Dunia Mu

Dunia Mu
Jin penjaga / Jin pemangsa di dalam kalung


__ADS_3

"Pak gimana ini?" Andre berteriak panik. Dia benar-benar tidak bisa menegakkan tubuh Sani yang masih kaku.


"Assalamualaikum." Sebelum sempat Pak Tarman menjawab suara salam membuat perhatian Andre dan Pak Tarman langsung tertuju pada kedatangan seseorang.


"Beruntung sekali Pak Ustadz cepat!" Seru Pak Tarman.


"Tadi tiba-tiba Pak ustadz lewat di depan gang, beruntung sekali." Balas Pak Rais yang sudah ditugasi untuk mengundang ustadz.


Andre langsung diam tidak bisa bergerak dan mengatakan apapun. Terdengar Pak Ustadz yang mulai melafalkan do'a.


"Jangan memakai sesuatu lagi ya, Jang!" Ucap ustadz seraya langsung merampas kalung di leher Andre yang sengaja dari awal sudah disimpan nya baik hingga tertutup oleh baju.


Andre melotot tajam melihat Pak ustadz yang sudah mengambil kalung pemberian dari Anis, padahal setelah bersusah payah dan atas semua wangsit yang dia terima dari mimpinya jika kalung itu tidak boleh dilepas.


"Kembalikan, Pak!" Pinta Andre bersikeras.


"Di dalamnya ada jin, ini tidak membantu sama sekali dan kamu tahu akibatnya? Gadis ini bisa mati karena jin di dalam sini!" Terang Pak ustadz yang langsung membuat Andre mematung. Padahal dia percaya jika kalung itu sebagai penangkal jahat dari makhluk tak kasat mata.


Benar saja dugaannya, kedua mata Andre langsung terbelalak tak percaya. Pertama sosok yang dilihatnya adalah Nenek sepuh yang pernah dia temui di bus saat siang, selanjutnya beberapa penampakan penunggu rumah seorang Nenek-nenek sepuh memakai kebaya, terakhir yang dilihat Andre adalah rambut yang sangat panjang tergerai di atas lantai, panjangnya membuat Andre tak percaya karena terurai dari luar pintu hingga sampai ke arahnya.


Sosok si rambut panjang, pikir Andre seolah saat itu dia langsung menemui traumanya lagi, masalalu menyergapnya membuat mental dia terpukul lagi. Jantungnya berdebar hingga Andre tak tahu apa yang bisa dipikirkan nya agar dia merasa tenang dan tidak takut.


"Jin wanita ini sangat kuat sewaktu datang." Komentar Pak ustadz masih berusaha untuk meluruskan kepala Sani. Pasti cukup tersiksa jika dalam waktu lama Sani tetap akan seperti itu.


Sekilas perhatian Andre teralihkan karena rasa cemasnya pada Sani. Tapi sesuatu sekarang terasa menekan punggungnya hingga terasa sakit.


Aaaaaaaa....


Teriak Andre mengeluarkan teriakannya karena sakit. Punggungnya terasa ditusuk dalam-dalam dan sangat kuat. Entah apa yang sedang terjadi hingga kesadaran itu mulai hilang seolah ada sesuatu yang menariknya hingga Andre sulit untuk membuka mata.


"Bagaimana ini Pak?" Tanya Pak Tarman mulai cemas saat melihat Andre yang juga tergeletak pingsan di samping Sani.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sebentar lagi atas seizin-Nya kita harus bersyukur karena usaha ini tidak sia-sia." Terang Pak ustadz. Mendengarnya Pak Tarman hanya bisa mengangguk-angguk kepala.


"Saya pulang sekarang!" Pamit Pak Ustadz terburu-buru.


"Loh Pak, kok terburu-buru?" Pak Tarman merasa aneh dengan sikap Pak Ustadz.


"Ada kerjaan Pak! Pokoknya semuanya yang tenang saja ya, karena semua aman setelah ini." Pak Ustadz meyakinkan dan mengucapkan salam sebelum keluar dari arah pintu.


Yang masih pingsan di atas kasur adalah Andre, Pak Tarman tak kuasa menatap kedua orang yang ada di kamar itu. Rasa ngeri dengan kejadian sebelumnya masih terus dia bayangkan sempurna. Baru kali pertama Pak Tarman melihat orang yang kesurupan.


"Gimana ini?" Bisik Pak Rais yang tak kalah khawatir.


"Tri udah ke kamar Nenek sepuh lagi?" Dari pada menjawab Pak Tarman lebih perhatian pada Tri.


"Udah dari tadi juga, dia ketakutan!" Terang Pak Rais singkat.


"Sekarang gimana dengan mereka? Aku gak mau kejadian sebelumnya terulang lagi Tarman!" Komentar Pak Rais. Rasanya tidak ada guna jika menanyai Pak Tarman yang tak kalah takut. Ternyata Andre dan temannya mengalami kejadian di luar nalar dan itu terjadi di rumahnya ini.


"Sebaiknya iya." Jawab Pak Rais masih memperlihatkan garis ketakutannya.


"Kita sekarang bingung sekali harus apa, kayaknya kamu akan berpikiran sama. Sebaiknya Nak Andre Kuta sarankan untuk segera pulang." Pak Rais memberikan sebuah solusi. Dia tidak ingin jika kejadian seperti tadi terulang di tempatnya sekarang. Di dalam sebuah rumah yang tentram.


"Pak! Maaf saya ada dimana ini?" Sani keluar dari arah kamar sambil memegangi sebelah kepalanya mengekspresikan rasa sakit yang mungkin hanya dia yang bisa merasakannya.


Pak Tarman langsung terlonjak kaget. "Non ini sudah sadar." Ucap Pak Tarman masih terlihat kebingungan.


"Andre juga di sana, dia kok bisa pingsan ya?"


Sani masih mempertanyakan tentang Andre. Mendengarnya Pak Tarman hanya bisa saling membalaskan pandangan dengan Pak Rais.


"Silahkan duduk, Non!" Pak Rais Sigap berbicara dan segera mempersilahkan Sani agar duduk di kursi.

__ADS_1


"Tri!"


"Tri!" Panggil Pak Rais.


Tak lama Tri keluar dari arah kamar Nenek sepuh. Dia terlihat masih ketakutan seperti tadi tapi bukan hanya Tri kedua orang yang sudah sepuh dibandingkan Sani juga merasa ketir dan takut.


Sani menurut dan langsung duduk. Segera kepalanya disandarkan pada sandaran kursi. Pak Tarman mengamati dan melihat Sani yang kesakitan. Saat akan memanggil Tri, beruntung sekali karena Tri terlihat muncul dari dapur membawa sebuah nampan yang di atasnya ada segelas air.


"Silahkan diminum!" Ucap Tri santun. Sani tanpa ragu langsung menyambar gelas yang berisi air dan sudah diperuntukan untuknya.


"Tri lihat Andre di dalam!" Perintah Pak Rais tanpa berpikir.


"Udah kamu duduk di sini temani mbaknya ini. Biar Bapak yang periksa." Pak Tarman langsung mengambil tindakan, dia tahu jika Tri masih takut dan tidak baik juga membiarkan orang yang ketakutan untuk pergi masuk ke dalam kamar.


"Saya kok bisa ada di rumah ini ya?" Sani terlihat memaksakan untuk bicara. Mendengarnya Tri nampak bingung dia memang tidak terbiasa bicara banyak.


"Jadi Non ini sudah diantar tadi dari pihak rumah sakit ke sini, jangan terlalu dipikirkan yang penting Non ini sehat dan kita tinggal menunggu Andre sadar." Jelas Pak Rais langsung bicara.


Sani hanya menganggukkan kepala tanpa melanjutkan bicara lagi, dia masih nampak kesakitan mungkin sedang menahan rasa berat di kepalanya.


"Saya ambilkan obat ya!" Tri beranjak pergi dan kembali ke kamarnya.


Dengan ragu Tri masih berdiri di ambang pintu, bahkan untuk menatap sekilas ke arah Andre Tri tampak tidak berani.


"Mau ambil apa?" Tanya Pak Tarman yang kebetulan ada di dalam kamar.


"Minyak angin, Pak." Jawab Tri singkat.


Sigapnya Pak Tarman langsung mencarikan minyak angin yang dimaksudkan oleh Tri, mengambil di sebuah meja rias dan menyerahkannya.


Tri masih mematung meskipun minyak angin sudah dia terima.

__ADS_1


"Tenang, mereka akan cepat pergi kan!" Ucap Pak Tarman menenangkan Tri yang ketakutan.


__ADS_2