
"Kalian bener hari ini mau berangkatnya?" Tanya lagi istri Pak Dean.
"Loh mama ini nanya terus gitu sih." Timpal Pak Dean seperti tidak begitu nyaman dengan pertanyaan yang diutarakan istrinya itu.
"Ih kan belum siapin apa-apa juga, nanti oleh-oleh nya mereka bawa apa kan pak?" Jawab istrinya Pak Dean mengutarakan maksud hatinya.
"Ah gampang! soal oleh-oleh kayaknya cukup deh buat mereka berdua." Balas Bu Ratih yang masih sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya itu.
"Wah ngerepotin lagi deh. Bu kalau belanja dulu sempet kan?" Tanya Pak Dean pada istrinya.
"Jadi gak enak gini. Padahal udah diundang makan bersama kayak gini aja kami senang banget. Jangan repot-repot Pak." Andre langsung menghentikan perdebatan ke tiga orang perihal oleh-oleh.
"Pokoknya kalian harus bawa oleh-oleh dari sini, lumayan kan buat orang di rumah." Bu Ratih langsung menjawab dan sepertinya dia memang sudah memiliki sesuatu untuk keduanya.
"Pak Dean juga kayaknya gak perlu belanja-belanja deh, udah cukup kok oleh-oleh di rumah Ibu dibawa saja sama Nak Andre dan Neng Sani." Bu Ratih masih bersikukuh jika yang lain tidak perlu mempertanyakan tentang oleh-oleh.
"Seneng banget deh. Terimakasih buat semuanya." Andre tidak tinggal diam dia sangat berterimakasih meski memang cukup merasa tak enak dengan orang-orang yang begitu baik padanya.
"Kalau bisa kalian jangan buru-buru pulang ya!" Seru istrinya Pak Dean sontak saja Andre dan Sani langsung memperhatikan ke arahnya.
"Kayaknya Ibu dan Bapak mau mengobrol dulu." Ditambah dengan pernyataan terakhir istri Pak Dean membuat Andre langsung bertanya-tanya.
"Tapi bukan apa-apa kok. Cuman Bapak butuh ngobrol empat mata saja dan sepertinya harus diobrolkan." Timpal Pak Dean memperkuat pernyataan Istrinya.
Bu Ratih diam saja, tentu dia tak ikut campur dengan urusan antara Pak Dean dan Andre, dia tidak tahu menahu dan nanti juga tinggal langsung bertanya saja pada Pak Dean kan.
__ADS_1
Andre diam mendengarkan. "Baiklah Andre sebetulnya belum ada rencana juga karena belum mengobrol dengan Sani. Kalau soal itu tentu Andre dan Sani bisa." Jawab Andre tanda menyetujui.
"Loh jadi kalian berdua belum mengobrol sampai sana?" Ucap Pak Dean tampak tak percaya.
"Duh Bapak jadi gak enak gini dong, Bu kok kita malah yang nentu-nentuin gini ya!" Ucap Pak Dean pada istrinya.
"Gak apa-apa kok Pak. Lagian soal itu Sani gak keberatan juga." Seru Sani segera membuat Pak Dean dan Istrinya bisa bernapas lega.
"Jadi untuk ngobrolnya nanti dilanjut lagi, sekarang nasi masih banyak, sayur masih banyak, lauknya juga." Sindir Bu Ratih sambil menyuapkan nasi.
Pak Dean dan yang lain langsung merasa tersindir, karena benar saja dari tadi mereka hanya sibuk dengan obrolan bukannya makan.
"Eh ia, bapak juga belum nyobain rendang daging buatan Bu Ratih." Seru Pak Dean basa-basi sambil mengambil rendang yang menggoda matanya dari tadi.
Akhirnya acara makan bersama berjalan dengan menyenangkan dan sangat berkesan, apalagi dalam satu agenda yang cukup mendadak. Saat Andre harus memikirkan agenda mereka berdua pergi tanpa sesuatu yang direncanakan.
Andre duduk di sebuah kursi yang langsung menghadap ke arah taman kecil di pekarangan rumah Bu Ratih, sementara yang lainnya sibuk membereskan meja makan dan dapur dan setahu dia Pak Dean dia masih sibuk menerima telpon dari seseorang.
Kalau keadaannya seperti sekarang bisa membuat Andre melamun lagi, pikirannya tidak bisa diam pasti selalu mengingatkan dia pada banyak hal dan terutama ingatannya yang masih terganggu dengan kabar buruk sekaligus kabar duka bagi semuanya. Andre sekarang mulai penasaran bagaimana keadaan Pak Tarman di kantor polisi? Apa dia harus berpamitan padanya lebih dulu? Rasanya sesak sekali, Andre butuh banyak energi dan oksigen banyak untuk mengembalikan perasaannya tentang Pak Tarman. Tak bisa dipungkiri jika dia cukup tidak bisa terima dengan semua alasan Pak Tarman hingga tega membunuh Pak Rais dan Nenek sepuh. Apa memang dia sudah dibutakan?
Lamunan Andre tak cepat berakhir karena tidak ada orang yang mengganggu dan menghentikannya. Andre masih ingat kejadian malam itu apalagi bayangan wajah Tri yang jelas membuat hatinya tersayat lagi.
Memang siapa yang bisa menebak takdir akhirnya akan bercerita seperti sekarang, siapa yang bisa memilih dan menghentikan sebuah takdir yang sudah tertulis? Tidak ada yang bisa. Tapi hati Andre belum bisa menerima istilah yang sering dia bicarakan dengan orang lain, ternyata dalam keadaan ini rasanya begitu sulit.
"Nak Andre?" Panggilan terdengar dari arah dalam rumah yang berulangkali menyebut namanya.
__ADS_1
Andre terperanjat mendengarkan suara Pak Dean, saat dia berbalik Pak Dean sudah ada di ambang pintu dan langsung menatap sungkan kearahnya.
Awalnya Andre ingin bertanya mengapa Pak Dean cukup terburu-buru memanggilnya, tapi sepertinya Pak Dean akan mengatakan alasannya itu.
"Oh Nak Andre ada di sini." Ucap Pak Dean cukup kikuk saat tahu Andre berada di teras rumah.
"Ada apa Pak?" Spontan Andre bertanya, dia penasaran saat melihat Pak Dean cukup bingung.
"Tidak ada apa-apa sih. Yasudah dilanjut lagi, Bapak kayaknya mau cari Ibu dulu." Lanjut Pak Dean kembali terburu-buru masuk ke dalam rumah, namun di mata Andre Pak Dean sepertinya memang ingin menyampaikan sesuatu untuknya, pasti itu penting. Namun mengapa Pak Dean membatalkannya?
Andre kembali duduk di kursi, dia tidak terlalu memikirkan reaksi Pak Dean dan tentang tebakannya itu. Pastinya Pak Dean akan berbicara apapun jika itu memang penting untuk dia ketahui kan?
Tak lama setelah Pak Dean masuk Andre kembali menoleh ke arah pintu, terlihat Sani yang baru saja keluar dan langsung melihat ke arahnya. Sama seperti Pak Dean tingkah Sani juga terlihat kikuk saat melihat Andre. Apa yang salah memang?
"Tunggu!" Ucap Andre sigap menghentikan Sani yang bermaksud ingin kembali masuk ke dalam rumah.
Sani langsung mematung dan ragu-ragu mengalihkan perhatiannya.
"Ada yang mau disampaikan? Ngobrol di sini juga gak apa-apa kan?" Celoteh Andre membuat Sani masih salah tingkah. Mengapa orang-orang bersikap canggung padanya? Andre sebenarnya langsung penasaran.
Tanpa membalas ucapan Andre, Sani langsung berjalan mendekat ke arah Andre.
"Duduk dulu." Seru Andre membuat Sani langsung duduk di sebelah kursinya.
"Sebenarnya bukan masalah yang penting. Aku cuman mau memastikan aja, kita bener pulang sekarang?" Ucap Sani terdengar setengah membisik.
__ADS_1