Dunia Mu

Dunia Mu
Pengakuan Bu Ratih


__ADS_3

Pak Dean berdiri bingung di depan pintu ruang tunggu di rumah sakit itu, dia masih diam saja meski sebenarnya banyak yang ingin ditanyakan pada Bu Ratih. Alasan utamanya karena hanya Bu Ratih yang pergi terakhir bersama Andre.


Beberapa kali mata Pak Dean berbalik memastikan ke arah Bu Ratih yang sedang duduk melamun sendirian, sedangkan istrinya Pak Dean hanya duduk sibuk sendiri memutar jarinya di atas layar Hp. Pak Dean benar-benar tidak sanggup bahkan untuk mendekat ke arah Bu Ratih yang di matanya tampak cukup tertekan, dia tak mungkin bersikap keterlaluan kan.


Tak ada yang saling mengobrol satu sama lain, bahkan Bu Ratih yang biasanya paling aktif bicara kini hanya diam saja.


"Pak! Aku cari makan ya ke depan." Ucap istrinya Pak Dean saat itu. Pak Dean segera berbalik dan hanya menganggukkan kepala.


"Bu Ratih mau ikut?" Tanyanya pada Bu Ratih.


Pak Dean langsung terpancing dengan perkataan istrinya dan melihat Bu Ratih yang sangat tertekan sampai dia melamun cukup lama.


"Bu Ratih biar istirahat dulu Bu, kasihan capek. Ibu sendiri saja gak apa-apa kan?" Ucap Pak Dean meski Bu Ratih belum bicara apapun, bahkan setelah Pak Dean bicara Bu Ratih juga tidak mengatakan apapun.


"Mau sama Bapak aja?" Tanya Pak Dean karena istrinya yang juga malah diam saja memperhatikan Bu Ratih.


"Ibu pergi sendiri saja, Pak! Gak apa-apa kok." Beruntung sekali karena istri Pak Dean cukup mengerti dengan keadaan.


"Yasudah, Ibu hati-hati ya jangan jauh-jauh." Ucap Pak Dean mengkhawatirkan istrinya.


Tak begitu lama setelah istrinya pergi Pak Dean kembali diam, walaupun begitu beberapa kali dia tidak bisa memalingkan pandangannya ke arah Bu Ratih, Pak Dean sangat khawatir namun bingung harus mengawali pertanyaannya dari mana.

__ADS_1


Cukup lama meskipun baru 5 menit berlalu sejak istrinya pamit untuk mencari makan. Pak Dean masih memperhatikan Bu Ratih yang melamun, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Pak Dean bertanya langsung.


Dengan memberanikan diri Pak Dean berjalan mendekati Bu Ratih.


Saat itu Bu Ratih yang melamun dengan menundukkan wajahnya seketika langsung memperhatikan sepatu Pak Dean yang tiba-tiba muncul dalam penglihatannya. Bu Ratih melihat Pak Dean tampak begitu dekat.


"Saya akan ceritakan semuanya." Tiba-tiba ucap Bu Ratih dengan nada datar.


Mendengarkan pernyataan Bu Ratih Pak Dean cukup terperanjat dia tak menyangkan jika Bu Ratih langsung menebak tujuannya.


Kini Pak Dena sudah duduk di sebelah Bu Ratih, sampai detik itu pun Pak Dean belum berani bicara mendahului apa yang sudah diucapkan Bu Ratih, dia hanya menunggu gilirannya bicara saja.


"Mohon maaf sebelumnya, saya benar-benar syok dan belum berani mengatakannya Sampai sejauh ini. Saya benar-benar sudah salah karena memilih diam saja." Ucap Bu Fatih tampak seperti menyesali sesuatu.


"Maksudnya, Bu?" Tanya Pak Dean mulai memberanikan diri.


"Harusnya mereka sudah saya bawa ke kyai atau ustadz dari awal, karena saya tahu penyebab Andre ataupun Neng Sani dalam keadaan itu." Jawab Bu Ratih terdengar kata-katanya cukup melegakan, Pak Dean tahu jika Bu Ratih berbicara benar dan menyesali dari keputusannya.


"Saya juga tak menyangka jika roh perempuan itu sampai mengganggu mereka. Saya sangat menyesal." Ucap Bu Ratih kemudian menundukkan wajahnya.


"Sepertinya Ibu sangat yakin dan bisa menebak penyebabnya, tapi saya masih tak mengerti hubungan mereka dengan roh itu?" Menakjubkan karena Pak Dean langsung memberikan Bu Ratih sebuah pertanyaan inti. Pak Dean menunjukkan pemahamannya bahwa karena roh itu Sani dan Andre bisa terjebak dalam situasi saat ini.

__ADS_1


"Roh itu jin yang sangat jahat. Itu adalah kesalahan saya dan saya sangat menyesal." Jawab Bu Ratih hampir menangis.


Pak Dean langsung berhenti bertanya dia tidak bermaksud untuk membuat Bu Ratih terjebak dengan keadaannya. Pak Dean tak mengharapkan jika Bu Ratih sampai merasa tertekan seperti sekarang.


"Saya hanya bisa berharap jika roh itu benar-benar akan melepaskan mereka, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya benar-benar takut." Terang Bu Ratih terdengar menjelaskan situasinya saat itu.


Pak Dean masih diam saja dia tidak ingin bertanya dulu sebelum bisa mengerti semua situasinya.


"Tapi kita harus bawa mereka pada Pak Kyai, kita tak punya waktu yang banyak lagi, kita harus membawanya." Tak diduga Bu Ratih menjelaskan permintaannya, dia cukup bersikeras dan tampak panik saat berbicara.


"Pak Kyai? Kita harus membawanya sekarang?" Tanya Pak Dean memastikan.


"Tunggu apalagi, sebaiknya kita cepat pergi dan mencari kyai di tempat ini. Kita harus secepatnya." Bagaikan tanpa jeda Bu Ratih terus berbicara dengan kekeh seolah sudah tidak ada kesempatan lagi.


Pak Dean menganggukkan kepalanya tanda setuju, tapi hatinya langsung mengerti masalah yang sebenarnya, masalahnya yaitu bagaimana cara Pak Dean bisa menemukan Pak Kyai di tempat asing yang dia sendiri tidak tahu apapun dan baru pertama kali ini datang.


"Biar aku lakukan, ibu tunggu saja di sini dan jangan kemana-mana. Aku akan telon istriku untuk secepatnya datang." Pak Dean langsung menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Bu Ratih saat ini. Di satu sisi Bu Ratih tak mungkin bisa pergi keluar dalam kondisinya, selain itu harus ada orang yang menjaga Andre dan Sani. Pilihan terakhir hanya dia yang bisa mencari sendiri solusi dari masalahnya.


Tak lama setelah berjalan melewati beberapa ruangan, Pak Dean sudah berada di pintu keluar. Dia masih berdiri bingung, kemana harusnya dia sekarang? Melihat ada begitu banyak orang di rumah sakit namun tidak menjamin jika orang-orang itu berasal di daerah dan kota ini. Tujuan Pak Dean selanjutnya dia berencana untuk menemui rumah salah satu warga terdekat, dia akan bertanya tepatnya rumah atau masjid dengan pengurus mesjid nya bahkan semoga saja dia juga bertemu dengan ustadz nya.


Pak Dean memilih berjalan kaki, dia tak mungkin keluar masuk rumah sakit menggunakan mobil karena hak itu hanya akan membuatnya terjebak di jalan kan.

__ADS_1


Dari tampak gerbang luar rumah sakit Pak Dean hanya melihat sebuah jalanan dan beberapa kios juga tempat makan, dia ragu sebenarnya untuk mencari berjalan kaki ke tempat lain tanpa arah yang pasti. Tapi Pak Dean tak pernah berhenti berharap jika dia pasti berhasil menemukan sebuah rumah yang ditujunya.


Sudah seberapa jauh setelah berjalan kaki dan Pak Dean akhirnya berhenti di salah satu penjaja makanan di jalan. Setidaknya orang yabg berdagang pasti orang asli di tempat ini, Pak Dean pasti akan mudah menemukan informasi yang dia butuhkan.


__ADS_2