Dunia Mu

Dunia Mu
Tak disangka


__ADS_3

Padahal malam itu terasa dingin dengan hembusan angin yang tak berhenti menyerbu ruang pintu utama dari rumah yang dibiarkan terbuka lebar, tepatnya saat tengah malam dan langit masih menunjukkan pekatnya. Suasana sunyi tak membisikan suara pertanda kehadiran orang dari dalam rumah, namun memang bungkam ditelan dengan suasana yang sebaliknya lebih ketir dan memanas setelah pergulatan dua orang dewasa pada ruangan sempit berukuran beberapa meter. Setelah usai keadaan menjadi sepi.


Seakan tangannya sudah kehilangan kendali, gemetar tak henti dengan napas yang berusaha dia salurkan ke dalam paru-paru di dadanya. Andre masih berdiri tak percaya diantara beberapa orang dan mungkin tepatnya di hadapan tubuh kaku milik Pak Rais.


Matanya memperlihatkan bagaimana suasana hati yang seketika berbalut dengan kecemasan, mata yang masih membulat kaget tidak menyisakan sedikit celah untuk Andre bisa bernapas lebih ringan, hingga suara juga enggan keluar berkomentar.


Beberapa detik terdiam, Andre yang hanya bisa terus melihat tubuh Pak Rais tanpa berkedip, sisa mental yang langsung turun di hadapan insiden besar yang sudah terjadi. Dia tak bisa percaya, bahkan sedetikpun mengerti dengan waras pada pemandangan yang tak bisa lepas dari pengawasan kedua matanya.


Bola matanya membulat sempurna masih menyiratkan cemas dan dominan tidak bisa menampik perasaan bingung bagaikan orang linglung, bahkan mulutnya seperti sedang tersumpal kain tebal yang dijejalkan paksa masuk hingga ke dalam tenggorokan membuat dia sangat kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata yang terperangkap di dalam hatinya.


Sementara kedua kaki Andre yang kaku tak bergeser sedikitpun dari tempat semula, beruntung jika masih bisa berdiri tegak di atas lantai yang perlahan dari arah tubuh Pak Rais tampak mengalir cairan darah berwarna merah pekat mendekat ke arahnya, semakin membuat jantung berpacu kencang dan darahnya mendidih.

__ADS_1


Dalam kepanikan yang terus menghipnotis Andre tetap diam kaku, kesadaran yang sepertinya sudah melayang dengan hati yang terus dipaksa menampik kenyataan di depan mata. Sebagian besar, dia tidak ingin jika semua memang nyata.


Andre masih mematung tak mampu untuk mengatur kesadarannya, hanya sesekali matanya bergerak menangkap sosok Sani yang tersungkur tak jauh dari tempatnya tampak lebih kacau dari yang dia rasakan. Kedua tangan Sani menutup rapat telinga dan memperlihatkan kepanikan hingga kedua tangan itu gemetar. Baru saja Andre berniat ingin mendekat ke arah Sani, tapi matanya kembali beredar ke arah lain tepatnya ke arah kamar yang memperlihatkan jelas seisi kamar, di dalam kamar itu Tri yang tanpa berbusana sehelai kainpun tanpa daya tak sadarkan diri, spontan melihatnya membuat Andre langsung tercengang tak pernah bisa percaya apalagi harus langsung mencerna semua kejadian yang bagaikan kejutan hebat baginya.


Tiba-tiba bayangan tadi muncul saat Andre berniat keluar dari kamar, hatinya yakin jika orang yang berlari keluar dari rumah adalah Pak Tarman. Dan mengapa Pak Tarman harus berlari seperti itu?


Jawaban yang muncul dari benaknya jelas tentang bagaimana Pak Tarman yang sudah membuat kekacauan ini, apakah Pak Tarman benar yang membunuh Pak Rais? Dan Tri? Tentu saja Andre sudah lebih tahu apa yang dilakukan Pak Tarman terhadap Tri.


Andre berdecak kesal, dia tidak bisa membayangkan betapa biadabnya Pak Tarman. Apa alasannya Pak Tarman sampai melakukan hal besar yang membuat dirinya sendiri menjadi tersangka utama dalam umur yang tidak muda lagi.


Pertama Andre harus menghubungi polisi, dia ingat jika pernah menyimpan nomor kontak polisi. Biarkan orang yang berwenang untuk melakukan tindakan tepat pada masalah ini.

__ADS_1


Dihirupnya udara yang sengaja dia edarkan hingga oksigen itu bisa sampai ke otaknya dan membuat Andre lebih waras. Meski sampai saat itu dia masih diam tak mampu mengatakan satu kata pun, tapi lebih baik karena dia akhirnya bisa berjalan ke arah luar rumah dengan hp yang sudah ada di genggaman tangannya.


Sani rupanya langsung terpancing dengan derap suara sepatu milik Andre. Matanya jelas menangkap sosok Andre yang berjalan melewati tubuhnya, tak tinggal diam akhirnya Sani juga mulai bisa berdiri dan mengikuti ke arah luar rumah. Lebih baik jika tidak berada jauh dari Andre, apalagi saat itu ketakutan masih mempermainkan perasaannya sebagai perempuan. Sudah jelas tidak mudah bagi orang, siapapun jika untuk pertama kalinya secara langsung melihat mayat dari orang yang dikenal, apalagi kematian itu tragis. Sani tak ingin membayangkan dan tak berniat untuk memperdebatkan masalah itu, dia lebih percaya pada Andre untuk mengatasi masalah sampai malam ini berlalu.


Keduanya saling diam, Sani tak bertanya sedikitnya tentang kejadian yang membuat dia dan Andre terjebak dengan rasa trauma hebat. Begitupun Andre yang tidak sedikitpun membahas hal apapun, mungkin dia memang tidak berniat untuk membahasnya dulu.


Sani melihat Andre mulai mengangkat telpon dan berbicara di balik panggilan yang berlangsung mendebarkan baginya, dan entah dengan siapa dia berbicara. Tapi perasaan syukurnya mulai membuat dia tenang, beruntung setelah Andre mengatakan beberapa kali istilah polisi dalam percakapan hal itu berarti polisi akan cepat datang dan mengatasi masalah. Akhirnya Sani bisa menghela napas lega.


Padahal tanpa Sani tahu jika kejadian besar itu mungkin akan menahannya lebih lama di tempat yang tidak pernah dibayangkan dia akan tinggal sebagai saksi. Tentunya kenyataan snagat beda dengan rencana awal, saat dia membayangkan cepat pulang kembali bertemu orang-orang yang dia kenal, terutama ayah dan beberapa orang pembantu di rumah. Sani tidak berpikir sampai sana, dia terlalu kalut untuk mencerna akibat dari kejadian sekarang.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Andre tampak khawatir.

__ADS_1


Mendengarnya Sani langsung kikuk, sebenarnya dia tak menyangka jika Andre akan mengatakan kata-kata itu saat mereka bertatapan. Akhirnya Sani hanya menganggukkan kepala tanpa berbicara.


Andre juga tidak melanjutkan percakapan lain, membahas hal lain yang akan mereka lakukan. Dalam pandangan mata Sani dia masih menangkap perasaan Andre yang sebenarnya, dia jelas sangat cemas dan tampak bingung sampai tidak bisa mengatakan apapun. Alhasil Sani dan Andre kembali saling diam menunggu sesuatu yang mungkin sedang ditunggu Andre saat itu, apapun itu Sani hanya tahu akan mengikuti setiap gerak gerik dan maksud Andre, Sani tak ingat harus melakukan apa sekarang terlepas dari kejadian hang masih membuatnya harus mengumpulkan banyak kesadaran.


__ADS_2