Dunia Mu

Dunia Mu
Kabar tak pasti


__ADS_3

"Gimana Pak?" Tanya Andre masih berusaha mencairkan suasana.


"Jadi Nak Andre sekarang gak perlu khawatir lagi, temennya itu nanti sore juga bisa keluar dari rumah sakit." Terang Pak Tarman dengan nada santai membicarakan prihal Sani yang menurutnya sudah selesai.


"Yang benar Pak?" Tanya Andre, meski dalam hatinya dia sudah tahu ada sesuatu yang terdengar tidak sinkron dengan kenyataan tadi.


"Bapak-bapak tadi yang bilang sama Bapak, Jadi Nak Andre lebih baik sekarang mempersiapkan tempat dengan Tri di ruangan sebelah, kontrakan yang kosong gimana gak apa-apa kan?" Pak Tarman nyatanya langsung berpikir lebih maju, padahal belum tentu kan Sani keluar dari rumah sakit sore ini.


"Baik pak, jika seperti itu saya sangat berterimakasih." Balas Andre, tapi dari ekspresinya tidak bisa membuang perasaan Andre yang sebenarnya. Dia tentu terlihat masih bingung. "Padahal rumah sakit ditutup kan? Tapi Sani keluar sore ini? Yang benar saja?" Batin Andre.


"Tri!"


"Tri!"


Panggil Pak Tarman, dan tak lama Tri keluar dari kamarnya.


"Kenapa Pak?" Tanya Tri saat keluar dan berjalan menuju orang-orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Kamu sekarang bereskan ruangan di kontrakan kosong itu ya! Sekalian masaknya agak banyak nanti, soalnya teman Nak Andre boleh pulang sore ini!" Tutur kata Pak Tarman memerintahkan Tri sesuai dengan rencana yang dia ceritakan baru saja.


Andre masih heran, memutar bola matanya lagi melihat jauh-jauh ke arah luar membuang wajah dari perhatian Pak Tarman. Dia tidak tenang setelah mendengar penjelasan Pak Tarman mengenai Sani, karena itu terdengar lebih mudah. Lagi pula Rumah sakit juga ditutup. Lantas siapa yang memberikan izin Sani keluar dari rumah sakit? Andre terus memikirkan sesuatu yang masih mengusik pikirannya.


"Nak Andre!" Terdengar sebuah panggilan masuk ke dalam lamunan Andre saat itu.


"Bagaimana Pak?" Ucap Andre saat berbalik dan menangkap tatapan Pak Tarman.

__ADS_1


"Malah melamun, kenapa? Sudah beberapa kali Bapak panggil." Keluh Pak Tarman.


Andre langsung tersenyum menghilangkan perasaannya yang saat itu sedang gusar.


"Saya sudah siapkan makan siang Pak, bagaimana jika semuanya makan dulu saja!" Saran Tri yang langsung disambut senang, tentu saja perut yang sudah lapar di jam siang seperti ini dan langsung disuguhi makanan oleh Tri.


"Kemana Nenek, Tri?" Tanya Pak Tarman dari tadi dia memang tidak melihat Nenek sepuh berada di ruangan.


"Oh, itu. Nenek tadi mau istirahat katanya, tapi kok belum keluar kamar juga ya." Jelas Tri. "Saya mau panggil Nenek dulu." Lanjut Tri.


"Sudahlah, Nenek biar nanti menyusul. Lebih baik kamu gabung makan siang dulu." Saran Pak Tarman karena dia lebih berharap Tri yang belum makan untuk makan terlebih dulu, apalagi setelah capek masak.


"Tapi, Nenek." Tri masih berusaha untuk pergi.


Pak Tarman tak butuh dua kali untuk menjelaskan.


"Pokoknya kamu beresin kontrakan di sana ya!" Pak Tarman kembali membuka obrolan diantara semua orang yang hadir.


"Ia pak." Jawab Tri singkat, tanpa alasan dia langsung menyetujui permintaan Pak Tarman.


Bagi Andre dia masih tidak bisa tenang sebelum masalah-masalah yang sedang di hadapinya selesai. Rasanya menikmati makan jadi kurang mengenyangkan bagi Andre yang dari tadi terus saja memperhatikan ke arah luar pintu.


"Lihat apa Nak Andre?" Pak Tarman memang lebih aktif bertanya, sedikit saja ada sesuatu yang berbeda dia langsung paling aktif menanyakannya tidak seperti kebiasaan orang yang selalu melewatkan hal-hal kecil seperti itu.


"Saya tadi lihat sepertinya Nenek di luar." Ucap Andre membalas pertanyaan Pak Tarman.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Andre saat dia mengatakannya semua orang yang sedang makan langsung menghentikan suapan nasi dari tangannya, saling pandang satu sama lain, terutama Pak Tarman yang terus menggelengkan kepala pada Tri dan Pak Rais.


"Mas. Tidak ada siapa-siapa di luar. Nenek kan ada di kamar." Celoteh Tri tanpa diminta dia langsung mewakili isi pikiran Pak Tarman dan Pak Rais.


Andre langsung merasa kaget, dia lupa jika tidak harus menceritakan apa uang dilihatnya pada orang lain yang memiliki mata normal tidak sepertinya. Tentu saja hal itu akan menjadi bahan pertanyaan dan masalah.


"Maksud saya, saya pikir Nenek ada di luar Pak." Andre segera membenahi ucapannya yang tadi, dia tidak ingin terlihat seperti orang indigo oleh orang asing yang sedang duduk melingkar di hadapannya.


Pak Tarman tak melanjutkan obrolan lagi, dia diam seribu bahasa entah mengapa Pak Tarman merasa sesuatu hal yang aneh pada Andre. Dia sedikit curiga jika Andre bisa melihat sosok tak kasat mata, jelasnya seperti orang indigo.


Sedangkan Tri semakin terlihat gusar tidak tenang. Kebetulan sekali Tri bersikap seperti itu setelah mendengar penuturan Andre tadi. Tri bertingkah seperti seorang yang sedang berbohong dan baru saja ditangkap basah karena kebohongannya.


Suasana menjadi tak bergeming, yang terdengar hanya beberapa kunyahan dari masing-masing orang.


"Pak saya duluan!" Cetus Andre menghentikan aktivitas makan orang-orang yang juga sedang menikmati makan siang bersama.


"Silahkan Nak Andre." Seru Pak Rais menggantikan Pak Tarman berbicara.


Andre berdiri dan mulai berjalan ke arah dapur, di sana adalah kamar mandi tepat terlihat setelah keluar dari pintu, butuh 2 langkah besar hingga sampai ke pintu kamar mandi.


Andre mulai berpikir lagi apakah dia sudah salah merasakan, menilai dari tingkah Pak Tarman dan Neng Tri yang terus salah tingkah dari tadi. Sebenarnya jika harus jujur Andre merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya, terutama hubungan terlarang kedua orang yang sudah seperti anak dan ayah. Andre menggelengkan kepala, ternyata tidak mudah juga harus menutupi setiap kenyataan yang sangat tak disangka-sangka. Mengapa Tri dan Pak Tarman harus menjalani sebuah hubungan terlarang seperti itu?


Tak menunggu banyak waktu Andre langsung mengambil air di bak besar, membasuh kedua tangannya lalu membasuh wajah.


Hampir saja dia kehilangan denyut nadinya, tiba-tiba dari arah air Andre melihat sebuah senyuman menyeringai dari sosok tak kasat mata. Jika dipikir-pikir Andre masih belum terbiasa memang dengan setiap penampakan yang malah mengejutkan hatinya.

__ADS_1


Andre tetap melanjutkan kegiatan di kamar mandi, membasuh muka dan menyudahinya. Dia menarik napas dan mengeluarkannya lagi dengan bebas. Tapi saat berbalik menghadap pintu sebuah rambut menghalangi pemandangan. Rasanya dia langsung jantungan lagi, hampir saja dia berlari karena ketakutan. Tapi itu tidak dilakukannya, Andre memilih menarik napas dan meyakinkan lagi hatinya jika tidak pernah ada yang terlihat olehnya apalagi jika sesuatu itu sangat menyeramkan.


__ADS_2