
"Kenapa tanya-tanya?" Tanya Sani.
Andre hanya menggelengkan kepala saja. Sebelum akhirnya dia merasa sakit yang hebat di sebelah kanan kepalanya.
Spontan karena rasa sakit yang tiba-tiba timbul, Andre segera memegangi kepalanya.
"Kenapa?" Sani heran melihat sikap Andre.
Tak sempat menjawabnya Andre sudah tersungkur pingsan di atas kursi.
Sani panik dia tidak tahu akan memberitahu siapa, di rumah tidak ada siapapun kan.
Saking paniknya Sani tak bisa berpikiran cepat, dia hanya tahu harus mencari hp yang biasanya disimpan di lemari kamar.
Beberapa tumpukan baju sudah disingkirkannya dari dalam lemari, tapi dia masih tidak menemukannya. Entah mengapa padahal darurat sekali tapi setiap barang yang dicari sudah sekali ditemukannya.
Sani beranjak pergi bermaksud kembali memastikan Andre, namun matanya terbelalak takut. Harusnya Andre masih ada di atas kursi, dia tertidur kan.
Sani segera memastikan ke sudut lain, dengan hati-hati dia berjalan pelan mengikuti nalurinya. Saat itu Sani hanya merasa sedikit terancam, dia tidak biasa mengalami hal yang mengerikan seperti ini.
Setelah memastikan ke balik ruangan lain Andre masih tidak ada di sana. Kemudian mata Sani bergerak ke arah pintu kamar yang masih tertutup, pikirnya tidak mungkin jika Andre keluar kamar harusnya dia mendengar pintu dibuka maupun di tutup. Sani memastikan lagi dan melihat pintu kamar mandi yang terbuka, seingatnya memang sudah dibuka dari tadi. Jika Andre pergi ke kamar mandi harusnya dia tahu karena akan persis melewatinya ketika sibuk mencari sesuatu di lemari yang terpampang di samping kamar mandi.
Hitungan detik terus berlalu, Sani tidak tahu jika dia begitu takut sekarang sampai tubuhnya membeku.
Dan tak lama dengan semua perasaan bingung Sani mendengar sebuah langkah kaki dari arah tangga. Suara sepatu yang beradu dengan anak tangga membuat Sani bisa langsung menebaknya, dia sekarang dalam posisi yang tidak bisa bergerak ke arah manapun bahkan tidak mungkin melarikan diri, tidak ada jalan selain hanya jendela yang mengarah keluar balkon kamarnya.
Napasnya naik turun, jantung yang iramanya mengikuti naluri Sani sendiri dalam kondisi sekarang yang sangat ketakutan, sialnya semua mengatakan dan menebak jika seseorang yang berjalan mengarah ke pintu kamarnya adalah sesuatu tanda bahaya.
__ADS_1
Dalam pikiran Sani masih terngiang jelas tentang keganjilan yang terjadi di kamarnya selama ini, hal itu bahkan menghantuinya sekarang pada waktu yang tidak tepat.
Sani berusaha mengatur napasnya lagi, mengatur hatinya agar tetap tenang, mengatur pikirannya agar tetap waras.
Namun tidak begitu mudah, ketika handle pintu bergerak naik turun otomatis membuat perasaan Sani menjadi campur aduk. Seseorang sedang berusaha masuk ke dalam kamar. Dan hitungan detik berlalu pintu terbuka dengan sendirinya hingga tampak lebar di depan mata Sani tanpa memperlihatkan satupun orang di baliknya.
Tidak ada orang, lantas siapa tadi yang sengaja menggerakkan handle pintu?
Tidak ada waktu lagi, rasanya dia ingin segera berlari dari kamar yang terasa sudah mengurungnya sekarang. Namun tidak ada jalan lain yang terlihat, hanya jendela kamar yang terbuka lebar. Apakah mungkin dan lebih baik dia melompat dari sana? Yang spontan Anak bisa langsung berada di dunia berbeda, tentu saja Anak akan mati jika melompat dari lantai tertinggi di rumahnya.
"Sani!"
"San!"
Terdengar sebuah panggilan yang langsung menghentikan pikiran cemasnya seketika.
Suara Andre semakin jelas dan kemudian diikuti dengan suara sepatu berlari menaiki anak tangga.
Hingga seseorang sudah muncul dari pintu, benar saja Andre.
Tanpa berpikir lain Sani berlari memburu Andre hang baru saja muncul, tangannya masih gemetar, Sani tahu dirinya masih dikuasai ketakutan saat ini, tak peduli jika orang yang dipeluknya adalah Andre.
"Kenapa Dan?" Tanya Andre was-was.
Andre tak menjawab, namun karena gemetar tangan Sani membuat Andre menyadari ketakutannya.
"Tadi aku di kamar bawah, tiba-tiba di sana." Ucap Andre hati-hati. Sebenarnya dia tidak begitu ingin menjelaskan suatu keanehan yang Andre alami di rumah ini, Andre takut jika Sani akan lebih parno. Bahkan Andre yang tiba-tiba sudah berada di kamar bawah pun tak mungkin dia ceritakan juga.
__ADS_1
"Minum dulu ya!" Ajak Andre memapah Sani ke atas kasurnya.
Andre mengambilkan sebuah air minum di dalam kulkas, menyodorkannya pada Sani. Kebetulan dalam jarak yang begitu dekat Andre bisa lebih jelas melihat wajah Sani, dan sorot matanya yang sangat ketakutan. Untuk sementara Andre tak akan bertanya dulu mengenai kejadian yang menimpa Sani, sebaiknya dia diam saja sampai situasinya tenang.
"Hp ku!" Ucap Sani dengan nada bicara yang gemetar. Andre melihat ke arah yang ditunjukkan Sani, tepatnya lemari di samping kamar mandi. Tanpa ragu Andre langsung mengamati lemari itu, dia tahu maksud Sani untuk dicarikannya Hp.
Beruntung sekali Andre bisa langsung menemukan Hp yang diinginkan Sani, setidaknya dia lega.
Andre segera menyerahkan Hp ke tangan Sani. Dia masih diam saja di dekatnya.
Sani menelpon para penjaga rumah yang ada di lantai bawah, juga tukang kebun, dan asisten rumah. Namun dari semua orang itu yang tersisa hanya seorang penjaga rumah, entah kemana perginya semua orang membuat Sani kecewa dan hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kita pergi aja dari kamari sini, kamu mau ke bawah sekarang?" Tanya Andre mulai mengerti keinginan Sani setelah dia menelpon penjaga rumahnya.
"Kita ke kamar mu saja!" Jawab Sani. Andre heran karena Sani tak memintanya untuk pergi ke lantai bawah saja, mengapa malah hanya ke kamarnya.
Meski Andre bertanya-tanya tapi dia tidak mungkin bertanya langsung pada Sani, sebaiknya Andre menuruti saja yang diinginkan Sani tanpa bertanya.
Akhirnya Sani pergi dan mengunci pintu kamarnya. Hanya butuh beberapa menuruni anak tangga hingga akhirnya sampai di kamar Andre. Bersamaan dengan itu seseorang mengetuk pintu dari luar, Sani sampai terperanjat kaget mendengarnya. Andre kembali merasa heran jika Sani sampai berekspresi seperti itu, padahal masih ada dirinya kan?
Andre langsung membukakan pintu, muncul Bapak penjaga yang juga dia lihat ketika di lantai bawah pertama kali masuk ke sini.
"Ada apa Non? Kenapa manggil saya?" Tanyanya sopan.
"Hari ini, sampai malam kamu jangan jaga di bawah, pastikan aku aman di kamar ini, jika bisa kamu sama yang lain periksa duku kamar ku di atas!" Pinta Sani.
Dari permintaan nya penjaga itu langsung menyetujui kata-kata Sani, tanpa bertanya apapun.
__ADS_1
Akhirnya Sani tampak sedikit merasa lega.
"Semua penjaga yang lain gak ada. Aku harus cari orang untuk datang ke rumah." Ucap Sani. Dari caranya Andre bisa menebak jika Sani memang benar-benar ketakutan.