Dunia Mu

Dunia Mu
Kecemasan


__ADS_3

Tatapannya kosong sedangkan dalam pikirannya jelas membayangkan sosok Anis yang pernah tersenyum dan memberikan sebuah kalung.


Setiap napas yang dihirupnya Andre merasa ada ujung senyuman Anis yang masih terlukis, bahkan saat dia tidak lagi melakukan apapun tapi di dalam pikirannya tergambar jelas Anis sedang berdiri dekat dan terus memperhatikan kearahnya.


Sekarang bagaimana bisa dia hidup setelah lari dari kenyataan, dengan cara apa dia bisa menghapus ingatannya tentang Anis. Terasa seperti mimpi, kemarin masih sempat dia berbincang dan pamit, sekarang Anis sudah pamit untuk selamanya.


Andre hanya melamun di bawah terik matahari yang tidak membuatnya terganggu, bentuk suara apapun dan keramaian yang terjadi di sekitarnya seolah bisu tak bersuara. Dalam gendang telinganya hanya terngiang suara Anis dalam beberapa percakapan yang pernah dia lakukan.


Semua terjadi sesingkat menghela napas, ternyata kemunculan Anis di rumah tadi pagi itu seperti pertanda bagi Andre atau seperti ucapan selamat tinggal.


"Anda tidak mendengar ya? Dari tadi klakson mobil ku sudah berbunyi nyaring. Masih saja berdiri menghalangi." Seseorang marah-marah di depan mata Andre.


Sekilas melihatnya Andre langsung terkejut, saat matanya melihat sekitar dia mendapati dirinya sudah di tempat parkir sedang berdiri di sana dengan lamanya. Andre langsung menundukkan wajah dan meminta maaf.


Andre hanya menggelengkan kepala mengalami kekacauan yang dilakukan dirinya sendiri. Dia harusnya tidak frustasi dan terlalu diambil pusing karena bagaimanapun Anis tidak akan kembali, kecuali arwahnya yang mungkin datang dan pergi.


Andre mendapati dirinya berdiri di lahan parkir rumah sakit, dia ragu memang tapi harus bagaimana menyikapinya? Bukan saja ragu saat ini Andre merasa takut setelah kejadian tadi pagi. Dia tidak tahu kekacauan itu jika dipikirkan kembali sangat menyulitkan.


Matanya tak pernah lepas dari penampakan gedung yang sekarang Andre sangat ketakutan untuk pergi ke sana. Tapi hatinya keberatan dan kembali mengusik untuk menemui Sani di sana, dia harus memastikan Sani dan keadaannya. Setelah itu tidak apa mungkin besok-besok adalah waktunya dia kembali ke kehidupan normalnya.


Dengan keberanian yang terkumpul lagi, Andre membuang napas dan semakin meyakinkan dirinya apapun yang terjadi dan dilihat oleh matanya dia harus melupakan itu. Tujuannya satu, saat ini dia yakin untuk membawa Sani jauh dari RSJ itu, Andre tak sanggup jika harus berhadapan lagi dalam situasi yang serupa. Apalagi batinnya yang sudah yakin jika RSJ itu memang tidak beres.


Tinggal beberapa meter lagi hingga Andre sudah berdiri di depan rumah sakit, Andre melihat ada papan pengumuman yang di dalamnya memberitahukan jika sementara RSJ ditutup tidak menerima jam besuk.


Bagaikan tersambar petir, hatinya tak kuasa melihat informasi di papan pengumuman. Kabar buruk itu membuat Andre harus pulang lagi karena selain terkunci Andre tidak melihat ada petugas satu pun di sana.

__ADS_1


Sekarang terngiang jelas setiap ucapan yang dikatakan Pak Tarmin dan nenek sepuh di rumah Tri, tanpa berpikir lagi Andre berlari menuju rumah itu.


Setibanya di sana pandangan Andre kembali terganggu, dia melihat seorang nenek tua menghadang langkahnya. Saat berhenti dan meneliti dengan seksama, bola mata yang bergerak dari atas kepala hingga ke bagian kaki yang melayang tak menyentuh tanah. Merasa sial, Andre hanya bisa menelan pahit lidah di tenggorokannya, dia seperti mematung karena nalurinya yang masih merasa takut jika harus berpapasan dengan roh gentayangan.


Dengan sangat susah payah Andre menyeret kakinya dan harus melewati Nenek tua yang masih diam tak berekspresi. Bayangan menyeramkan datang lagi, hatinya berdegup saat harus melewati Nenek itu. Jika tak salah Andre melihat Nenek tua itu ada di rumah Tri tepatnya berada di ruangan sebelum memasuki dapur. Andre ingat dia melihatnya di sana dan sekarang roh itu sudah ada di depan rumah.


Andre membuang napas lega, dia berhenti dan mengatur napasnya. Matanya fokus melihat ke arah pintu, yang harus dilakukannya adalah masuk ke dalam rumah dan berbicara terus terang dengan semua orang.


Langkah Andre semakin tegas terlihat memasuki rumah, dia tidak mengetuknya lebih dulu melainkan langsung masuk ke dalam.


Beberapa pasang mata langsung menyambut kedatangan Andre yang saat itu sudah berdiri memasuki pintu. Jantungnya kembali merasa berdebar, perasaan gugup selalu dirasakan Andre saat berhadapan dengan orang yang fokus menatapnya.


Mengapa harus bersamaan ada di ruangan yang langsung Andre masuki saat itu? Andre sedikit menyesalkan karena tadi dia tidak mengetuk pintu, hal tersebut membuat perasaannya tidak enak.


"Eh kebetulan Nak Andre datang." Ucap Bapak-bapak di samping Pak Tarmin.


Andre melongo tak mengerti maksud dari kata-kata itu.


"Cepat masuk mas!" Ajak Tri. Andre langsung menurut dan dengan sopan masuk bergabung mungkin dengan obrolan yang sudah mereka lakukan dari tadi.


"Gagal ya?" Tanya Nenek sepuh di samping Andre. Mendengarkan pertanyaan itu membuat Andre tidak bisa menghindar, dia mengangguk tanda mengiyakan.


"Apa yang terjadi di sana?" Tebak Pak Tarmin. Andre terkejut lagi dengan pertanyaan itu yang menurutnya jelas menyinggung kejadian yang baru saja terjadi di sana.


"Ada sesuatu di sana." Ucap Andre singkat, dia berhenti lagi dan terlihat seperti mengumpulkan kata-katanya.

__ADS_1


"Mas sudah lihat kejadian di sana?" Cetus Tri menambahkan. Andre hanya semakin bingung mendengar pertanyaan dari orang-orang hingga dia termenung beberapa saat, memikirkan apakah dia harus mengatakannya?


"Nak Andre, ceritakan saja semuanya. Kami semua tahu dari awal setiap kejadian yang terjadi di sana, kami hanya ingin tahu apakah sekarang masih sama?" Pak Tarmin mengindahkan keraguan hati Andre. Membantu Andre untuk semakin yakin dan harus mengatakannya langsung.


"Rumah sakit di sana terlihat kacau. Ada keributan, petugas panik, dan mereka melakukan segala cara." Ucap Andre terhenti lagi seolah dia tidak sanggup untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.


Andre diam lagi tak bergeming, ada satu cerita yang mungkin akan dia ceritakan seluruhnya.


Andre menatap setiap pasang mata yang memandanginya penuh rasa harap.


"Sekarang rumah sakit itu ditutup lagi entah sampai kapan." Ucap Andre dengan penuh pertimbangan.


Orang-orang serempak terlihat menghela napas.


"Kita sekarang kumpulkan warga dan bubarkan rumah sakit itu, pasti di sana ada kejadian yang tidak beres lagi." Terdengar Bapak-bapak mengucapkannya penuh semangat.


Andre melihatnya cemas di satu sisi dia yakin benar jika rumah sakit itu tidak beres tapi di sisi lain lagi Andre takut jika dugaannya salah, lalu apa yang akan terjadi jika itu salah?


"Tidak pak, sebaiknya kita pastikan dulu lagi." Cegah Andre spontan langsung menghentikan perdebatan yang dilakukan oleh ornag-orang.


"Kenapa dengan Nak Andre? Bapak yakin Nak Andre melihat kejadian yang tidak pantas kan di sana? Atau Nak Andre tahu sesuatu agar lebih menguatkan alasan?" Bapak Tarmin terlihat menekan Andre dengan ucapannya. Andre bingung dia memang melihat petugas itu melakukan tindakan di luar dugaan, tapi Andre tidak tahu alasan pasti mengapa petugas itu melakukannya.


"Tidak Pak, kita jangan gegabah seperti itu aku yakin petugas RSJ di sana sudah melakukan yang sesuai. Tadi saja aku melihat mereka." Perkataan Andre terhenti dia terlihat berpikir lagi.


"Apa yang dilihat Nak Andre ini sebenarnya Nak Andre sempat masuk dan melihat situasi di dalam rumah sakit? Tadi bilang Nak Andre rumah sakit ditutup kan?" Ucap Pak Tarmin terlihat banyak lebih membuat Andre dag-dig-dug. Bahkan Andre tidak bisa banyak bicara lagi.

__ADS_1


__ADS_2