Dunia Mu

Dunia Mu
berulah lagi


__ADS_3

Bu Ratih masih mematung di dalam dapur. Dan tanpa disangka sebuah piring kali ini benar-benar jatuh di hadapannya membuat Bu Ratih terperanjat kaget. Sesuatu pasti sudah membuat piring yang jelas-jelas ada di tengah meja makan sampai bisa terjatuh seperti itu. Bu Ratih hanya memandanginya namun dia terlihat berusaha untuk tenang meski suasana saat itu kian tegang dan membuat Bu Ratih tak bisa berkata-kata lagi.


Tangan gemetar mulai berusaha meraih obat yang ada di dalam kotak p3k. Tampak sekali Bu Ratih begitu berusaha keras agar pikirannya tetap tenang sampai dia keluar dari dalam dapur dan berjalan kembali ke arah kamar.


Bu Ratih masih menyimpan perasaannya yang takut apalagi saat dia masuk dan melihat Sani yang sudah bisa berdiri memunggunginya saat itu dan menatap ke arah gorden jendela yang masih tertutup. Tak disengaja Bu Ratih menjatuhkan kembali obat-obatan yang sudah ada dalam genggaman tangannya saking karena cukup tercengang dan kaget.


"Neng Sani!" Ucapnya lirih. Bu Ratih seperti sudah menebak sesuatu yang lain dan dia seolah sudah menyadarinya.


Perlahan Sani memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Bu Ratih.


Hahaha...


Suara tawa cekikikan yang terdengar bagaikan suara lain bukan suara asli Sani yang keluar dan cukup membuat bulu kuduk merinding, sampai rasanya udara dingin langsung membalut di seluruh permukaan kulit.


Bu Ratih tak bisa bergerak dia sangat syok apalagi di hadapannya Sani yang bertingkah aneh.


Suara tawa melengking seperti orang bilang adalah suara setan perempuan masih terdengar. Tampak kaki Bu Ratih berjalan mundur dalam situasi seperti itu siapapun akan berusaha untuk kabur kan?


Beruntung sekali karena Bu Ratih tidak terlalu dalam masuk ke dalam kamar, sehingga saat dia beberapa kali melangkah mundur maka dia sudah berada di ambang pintu posisinya sudah keluar dari ruangan.


"Nak Andre!"


"Nak Andre!" Dengan panik Bu Ratih terus memanggil Andre hingga saat berada di luar kamar Andre sekalipun Bu Ratih lebih keras berteriak.

__ADS_1


Pintu terbuka dan dari dalam tampak Andre keluar memperlihatkan wajahnya yang baru saja bangun tidur.


"Neng Sani. Cepat Nak Andre!" Sebut Bu Ratih sambil terus mengajak Andre yang baru saja terbangun untuk ikut dengannya. "Neng Sani kesurupan!" Tegas Bu Ratih berhasil membuat Andre terperanjat kaget.


Yang langsung terbayangkan adalah setan perempuan yang dia lihat beberapa kali ini. Andre langsung berlari ke dalam kamar. Tapi keberaniannya memang belum cukup saat itu, sehingga saat dia berpapasan dengan Sani yang sangat dingin memandanginya penuh amarah dan disusul dengan tawa khas setan perempuan yang sangat sekali suka membuat Andre gemetar takut.


Bu Ratih hanya bisa bersembunyi di balik tubuh Andre yang juga dirinya tidak cukup mampu menghadapi Sani saat itu.


"Akhirnya aku bisa melihatmu!" Ucapnya yang kembali langsung tertawa.


Andre hanya bisa membulatkan mata tidak begitu mengerti untuk memaknai kata-kata setan itu.


Saat Andre sibuk berpikir tiba-tiba tubuh Sani langsung ambruk ke bawah lantai, membuat Andre khawatir. Bu Ratih lebih dulu sigap segera mendekat ke arah Sani kemudian Andre juga ikut menyusul.


Andre segera memangku Sani kembali menidurkannya di atas kasur. Saat melihat ke arah tangan Sani yang tampak keriput pucat dan garis-garis urat tangan menyembul di balik kulit tangan yang sudah keriput, sekilas pikiran Andre langsung melayang lagi pada hal lain. Dia jadi teringat jika saat ini ada yang menempel pada Sani.


Saat menerka-nerka sendiri kemungkinan yang cukup tidak begitu pasti, Andre mendongak ke arah lain dan nampak cukup syok saat sosok nenek-nenek sedang berdiri dalam jarak beberapa meter dengan tempat Sani dan dia.


Sosok nenek-nenek yang sebenarnya Andre bisa langsung tahu dia siapa, seorang jin yang waktu itu bersamaan keluar saat kalung penjaga yang diberikan Anis dibawa oleh pak ustad.


Di balik kejadian yang terjadi pada Sani membuat Andre berpikir lain lagi, tentang jin penjaga itu apakah dia sengaja datang kembali karena sesuatu hal? atau jin penjaga itu sengaja datang untuk Sani?


"Beruntung sekali Ibu cepat ke kamar lagi. Dari tadi ibu sudah firasat, apalagi Neng Sani ternyata lagi datang bulan." Terang Bu Ratih yang belum Andre merasa curiga atau aneh saat itu.

__ADS_1


"Ibu baik-baik saja kan? Mohon maaf ya Bu selalu merepotkan." Ucap Andre cukup merasa tidak enak.


"Gak apa-apa kok nak Andre. Kalau kejadian kayak gini emang udah biasa, Neng Sani lagi halangan makanya bisa kayak gitu. Ibu Maklum aja dan semoga gak kejadian lagi." Timpal Bu Ratih padahal hatinya masih ketar-ketir tidak tenang. Terlihat sekali dari wajahnya.


Andre diam dan memperhatikan ke arah Bu Ratih, dia merasa ada sesuatu yang aneh dan entah apa. Andre merasa jika Bu Ratih sudah menyembunyikan sesuatu.


"Bu, Andre tinggal di kamar ini ya? Biar Andre tidurnya di bawah saja." Andre memberanikan diri dia menawarkan diri untuk menemani dua orang perempuan.


"Duh Ibu gak enak. Tapi boleh banget gitu kita tinggal di kamar ini semua." Ucap Bu Ratih. "Ibu ambil kasur lantai dan selimut untuk Nak Andre dulu ya!" Ucap Bu Ratih yang sudah bersiap akan pergi keluar.


"Jangan Bu! Biar Andre saja." Andre segera menyerbu Bu Ratih dan menghentikannya.


Tiba-tiba tak disangka suara piring terjatuh terdengar nyaring lagi dari arah dapur.


"Ibu tutup pintunya ya, kamu bisa gunakan alas tidur yang ada di kamar ini." Bu Ratih sangat tampak khawatir sekali ketika dia mendapatkan sesuatu keganjilan lain lagi.


Andre hanya diam, dia tidak menolak maupun bertanya tentang sesuatu yang sangat ditakutkan oleh Bu Ratih saat itu. Andre cukup tahu bahwa mungkin dari arah dapur mereka yang tinggal di sana sedang cari perhatian saja. Hingga saat Andre berbalik dia melihat anak kecil sudah berada di sekeliling tubuh Bu Ratih membuat perhatian Andre tertarik pada kedatangan mereka.


Sekilas Andre memperhatikan kembali ke dalam album yang masih terpajang di kamar, di sana tidak ada anak kecil itu lantas mereka?


"Nak Andre dari tadi terus memperhatikan foto keluarga saya. Ada apa?" Tanya Bu Ratih mengejutkan.


Andre terperanjat mendengarnya. "Tidak ada Bu, saya sih sedikit penasaran apakah itu putri ibu?" Cetus Andre mulai memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


__ADS_2