
"Kemana perginya petugas tadi dan polisi?" Batin Andre tidak diam juga mengedarkan penglihatannya ke setiap tempat yang terlihat oleh kedua matanya. Butuh sedikit kesabaran dan teliti karena begitu banyak ruangan berjajar di depan mata. Tapi sebagai petunjuk dari percakapan polisi yang mengingatkan Andre bahwa mereka ingin menemui direktur rumah sakit.
Mengingat kata-kata yang diucapkan polisi tadi Andre bergegas, segera pergi mencari ruangan direktur tanpa bertanya. Kemungkinannya hanya ada dua apakah petugas tadi berjalan ke depan atau mundur ke belakang. Andre memutuskan untuk pergi ke jalan di depannya yang terllihat ada beberapa ruangan di sana.
"Pasti ketemu!" Batin Andre sangat yakin.
Tak butuh banyak usaha Andre langsung menemukan ruangan yang di dalamnya ada dua polisi tadi dan petugas itu, tidak ada yang lain. Apakah petugas itu direktur rumah sakit ini? Pikir Andre yang terus menebak-nebak tanpa tahu pasti.
Andre mengintip ke dalam dengan hati-hati dari balik pintu yang terbuka, ke tiga orang itu berdiskusi cukup serius dan tentu saja pasti membahas tentang meninggalnya Anis atau tentang latar belakang pekerjaan Anis di rumah sakit ini.
Andre kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain melihat jika tidak ada satupun orang yang memergokinya, lalu mengintip ketiga orang yang masih serius saling mengobrol.
Dengan melihat saja tidak banyak memberikan informasi untuk Andre, yang dia butuhkan sekarang apakah rumah sakit ini ada sedikit kaitannya dengan kematian Anis atau apa yang diutarakan petugas tadi tentang Anis.
"Hemm..." " Bapak ada perlu silahkan masuk Pak!" Terdengar sebuah suara terdengar datar menyapa Andre yang saat itu terlalu fokus mengintip.
Spontan semua orang yang di dalam langsung melihat ke arah pintu, di sana ada Andre dan seorang petugas. Seperti bisa langsung ditebak apa yang dilakukan Andre sehingga petugas itu menegurnya.
Andre canggung dia menundukkan kepala diantara semua orang.
"Ma-maaf pak!" Ucap Andre terbata-bata.
"Bapak yang di sana silahkan ikut kami!" Tegur seorang polisi. Kedua mata Andre membulat dia merasa suara itu tertuju padanya.
Perlahan kepalanya bergerak dan menatap ke tempat polisi dan petugas itu.
"Sepertinya ada yang ingin anda katakan, sekarang bisa ikut kami!" Polisi itu menghampiri Andre, tanpa sadar niatnya tadi berjalan lancar Andre merasa jika usahanya tidak sia-sia. Tapi saat bola matanya bergerak ke arah petugas itu Andre menangkap raut wajah cemas darinya.
"Tunggu Pak!" Sebuah suara menghentikan lagi polisi yang sudah saatnya membawa Andre pergi.
"Dia sedang ada urusan yang harus diselesaikan dengan saya tadi. Emm itu sangat penting, tadi ada keluarga pasien di tempat ini dan saya butuh informasinya." Ucap ya lagi meyakinkan kedua orang polisi itu. Jangan katakan jika orang itu sedang mencoba menahannya, untuk apa?
__ADS_1
Andre terus menerka-nerka ingatannya yang tak pasti, tentang alasan petugas itu menghentikan kedua polisi dan berniat untuk mengurus kembali keluhannya tadi, padahal kan Pak Tarman sudah menyanggupinya itu tidak jadi masalah bukan? Tapi kali ini petugas menginginkan Andre sendiri yang mengurus semua hal.
"Apa benar seperti itu?" Tanya salah satu polisi kepada Andre.
Andre terperanjat kaget mendengar pertanyaan itu, dia bingung untuk mengatakannya apakah dia harus menyetujui cerita yang diutarakan petugas rumah sakit atau cepat menyelesaikan masalahnya tentang Anis sekarang.
"Saya hanya butuh sebentar Pak, biar Bapak ini mengisi formulir yang akan saya berikan padanya!" Timpal lagi petugas itu yang bagi Andre terdengar seperti bersikeras menahannya.
"Saya memang ada urusan lain Pak, tapi itu sudah ditangani oleh paman dan Bapak petugas juga sudah tahu itu." Jawab Andre. Andre langsung mengalihkan pandangannya melihat reaksi bagaimana dari petugas itu.
Andre tak menyangka jika dia melihat reaksi yang lain dari petugas itu, seperti tidak mau jika dia segera pergi dengan polisi.
"Pak tapi untuk mempercepat prosesnya pihak rumah sakit butuh Bapak juga untuk mengisi formulir nya. Saya tidak bisa langsung percaya kepada Bapak yang tadi karena yang mempunyai kepentingan kan Bapak sendiri dengan pasien di tempat kami." Untuk keberapa kalinya petugas itu terus mencoba menghentikan tindakan polisi. Andre semakin yakin dan berpikir jika ada sesuatu lain dari yang dia bisa rasakan sekarang.
"Saya harus pergi dulu Pak polisi, saya berjanji hanya sebentar." Ucap Andre dengan yakin meski akhirnya dia harus menarik napas dan kembali mengikuti petugas itu.
"Apa pilihan ku sudah benar?" Batin Andre yang masih bertanya-tanya karena dari awal mengikuti petugas tidak ada percakapan yang terjadi.
Andre hanya mengernyitkan dahi dan menghentikan langkahnya, begitupun petugas itu yang ikut berhenti dan berbalik menatapnya. "Bisa kau lupakan kejadian pagi itu di rumah sakit? Sebagai balasannya akan saya ceritakan semua yang terjadi dan mungkin itu kan yang kamu butuhkan dan Bapak tadi?" Ucapnya memberikan sebuah penawaran yang bagi Andre cukup mengejutkan, bukan hanya menebak apa yang sudah dilakukan Andre tepat pagi itu dan dia juga menebak niat sebenarnya datang ke rumah sakit.
"Baik, saya hanya ingin teman saya bisa dipindahkan segera dari rumah sakit tidak ada yang lain." Timpal Andre menawarkan keinginannya itu.
"Sekarang ikut saya." Ajak petugas itu ke arah lain sepertinya Andre yakin kali ini dia pergi ke tempat lain, bukan ruangan tadi yang di sana mungkin Pak Tarman masih ada.
"Silahkan masuk!" Ucapnya.
Andre berbalik dan melihat angka kamar Sani. Kedua matanya langsung terbelalak melihat pintu kamar Sani. Dia menatap heran ke petugas tapi sepertinya Andre harus cepat pergi ke dalam seperti yang diinginkan petugas itu.
"Saya harap kamu tidak menceritakannya atau bertemu dengan petugas lain di rumah sakit ini, kecuali dokter yang menangani Sani." Jelasnya.
"Dokter itu." Batin Andre sepertinya mengerti, seorang dokter yang dimaksud adalah dokter yang pernah mengatakan jika Sani tidak gila.
__ADS_1
Andre masuk ke dalam ruangan itu dan tanpa disangka dia melihat Sani yang sedang tertidur dan membuka matanya.
Saat berbalik dan menoleh ke arah Andre membuat sekilas melihatnya Andre sadar jika Sani sudah sembuh tidak seperti Sani yang sebelumnya dia lihat.
"Akhirnya kau membawa orang itu kemari." Ucap Sani dengan ketegasan dan suara yang menjelaskan jika Sani saat itu sepenuhnya sadar.
"Sekarang aku ingin pergi dari rumah sakit, apa bisa dilakukan sekarang?" Tanya Sani semakin membuat Andre bertanya-tanya.
"Sepertinya tidak sekarang, dia sedikit ada urusan lain dengan polisi." Jawab petugas itu.
"Apa yang kau katakan? Padahal aku sudah ingin pulang." Protes Sani.
"Kau bikin ulah ya? Seharusnya kau tak bikin lagi masalah dengan ku." Ucap Sani tepat bermaksud mengucapkan kata-kata itu pada Andre.
Andre melotot dan butuh sedikit waktu untuk mencerna kata-kata Sani.
"Sekarang katakan, apa kau bisa bawa aku pulang? Lupakan masalahnya dan segera pulang!" Sani terdengar tidak sabar seperti yang dikatakannya.
Andre tidak mungkin meninggalkan misinya yang masih harus dilakukan di tempat ini, tentang Anis dia yakin harus cepat menuntaskannya.
"Aku ada urusan, jika kau sudah sadar cepat hubungi keluargamu saja dan itu lebih mudah kan!" Saran Andre dengan nada datar.
"Sial!" Sani terdengar marah. "Kau harus bertanggung jawab! Mana mau keluargaku menerima jika aku ini keluar dari rumah sakit jiwa. Semua masalah kan terjadi karena mu!" Bentak Sani yang terdengar marah.
"Aku masih ada urusan, yasudah tunggu saja!" Ucap Andre langsung pergi dari hadapan Sani. Dia tidak memperdulikan pemintaan Sani saat itu, karena Andre tidak mungkin membiarkan masalah lain yang jelas-jelas dia bisa menuntaskannya. Bagaimana Anis bisa tenang di sana jika masalahnya masih belum diungkap.
"Tunggu!" Petugas itu kembali menghentikan langkah Andre.
"Sebaiknya kau urus Bapak yang tadi, dan saya harap dia tidak banyak berulah dan membuat petugas yang lain curiga." Ucapnya memberi peringatan.
Andre mengerti meskipun masih banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan, tapi dia tidak ingin membuang waktu lagi.
__ADS_1