


"Aku pulang duluan ya!" Tiba-tiba ucap seorang perempuan di samping Ayahnya Sani.

__ADS_1


Mendengar kata-kata itu Sani langsung menoleh memperhatikan, jika dijelaskan rasanya dia sangat ingin berteriak tak peduli jika wanita itu siapa. Sani tahu jika wanita menyebalkan itu hanya ingin membuat Ayahnya mengabaikannya lagi.


"Loh, pulang sekarang?" Nada bicara Ayahnya terdengar berubah lagi, semakin membuat Sani sakit. Pada wanita lain saja Ayah akan bersikap baik dan lembut, padanya sesuatu yang bertolak belakang saja.


Wanita itu semakin sengaja menatap Sani dengan sorot matanya yang membuat Sani muak, tapi bagaimanapun Sani tak bisa memarahi Ayahnya di tempat umum bahkan memakinya karena sudah membawa wanita lain lagi bersamanya, seorang perempuan yang hanya memanfaatkan kekayaan Ayah.


"Baiklah kita pulang sekarang!" Ucap Ayahnya semakin membuat Sani tak berkutik dan terasa sudah dijatuhkan. "Padahal seharusnya Ayah tak mengatakan itu kan?" Batin Sani yang semakin kesal.


Tidak ada lagi percakapan, setelah itu Ayahnya berlalu dari hadapan Sani. Semudah itu.


#####


"Syukurlah sudah beres sekarang!" Seru Pak Dean yang cukup senang karena akhirnya sudah beres membereskan ruangan itu dan memasukan semua barangnya ke dalam tas kantong.


"Nak Andre kita pergi sekarang?" Ucapnya sambil bertanya menatap Andre.


Tanpa menyakitkan Andre setuju untuk cepat menghampiri Sani yang dalam pikirannya dia pasti sedang menunggu di luar seperti yang dibayangkan.


"Oh ya, kamu duluan ya nanti Bapak biar nyusul. Sepertinya Bapak Akan menemui resepsionis dan menyelesaikan administrasi perawatan Sani.


Andre tampak berpikir sebentar, tapi akhirnya dia setuju dan berjalan ke arah yang berbeda dengan Pak Dean. Tujuan Andre sekarang langsung menemui Sani.


Setelah keluar dari ruangan tempat dirawat Sani sebelumnya, Andre hanya butuh berjalan sedikit dan keluar dari rumah sakit.


Tak sengaja dalam perjalanan padahal pintu rumah sakit yang tampak besar tinggal sedikit lagi. Tapi sekilas melihat sesuatu yang membuat Andre membulatkan mata hingga dia mematung diam saja.


Untuk pertama kalinya lagi Andre merasa seperti sudah bertemu dengan seseorang yang dikenalnya, bukan orang asing dan dia ingin sekali mempercayai sesuatu yang dilihatnya saat itu.


Bahkan kakinya tak berani berkutik, Andre hanya fokus melihat seorang lelaki berusia sekitar seumuran dengan Pak Dean. Lelaki itu tidak asing dan sangat familiar, Andre tak akan pernah melupakan bentuk wajah dan caranya berjalan di hadapannya.

__ADS_1


Tapi sekilas sadar Andre kembali berusaha menegaskan penglihatannya, jika dipikirkan dengan akal sehat tak mungkin lelaki itu adalah orang yang sama dan yang paling dia benci 20 tahun lalu. Wajahnya memang mirip sekali, nyaris tidak membuang sedikitpun.


Tapi sekejap diam lagi, Andre membayangkan jika lelaki itu adalah orang yang sama.


__ADS_2