
"Ira." Sapa seseorang yang langsung membuat Sani mengalihkan penglihatannya saat itu.
Seorang lelaki menghampiri Ira dan tampak keduanya di mata Sani mereka sudah akrab.
Sani tidak memperdulikannya, dia tidak terkejut jika tiba-tiba akan ada lelaki asing lagi yang menghampiri sahabatnya.
"Nih Andre temen aku." Ucap Ira bersikap manja yang masih tidak melepaskan tangan Andre.
Andre menatap Sani yang tidak menghiraukannya juga. Sebaliknya yang dilakukan Sani tetap diam saja meletakan wajah di atas kedua tangannya yang ada di atas meja, seperti sengaja tidak mengindahkan perkataan sahabatnya.
"San, kenapa sih bikin kesal saja!" Protes Ira. Sani tidak mendengarkan perkataan Ira juga.
Ira semakin kesal karena Sani masih tidak merespon.
"Ini anak gak bisa ya menghargai temannya bicara." Cetus Ira semakin memperlihatkan kekesalannya.
Kekesalan Ira sangat beralasan, dari tadi yang dilakukan Sani hanya diam membuat Ira bosan, apalagi Sani yang tidak bisa diajaknya bicara dari awal.
Andre melihat Ira dan menganggukkan wajah sebagai tanda.
"Sani!" Ucap Andre.
Sani langsung menatap mata Andre, dari tatapannya itu membuat Andre sedikit terkejut.
"Bawa Sani sekarang!" Ucap Andre panik.
Dengan ekspresi dingin dan kedua mata yang melotot tajam tanpa berkedip, membuat Ira yang saat itu melihat sekilas Sani langsung merasa takut.
Ira hanya mundur dari posisi berdirinya, membiarkan Andre membawa Sani dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Sani tidak merespon apapun, tidak mengatakan apapun. Tubuhnya lemas tidak sedikitpun bergerak saat Andre membawanya. Tapi kedua mata Sani masih melotot tidak berkedip.
Ira sangat khawatir dia tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan Sani. Buluk kuduknya serasa berdiri ketika terus memperhatikan Sani.
"Ira cepat ke mobil!" Andre memperingatkan ketika dia sudah berhasil membawa Sani ke mobil dan kembali mengajak Ira.
Bagi Ira melihat sesuatu yang menakutkan untuk pertama kalinya dia tidak bisa berbohong, sikapnya berubah ragu bahkan berusaha menolak.
Andre tidak terima karena Ira masih mematung tidak menjawab.
Tanpa basa-basi Andre menarik tangan Ira tidak peduli jika Ira sudah beberapa kali menolaknya.
"Apa sih Ndre? Aku gak mau duduk di belakang dengan Sani." Ucap Ira. Padahal sebagai sahabatnya kata-kata itu tidak harus Ira ucapkan.
"Sudah pergi duduk saja, dia gak apa-apa kok Ra. Lihat tuh Sani tetep diam aja." Tegas Andre berusaha meyakinkan.
"Gak mau lah Ndre." Jawab Ira menolaknya. Ira tidak bisa tahan saat melihat mata Sani yang melotot dan menakutkan seperti itu.
Andre segera menutup pintu dan langsung mengambil alih untuk mengemudikan mobil yang dibawa Ira. Dia sendiri merasa takut melihat Sani yang dalam istilahnya kesurupan.
"Andre aku gak bisa lama-lama di sini." Rengek Ira terdengar dari arah belakang.
Andre tidak menjawab dan memilih membiarkan Ira mengoceh sendiri.
Seharusnya dengan bantuan Nenek hal seperti ini mudah ditolong. Andre berniat untuk membawa Sani ke rumah Nenek nya yang lumayan jauh dari kota itu, karena dia tidak bisa memikirkan hal apapun lagi selain harus cepat membawanya sebelum malam.
"Kenapa sih San?" Ucap Ira dengan mata yang enggan melihat Sani saat itu, bahkan Ira sengaja menutupi wajah Sani dengan rambut panjangnya. Ira ketakutan untuk dekat dengan Sani, dia juga terus merengek sepanjang jalan.
Andre terus menjalankan mobil dengan kecepatan yang bisa membawanya ke rumah Nenek sebelum Malam. Dia sebenarnya sangat khawatir, tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu sebelum mereka tiba. Apalagi perjalanan yang memakan waktu ini membuat keadaan semakin sulit. Dia langsung teringat dengan kalung yang pernah Neneknya berikan, semacam penangkal roh jahat. Mungkin dia bisa menggunakannya untuk menahan Sani jika terjadi sesuatu di perjalanan.
__ADS_1
Mata Andre tidak pernah lepas terus memperhatikan kaca yang langsung mengarah ke jok belakang. Andre juga melihat Ira di samping Sani yang ketakutan. Saat Andre terus memastikan sekilas dia melihat seseorang dari arah belakang Sani. Sekilas seperti wujud seorang wanita. Andre kembali menarik pandangannya. Jantungnya tidak lagi berdegup dengan normal, perasaan takut langsung membekukan tubuh Andre yang langsung kaku tidak bisa bergerak sama sekali. Andre tidak bisa memikirkan apapun yang akan membuat pikirannya kacau karena takut. Waktu semakin berlalu tapi Andre tidak bisa melepaskan rasa takut yang membuat tangannya bergetar. Dengan ragu-ragu, sudut matanya bergerak ke ujung cermin yang ada di depan wajahnya saat itu. Ternyata sosok wanita itu masih ada. Wanita berambut panjang terus menempel pada Sani. Andre langsung terkejut dan membuat mobilnya langsung berhenti seketika. Dia melihat mata dari jin yang terus mendekap Sani ke arahnya. Hak itu membuat Andre sangat takut sampai menutup kedua matanya.
"Andre... apaan sih." Rengek Ira yang tubuhnya langsung terbentur ke kursi di depannya karena Andre yang tiba-tiba mengerem mobil. Beruntung jalanan sudah masuk desa dan sedikit sepi.
Ira sigap menahan tubuh Sani yang hampir terjatuh ke bawah.
"Bisa gak jalanin mobilnya? Sampai mau terjatuh ini." Protes Ira yang masih tidak dijawab Andre.
Andre sangat ketakutan dia tidak bisa mengontrol tubuhnya karena takut.
Ketakutan Andre sangat beralasan, dia tidak bisa melupakan satu kejadian yang menimpa Ibunya 12 tahun yang lalu. Karena itu Andre masih tidak bisa menghadapi jin, makhluk seperti mereka secara langsung.
Perlahan Andre memaksa kedua mata untuk terbuka kembali, mengingat tujuannya untuk membawa Sani ke rumah Nenek belum selesai. Perasaan takut yang dirasakannya lagi setelah 12 tahun berlalu membuat darah yang mengalir dalam tubuhnya sudah langsung bisa mengenali sosok yang menggoda bulu kuduknya berdiri. Andre tahu irama angin dingin yang tiba-tiba melintas dan membuat buku kuduknya berdiri, Andre juga bisa merasakan semua inderanya mulai awas. Dalam kondisi yang membuatnya hanya bisa diam muncul ingatan kata-kata dari Neneknya agar jangan merasa takut dan dikuasai olehnya, hal itu membuat jiwa Andre lebih terlihat oleh makhluk seperti mereka. Yang harus dilakukannya adalah tetap bersikap tenang dan tidak menghiraukan meskipun tatapan mereka memaksa Andre untuk lebih penasaran lagi.
Dengan keberanian yang tersisa dan beban perjalanan yang masih membuat Andre harus memikirkan lagi tindakannya. Kalung dari Nenek seharusnya cukup menjadi penangkal dari gangguan seperti makhluk yang dilihatnya tadi. Andre dengan berani membuka mata dan perlahan mengatur napasnya lagi agar tenang. Perasaannya terus mengingatkan agar dia tidak melihat ke kaca mobil dan memastikan ke arah Sani. Nalurinya itu terus mengingatkan Andre, hingga gas mobil mulai bisa diinjaknya lagi dan perjalanan kembali melaju.
Suasana langsung tenang, tidak ada suara apapun termasuk suara Ira. Mata Andre membulat mengingat jika terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya itu. Tapi nalurinya terus memaksa Andre agar tidak pernah memalingkan pandangan lagi ke arah mereka.
"Hi...hi...hi..."
Seperti langsung ditusuk sekaligus, jantung Andre terkejut lagi mendengar tawa yang tidak biasa terlintas melewati telinganya.
Hatinya tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Ira... IRA" Teriakan Sani langsung membuat Andre panik.
Spontan Andre menghentikan mobilnya lagi dan melihat ke arah Sani.
Satu makhluk yang berambut panjang menyeringai ke arahnya dengan kedua tangannya yang panjang menutupi mata Sani. Ira di hadapannya terlihat berusaha menjauh dari Sani.
__ADS_1
Andre segera menarik pandangannya lagi. Tatapan mata dari makhluk itu terus terbayang-bayang dipikirannya.
Hingga keberanian Andre kembali menurun lagi, dia terlihat pusing dan linglung oleh pikirannya yang terus menghantui. Andre mulai hilang kendali, dadanya terasa sesak dan seluruh penglihatan memutar di atas kepalanya, telinga berdenging tidak mendengarkan apapun. Tapi dari kesadaran Andre sudah membawanya lagi pada bayangan masalalu ketika Ibunya tewas dan keluar sosok perempuan berambut panjang dengan senyuman sama yang Andre lihat dari Jin yang terus menempel di tubuh Sani. Hingga semuanya menghitam dan merah seperti cahaya yang berbaur lalu redup dan mati.