
Sani terus menyetir memacu mobilnya dalam kecepatan yang dia sendiri mungkin baru pertama kali ini dengan kecepatan yang tak biasa. Hatinya masih merasa panik seperti tadi, tangannya gemetar namun dia tahu bukan saatnya untuk memikirkan hal tak penting seperti itu.
Tepat di perempatan jalan mobilnya dihentikan oleh lampu merah di badan kiri. Sani masih tidak tenang sebelum dia bisa duduk santai tanpa keramaian dan kemacetan di jalanan seperti ini.
Sekilas matanya menangkap mobil dan dari jendela yang terbuka itu dia yakin jika orang yang tengah ada dalam penglihatan matanya adalah orang-orang yang datang ke rumah.
Sani dengan cepat memalingkan wajah, seharusnya dia tidak penasaran dan tak harus ikut campur dengan urusan ayah. Namun sekali lagi dia menoleh masih menyaksikan orang itu. Kali ini Sani ingin tahu apa yang dilakukan ayahnya dengan orang-orang seperti mereka? Apakah orang-orang itu adalah pesuruh ayah?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dan tidak mudah bagi Sani untuk bisa tenang lagi. Sekarang dia sangat penasaran dan bimbang, apakah mungkin sekarang saatnya dia untuk melunasi rasa penasaran yang datang tiba-tiba seperti ini? Beberapa detik melamun lalu terdengar suara klakson mobil beberapa kali yang berhasil membuyarkan lamunannya.
Ternyata lampu lalu lintas sudah berganti, buru-buru Sani kembali menginjak gas dan memutar kemudinya. Pertama matanya fokus mencari badan mobil tadi, dia sangat penasaran dan tidak akan pernah menyesal jika mencari tahu sebenarnya apa hubungan orang-orang tadi dengan Ayahnya.
Butuh kefokusannya dan juga kelihaian dia menjadi mata-mata seperti yang dilakukannya sekarang. Akhirnya senyum tersungging disudut bibir, mata Sani tampak binarnya yang terang, dia cukup senang setelah melihat mobil yang dicarinya sudah ditemukan. Sekarang Sani akan mengatur strategi agar bisa mengikuti mobil itu tanpa mencurigakan.
Pertama yang Sani perhatikan adalah jarak, jarak mobilnya dengan mobil yang dia ikuti.
Lamanya menyetir mobil namun Sani tidak melihat tanda-tanda jika mobil orang-orang itu akan cepat berhenti di tempat tujuan, lalu sebenarnya akan pergi kemana mereka ini?
Sani sedikit menyerah, dia tidak tahu sekarang dirinya ada dimana. Sekarang dia dihadapkan akan pilihan sulit, apakah dia harus melanjutkan lagi dan mengikuti mereka sampai menemukan apa yang ingin diketahuinya? Atau memilih menepi lalu memutar kemudinya, karena jika dia pergi ke tempat yang dia sendiri tidak tahu, Sani tidak yakin dia bisa menemukan jalan aman yang mudah untuk pulang.
Sialnya, tak begitu banyak yang membuat keberanian itu bertahan.
Mobil Sani menepi di pinggiran jalan, menakutkannya jalanan itu sepi. Dia mulai panik, mengapa sampai bisa pergi ke tempat yang sepi seperti ini, padahal tempat umum seperti ini tidak seharusnya bisa sesepi sekarang tanpa satu orang pun.
__ADS_1
Dengan cemas Sani memutar kemudinya lagi, dia memilih mengikuti jalanan raya itu untuk kembali pulang, berharap agar masalahnya ini cepat selesai.
Namun aneh tapi nyata, Sani merasa ada sesuatu yang aneh di sepanjang dia menyetir mobil. Perasaannya mengatakan jika dia sudah begitu lama menyetir dari tadi namun entah mengapa hanya jalanan yang sama saja yang dia temui di sepanjang perjalanan. Sebenarnya apa yang salah?
Sani kembali menghentikan mobilnya. Cepat merogoh hp yang harusnya ada di dalam tas. Dan beruntung Hp ditemukan dengan cepat.
"Halo. Pak, Pak Arman?" Sebut Sani cemas beberapa kali. Awalnya panggilan Sani masih tak diangkat, namun itu tidak membuatnya menyerah untuk mencoba lagi.
"Halo, Pak Arman!" Ucapnya lagi setelah beberapa kali. Tapi entah mengapa ketika panggilan terhubung suara telpon ditutup kembali.
Apa yang salah? Harusnya dia bisa menelpon karena jaringan internet dan signal yang cukup untuk bisa menelpon.
"Pak Arman!" Teriak Sani, suaranya berpacu dengan degup jantungnya yang cemas.
"Neng?" Pak Arman memanggil di balik telpon.
"Pak, saya tersesat di jalanan. Tapi saya tidak tahu sekarang ada dimana." Keluh Sani terdengar sekali cara bicaranya yang ketakutan.
"Coba sebutkan ada apa di sekitar Neng Sani sekarang?" Pinta Pak Arman.
Sani melihat ke sekelilingnya, dia juga mengintip ke kaca spion mobil di samping kiri dan kanan. "Jalanan kosong, jalan raya dan hanya pohon-pohon." Suara Sani semakin parau.
"Neng sebelumnya pergi ke arah mana?" Tanya Pak Arman yang mulai terdengar panik.
__ADS_1
"Saya tidak tahu Pak, saya tidak melihat petunjuk jalannya. Saya tidak tahu ada di mana sekarang. Tadi saya sudah mencoba pulang tapi sepertinya saya malah kembali ke tempat semula." Dengan paniknya Sani bicara, menjelaskan sedetail mungkin apapun tanpa terlewatkan.
"Neng, coba share Lok ke Chat wa saja ya." Pak Arman menawarkan sebuah solusi.
Sani terperanjat, dia baru ingat jika ada solusi seperti itu yang tidak terpikirkan nya dari tadi.
Tanpa pamit dia pun segera mengakhiri telpon dan masuk ke aplikasi chat wa, mencari nama Pak Arman lalu tinggal membagikan lokasinya saat ini.
Usahanya itu tidak berhasil, entah mengapa signal disini mungkin tidak cukup mendukung. Sani tak menyerah dia melakukannya beberapa kali lagi sama seperti ketika menelpon Pak Arman sebelumnya, dia akan terus berusaha sampai akhirnya berhasil.
Tanda centang biru tampak dari chat yang dia bagikan dengan Pak Arman, Sani sudah merasa lega sekali.
Bukannya mendapatkan balasan namun Sani mendengar suara tanda panggilan masuknya berdering. Nama yang tertulis di telpon adalah "Ayah"
Sani tidak langsung menerima panggilan itu, jari-jari tangannya sangat kaku sekali, dia tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahnya dari telpon ketika dia mengangkat panggilan itu.
Lamanya berpikir membuat panggilan pertama gagal, namun tak lama setelahnya muncul lagi panggilan yang sama. "Ayah." Sani semakin panik tapi apa boleh buat dia juga sangat ketakutan dan tidak memiliki cara untuk pulang, bukan saat yang tepat jika mengabaikan panggilan Ayah.
"Halo, Ayah." Ucap Sani ketika panggilan itu terhubung.
Lama sekali tak terdengar suara ayahnya menjawab. Namun setelah itu samar terdengar, awalnya terdengar pelan hingga suara nyaring terngiang dan langsung dapat diingat Sani.
Tangan Sani masih memegang hp ke telinganya, sedangkan di seberang telpon suara ayahnya yang tampak sedang membacakan banyak mantera di telpon. Anehnya mantera-mantera dari bahasa Jawa kuno itu bisa membuat Sani diam bahkan terhipnotis. Sani seperti menjadi orang lain yang tak berdaya, dia diam mendengarkan sampai di detik waktu terakhir telpon itu mati.
__ADS_1
Tampak tenang sekali kedua tangannya sudah bersiap untuk menjalankan kemudi, namun ada suatu tangan lain yang sangat putih menimpa tangannya Sani hingga dia benar-benar kehilangan kesadarannya.