
Seketika suasana langsung merinding, rasa panas bagaikan dialirkan ke seluruh tubuhnya, satu detik saja tubuh langsung kaku membeku di tempat.
Andre melotot ngeri karena jaraknya tak sampai satu setengah meter, bahkan dia merasakan suhu dingin dari kepalan telapak tangan setan tadi yang mungkin akan menjadi pengalaman seumur hidupnya.
Setan perempuan yang masih menunduk di depannya, rambut menjuntai dan pasti sangat panjang. Beberapa detik membuat Andre harus menahan napas lagi, dia memang masih merasakan hal yang sama tidak bisa terbiasa saat berpapasan dengan makhluk tak kasat mata.
Tidak berlangsung lama tapi penampakan itu bagaikan bayangan langsung hilang lagi setelah 2 menit berlalu.
"Sani?" Gumam hatinya saat tersadar baru saja ada sesuatu yang salah.
Namun tiba-tiba suara gesekan ban mobil dengan jalan terdengar begitu jelas dan keras, yang langsung terbayangkan saat itu adalah kondisi Sani, ketakutan terbesar Andre jika sudah terjadi sesuatu pada Sani.
Andre langsung memutar bola matanya mencari sesuatu dengan teliti, tapi detik berganti hatinya kian terasa tidak baik, firasatnya buruk. Andre masih menahan sorot matanya dengan gemetar dan bayangan mengerikan mengalir ke dalam otaknya. Seharusnya dari tempat mobil terhenti di sana masih ada Sani seperti tadi atau mobil sudah menghilangkannya?
Napas bagaikan hilang seketika, tidak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari mulut Andre. Tubuhnya terasa lemas dan entah apa yang akan dia katakan pada semua orang tentang kecelakaan yang terjadi di depan matanya. Semua karena setan itu! Jika saja tidak terjadi suatu keanehan apapun, tidak akan terjadi juga kengerian ini.
Seolah masih terhipnotis karena tak sedikitpun Andre mengalihkan penglihatannya saat itu, hingga sesuatu yang samar terlihat, ada sesuatu yang keluar dari bawah mobil bersamaan seorang supir yang begitu cemas turun dari mobil.
Awalnya sebuah tangan merangkak keluar dan tubuh Sani nampak cepat terlihat juga. Bayangkan saja mobil itu sangat besar sampai Sani bisa masuk ke kolong mobil bagian depannya.
Akhirnya sekarang Andre bisa menarik napas lega, ternyata masih ada begitu besar keajaiban yang terjadi. Mata Andre tak tahan mulai berkaca-kaca, sambil mencoba berdiri dan berjalan menghampiri ke tempat mobil berhenti.
Andre langsung berlari tak ingin menunggu waktu, setidaknya hari ini dia cukup beruntung meskipun nasib dan masalahnya entah sudah sampai dimana.
__ADS_1
"Beruntung sekali Neng!" Seru supir yang dari tadi pasti menjadi orang paling ketakutan. Tampak jelas Andre bisa melihat rasa syukurnya.
Sani masih tidak bisa berkata-kata pastinya dia cukup syok dan masih tak percaya bahwa dia cukup beruntung, karena jika sampai terlindas oleh mobil besar seperti ini nasibnya sudah bisa langsung berakhir.
Andre cepat meraih tangan Sani dan membantunya berdiri.
"Bisa apes Bapak kalau sampai terjadi sesuatu? Bapak padahal tadi gak lihat ada orang di tengah jalan. Kok setelah jaraknya dekat muncul." Komentar Pak Supir.
Andre hanya mendengarnya, tentu saja dia yang paling tahu kenapa alasannya tapi tidak mungkin dia mengatakan jika itu ulah karena setan.
"Benar gak apa-apa kan Neng?" Tanya lagi supir masih panik.
"Bapak lanjutin lagi jalannya! Teman saya baik-baik saja, bersyukur sekali jalanan sepi." Balas Andre tidak membiarkan supir untuk bicara sendirian.
"Oh ia. Cepat kalian nyebrang, kalau ada mobil yang datang lagi gimana." Pak supir langsung memerintah Andre agar cepat berjalan ke seberang. Pak supir juga terburu-buru untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Kita sekarang kemana?" Tanya Sani nampak masih pucat. Pengalaman yang luar biasa dan pasti akan menjadi trauma hebat untuk Sani.
"Sebaiknya cepat ke rumah itu!" Ucap Andre menunjuk salah satu rumah yang jaraknya tidak begitu jauh.
"Assalamualaikum." Ucap salam Andre sambil mengetuk pintu beberapa kali. Sani di sampingnya masih diam.
"Waalaikum salam." Terdengar jawaban dari dalam rumah, akhirnya pemilik rumah bisa menyambut salam Andre dan kali ini dia bisa meminta bantuan untuk tinggal sementara di sini.
__ADS_1
"Nak Andre, Ibu kira siapa tadi." Ucap seorang Ibu-ibu.
Andre membalas tatapan Ibu-ibu itu dengan canggung. Beruntung sekali karena dia sempat datang ke acara tahlilan di rumah Pak Dean dan bertemu dengan banyak tetangga sehingga dia tidak perlu lagi untuk menjelaskan panjang lebar.
"Maaf Bu. Saya bawa teman ke sini." Ucap Andre.
"Cepat masuk sudah malam!" Seru Ibu-ibu yang tidak mempermasalahkan Sani. "Jangan sungkan ya, kalau ada apa-apa tinggal bilang sama ibu." Lanjutnya lagi. "Kalian sudah makan?" Ternyata pertanyaan dan perhatian Ibu-ibu tetangga Pak Dean langsung terlihat begitu baik.
"Alhamdulillah, sudah Bu." Jawab Andre santun.
"Temannya Nak Andre? Ibu boleh tahu namanya siapa?" Tanya Ibu-ibu itu dengan tersenyum ramah. Sementara itu Andre memperhatikan ke sudut lain dan tampak sepi, seperti tidak ada orang lain di rumah.
"Oh ia, perkenalkan Bu teman saya Sani." Balas Andre mendahului Sani berbicara, karena dari tadi Sani hanya diam saja dan dia hanya sedikit tersenyum. Pasti alasannya karena kejadian tadi, tentu saja Sani masih syok.
"Oh Nak Sani. Kalian tidur di sini ya!" Padahal Andre belum sempat membicarakan tujuan mereka berdua, tapi ternyata Ibu-ibu di hadapannya sangat begitu peka dan membuat Andre nyaman meskipun dari tadi baru berbicara beberapa kata saja.
"Terimakasih, Bu. Maaf merepotkan sekali, soalnya tadi saya memang mau izin untuk menginap." Andre menyembunyikan wajahnya, dia sedikit merasa tidak enak karena merepotkan.
"Pokoknya kalian harus tidur di sini, Ibu senang kok karena Ibu di rumah tinggal sendirian jadi kalau rumah ramai Ibu pasti senang." Balas Ibu itu yang belum memberitahukan namanya. "Nak Sani tidur sama Ibu ya! pokoknya Ibu senang banget." Tak disangka jika Ibu-ibu itu memang baik dan sangat terbuka dengan mereka berdua, bahkan selama percakapan itu Ibu itu masih belum membicarakan dan menyinggung alasan Andre dan Sani datang ke rumahnya.
Sani masih diam saja dan tidak banyak berbicara dari tadi.
"Pasti Sani mau Bu. Terimakasih karena sudah mengizinkan kita berdua menginap." Ucap Andre segera menggantikan Sani untuk berbicara.
__ADS_1
"Yasudah Ibu tinggal dulu ya, kalau mau mandi kalian bisa gunakan kamar mandi di sana. Jangan sungkan ya kalau lapar bisa cek kulkas dan ke dapur!" Ucap Ibu itu akhirnya memberikan ruang pada Andre dan Sani untuk menenangkan diri.
Setelah kepergian Ibu-ibu yang begitu pengertian, di satu ruangan yang sama Andre dan Sani masih saling diam. Sesekali Andre melihat ke arah Sani yang masih diam saja.