
Malam sudah datang dengan cepat.
Andre melamun di atas kasur dalam kamar yang sudah disiapkan oleh keluarga Tri untuk dirinya, hanya saja kamar itu berada di luar, jadi ketika Andre ingin pergi tidur dia harus keluar melalui pintu depan atau pintu belakang baru bisa masuk ke sebuah ruangan yang dijadikan kamar untuknya.
Dia menahan kepala di atas bantal dengan tangan kirinya, menarik lamunan yang terus membuatnya tidak tenang. Betul saja Andre gelisah sepanjang melewati malam hingga dilihatnya sudah pukul 22.00.
Andre melihat sebuah tv yang berukuran 14 inch di atas meja di samping tempat tidur, mengapa baru terpikirkan untuk menonton acara tv? Pikir Andre bergegas meraba remot yang ada di bawah meja. Tangannya menangkap selembaran yang terasa seperti rambut, saat penasaran dan ditariknya dia memang melihat rambut terikat. Andre tak bisa berpikir aneh tentang rambut yang disimpan di bawah meja dan diikat rapih. Tak ingin berpikiran lain Andre segera melemparkan lagi rambut itu ke kolong meja.
Sudah pukul 22.00 tak sedetikpun dia merasa ngantuk, apa karena tadi setelah isya dia sudah tidur? Andre semakin gusar.
Melihat tak ada air di sana, dia berpikir untuk mengambilnya ke dapur.
Dalam pikirannya Andre membayangkan ketika harus keluar dari kamar itu berarti dia langsung berada di luar rumah. Pemandangan malam yang membuat pikirannya melayang kemana saja, Andre ragu bisa sampai ke dapur apalagi mengingat wajah Nenek-nenek penampakan hantu yang dilihatnya siang itu, dia belum siap harus berpapasan lagi.
Andre menarik napas lagi, duduk melamun di ujung tempat tidur. Mengumpulkan keberanian yang tidak mudah baginya karena saat ini dia sudah bisa kembali melihat setiap penampakan dimana pun, itu seperti beban dan dia tidak ingin kewarasannya harus direnggut karena terlalu sering melihat sosok seperti mereka.
Matanya memandangi gelas kosong yang dari tadi masih dipegangnya. Tenggorokan seperti meronta-ronta minta air dingin dan segar, apa daya dia kembali bangkit dan membulatkan niat untuk pergi ke dapur.
Dibukanya kunci pintu kamar, Andre tidak menguncinya lagi pintu juga dibiarkan terbuka sedikit. Sekarang dia melihat suasana malam di sekitar rumah yang hanya ada satu rumah, yaitu rumah yang sekarang dia tempati. Sedangkan rumah kontrakan berjajar di samping dan masih sepi tanpa penghuni.
Andre menarik napas mengatur langkah kakinya agar segera pergi ke dalam rumah.
"Lebih baik lewat pintu belakang, semoga saja pintunya masih tidak dikunci teringat karena sudah sangat malam." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Saat melangkah ke depan pintu belakang yang di dalamnya adalah dapur, sudut mata Andre tertarik dengan penampakan yang dia lihat saat itu. Dari arah kaca tepatnya kaca itu adalah kamar Tri, dengan seksama bahkan tanpa bisa mengedipkan mata sedikitpun Andre melihat siluet bayangan tubuh ramping dan rambut disanggul seperti perempuan di balik tirai. Andre semakin penasaran, dia mengendap mendekat ke arah pusat perhatiannya. Sosok wanita yang tadinya terlihat berdiri telanjang langsung merubah posisinya menjadi duduk, awalnya diam saja tapi tak lama bergerak naik turun dan menggeliat memaju mundurkan pantatnya.
Andre mematung tak percaya, sebagai lelaki dewasa dia langsung menebak apa yang dilakukan Tri.
Tak lama suara ******* terngiang ke telinga Andre. Suara wanita Merintih puas. Dan tiba-tiba suara batuk laki-laki terdengar. Andre tahu asal suara itu yang tak lain adalah suara Pak Tarman lelaki paruh baya dan Tri yang masih gadis.
Seketika Andre mematung tak percaya, pikirannya seperti tersambar petir. Dia tak mengerti mengapa Tri melakukannya dengan Pak Tarman? Dia terlihat seperti seorang anak bagi Pak Tarman kan?
Andre bergegas mundur teratur, dia tidak ingin sampai ketahuan karena menguping.
Di dalam kamar pikirannya semakin gelisah, kali ini lebih banyak persoalan yang bisa saja membuat dia bertengkar dengan pikirannya sendiri.
Andre masih tak percaya apa yang dilihat dan didengarnya tadi. Mengapa sampai bisa seperti itu? Dia langsung menarik selimut berusaha keras ingin tidur.
Andre segera keluar membuka pintu.
"Eh Bapak." Ucap Andre canggung.
"Bapak ada urusan mau keluar dulu Nak Andre." Ucap Pak Tarman dengan gaya bicaranya yang khas.
Andre tidak melihat sedikitpun ekspresi lain dari Pak Tarman. Dia berdiri tak percaya, apa yang diperbuat Pak Tarman tidak membuatnya sedikitpun terlihat gelisah?
Andre berjalan masuk ke pintu belakang, dia mengambil minum dengan gelas kecil di dapur.
__ADS_1
Andre melihat ke samping kiri dan kanan, tidak ada yang menakutkan seperti siang saat dia sering melihat penampakan di luar atau di dalam rumah.
Keheranan Andre tidak membuat dia curiga, Andre sekarang tahu jika kalung ini menangkal malam saja.
Setelah kembali ke dalam kamar Andre berusaha untuk tidur lagi.
Matanya hampir sayu menahan kantuk yang sudah datang.
Setengah mengintip samar terlihat seorang wanita tepat di depan mata. Seketika Andre langsung membuka mata, tapi dia tidak melihat apapun selain sebuah ruangan kamar dengan warna cat biru dan matanya turun melihat lemari plastik kecil.
Bau bangkai yang hampir membuat perutnya mual, seperti bau yang diterbangkan angin ke hidungnya dengan sengaja. Andre langsung membulatkan mata saat duduk di tepi kasur karena yang dia lihat adalah tulisan di atas kertas dan menempel ke dinding di dekat pintu. Dia tahu pasti dimana seharusnya kertas bertuliskan Arab yang dilihatnya. Sekarang dia terbangun di kamar Anis.
Perasaan terkejutnya membuat Andre tidak bisa berpikir banyak, dia langsung berlari ke arah pintu dan membukanya. Tapi saat sudah diambang pintu matanya langsung menuju sebuah wajah tak asing bagi Andre, yaitu Anis. Mata terlihat melotot dan lidahnya terjulur keluar, bola mata Andre bergerak ke bagian leher yang di sana terikat kuat tali.
Andre melotot tak percaya hingga membawa dia kembali mundur teratur ke belakang. Sekarang dalam jarak ini dia jelas melihat tubuh Anis tergantung tepat di depan pintunya. Tapi tak lama sesuatu terasa menarik kaki Andre ke depan, sangat kuat hingga dia hampir terjatuh. Tak beruntung sebelah tangannya bertumpu pada tiang pagar lantai itu dan di atasnya adalah tubuh Anis tergantung. Andre tak tahu apa yang sudah menyeretnya sampai dalam satu posisi yang sangat mengkhawatirkan.
Tak tahan karena beban terasa berat bertumpu di ujung kaki, Andre harus melepaskan tangannya hingga dia terjatuh ke lantai bawah.
Andre memejamkan mata tapi tidak merasa sakit sedikitpun. Padahal seharusnya karena tubuhnya yang terbentur bisa membuat Andre kesakitan. Tapi dugaan itu tak berarti.
Andre melihat lagi suasana di tempat yang sama, kali ini di kosan yang berlantai dua itu terlihat ramai dengan orang-orang.
Dia terlalu penasaran dan mulai berjalan melewati orang-orang.
__ADS_1