Dunia Mu

Dunia Mu
Orang di luar


__ADS_3

Apa yang bisa dilakukan Andre saat itu? Berkedip sedikitpun dia tak mampu, apalagi harus menggeser langkah kakinya untuk menjauh.


Mata yang seluruhnya menghitam dan menyisakan bagian putih sedikit, Andre sampai tahu bagaimana detail dari setan yang tampak sengaja muncul di belakangnya. Mata yang awalnya kecil perlahan membesar dan bola matanya bergerak tak beraturan semakin lama bola matanya mencuat bahkan sudah sebesar sekepal tangan.


Andre hanya bisa membeku saat menghadapi ketakutan besar dalam hidupnya. Sekarang bukan tentang setan yang sedang dia lihat, namun tentang cerita di masalalu yang membuatnya trauma hebat.


Namun setelah hitungan detik sosok itu langsung menghilang membuat Andre heran, tapi tetap saja kesan seram masih membalut di kulitnya membuat dia merinding dan bulu kuduknya berdiri.


Andre langsung berusaha menyusun lagi langkah kaki yang tadinya sempat kaku dan berat. Dia berjalan sedikit lebih dekat ke arah pedagang. Beruntung pedagang langsung memberikan makanan yang dipesan sehingga Andre tak perlu menunggu lama.


Dalam hati dia masih belum stabil, pikirannya berkecamuk dengan perasaan ngeri tadi. Dan kini dia masih tetap harus berusaha berjalan ke arah mobil karena Pak Dean sudah menunggu. Jika bisa dia sangat ingin melupakan kejadian yang baru saja membingungkan matanya, tapi dia tidak bisa.


"Akhirnya Andre sudah kembali, apa kita pulang sekarang?" Pak Dean langsung berbicara saat kedatangan Andre.


Andre tetap saja canggung dan gugup menghadapi obrolan Pak Dean, alhasi Andre tetap menundukkan wajahnya ke arah kaki.


Andre sangat berharap setelah ini semua bisa selamat dan tak ada lagi yang mengganggu.


Tapi ketika Andre masuk ke dalam mobil dan berhasil duduk juga menutup pintu rapat, dia masih saja merasa ngeri seperti situasi tadi. Kali ini apa yang membuatnya bisa merasakan hal itu. Andre cukup bingung karena penampakan setan juga sudah hilang. Semoga saja bukan apapun, karena meski sesuatu terjadi Andre tidak bisa menjelaskan.


Setiap objek yang dilihat Andre tentu saja tak sama seperti hang dilihat oleh mata telanjang milik orang lain. Bedanya hanya menyangkut pada kemampuan dan bakat alami, tapi Andre selalu meyebutnya jika itu hanya sebagian kesialan saja.


"Bismillah. Kita berangkat lagi sekarang." Seru Pak Dean memberi tahu pada orang seisi mobil.


Andre menghela napas, dia sedikit merasa lega karena sosok tadi tidak nampak lagi di depan kaca dan semoga saja dalam hatinya dia tak berhenti berharap agar perjalanan kali ini tidak terhambat oleh apapun lagi.

__ADS_1


"Oh ya Nak Andre sebetulnya dari tadi Bapak ingin menanyakan sesuatu pada kalian. Apa sebaiknya Bapak mengobrol sekarang?" Pak Dean mengawali pembicaraan di dalam mobil. Andre sebenarnya cukup penasaran maksud dari Pak Dean dan sesuatu yang ingin ditanyakan nya, tapi entah mengapa perasaan Andre mengatakan jika Pak Dean akan membahas tentang Pak Tarman.


"Pak, apakah perjalanannya masih lama?" Tiba-tiba Sani bertanya saat itu, sedikit lega karena perhatian teralihkan.


"Mengenai itu sepertinya sudah dekat ya. Di depan adalah rumah sakit dan sedikit lagi rumah Bapak!" Semangatnya Pak Dean menjelaskan karena akhirnya dia sudah sampai mengantarkan Andre dan Sani.


"Syukurlah sudah dekat ya." Ucap Sani.


Andre di sampingnya hanya diam saja membuang penglihatannya ke arah lain dibalik jendela. Dia tidak tertarik mencela obrolan antara Sani dan Pak Dean, justru Andre sedikit merasa tertolong karena memang waktunya belum pas jika harus membahas tentang Pak Tarman di dalam mobil.


"Sudah sampai!" Teriak Pak Dean saat itu memberikan kabar baik.


Entah karena Andre yang melamun terus dia merasa perjalanan yang dilakukan cukup singkat.


Tanpa rasa curiga apapun saat itu, Andre bersama dua orang turun dari mobil.


Andre langsung tercengang entah mengapa kali ini dia merasa sangat panik, tapi apa yang akan dikatakannya pada Pak Dean? Andre tak cukup berani dan tidak memiliki keyakinan untuk berbicara.


"Nak Andre bisa pergi ke rumah di sana kalau ada perlu sesuatu, di sana tetangga rumah baik dan biasa membantu Bapak." Pak Dean memberikan sebuah pesan pada Andre dan beruntung karena dia juga menunjuk seseorang yang bisa diminta pertolongan nanti jika saja terjadi sesuatu.


"Bapak sekarang berangkat." Lanjut Lam Dean dan tanpa sadar singkatnya Pak Dean langsung masuk ke dalam mobil.


Andre mematung tapi dia tidak bisa mengatakan apapun. Andre berharap jika tidak akan terjadi apapun dan semoga saja segala urusan yang membuatnya sulit bisa sampai saat ini untuk yang terakhir kalinya.


Mobil sudah melaju dan menjauh dari halaman rumah.

__ADS_1


"Akhirnya ada makanan dan tempat untuk tinggal." Seru Sani membuatnya mengucapkan syukur, karena Sani sudah mengharapkan jika dia perlu kenyamanan tempat yang tidak akan membuatnya terancam.


Masih sekali ini Andre bisa menghela napas lega. Dia juga bisa membuat Sani sekaligus aman di tempat anak Pak Rais. Semoga saja sudah berakhir.


Sani langsung membuka rumah yang ternyata kuncinya tidak terlalu sulit. Pintu rumah pun terbuka lebar saat itu dan tak menunggu kesempatan Andre cepat memperingatkan Sani untuk masuk ke dalam rumah.


Nampak rumah Pak Dean yang nyaman, di rumah memang tanpa siapapun lagi selain Pak Dean dan istri karena Pak Rais yang memilih tinggal bersama Pak Tarman saat dia masih hidup.


Mata Andre mengabsen ke setiap ruangan dan yang terlihat ada sebuah kamar di ruangan itu juga. Sebelum memeriksa kamar Andre melihat ke arah jam yang tampak sudah menunjukkan angka 12 malam, dan apakah itu artinya? Saat sadar rasanya langsung membuat Andre berdegup begitu kencang. Andre tak bisa tenang karena di pikirannya sendiri terlalu banyak hal dan beban untuknya.


"Pasti mau makan dulu kan sekarang?" Tanya Sani menunjukkan sekantong makanan. Andre seperti tak berselera dia tidak tertarik dengan makanan itu.


Tok... tok... tok...


Suara pintu diketuk.


Andre yang sedang berdiri dan Sani yang duduk di kursi hanya bisa saling pandang mendengar suara dari arah pintu. Sani melihat ke arah jam dan tampak jam tengah malam.


Tak lama suara pintu semakin lebih terdengar keras bahkan seperti sengaja berusaha dibuka paksa dari arah luar.


Mendengar suara gedoran pintu Andre langsung mematung begitupun Sani yang langsung berlari ke arah Andre karena takut.


"Buka Dean! Dean! Kalian ada di dalam kan?" Sebuah suara terdengar menyusul dan terdengar sangat tergesa.


Suara yang didengar membuat hati Andre terhenyak kaget. Kali ini bukan hanya kaget lagi tapi Andre dan Sani sangat ketakutan.

__ADS_1


Langkah pertama yang dilakukan Andre saat itu langsung memburu pintu menutup tralis pintu yang terpasang dari dalam dan mengunci nya karena beruntung kunci saat itu masih tergantung.


Sedangkan Sani masih berdiri dia hanya bisa membeku takut.


__ADS_2