
"Mas sudah sampai di terminal Cempaka." Seru supir berusaha menarik kesadaran Andre yang terlihat masih melamun.
"Mas!" Panggilnya lagi dengan sedikit nada yang dinaikkan.
Andre terperanjat mendengar panggilan yang seperti bermaksud untuknya. Matanya beredar dan melihat Pak supir yang mungkin sudah dari tadi menatapnya. Andre segera menganggukkan kepala.
"Sudah sampai Mas!" Sekali lagi supir memperingatkan.
Andre langsung berdiri dan pamit keluar.
Saat berdiri matanya kembali terkesiap melihat pemandangan bus yang ditumpanginya dari tadi kosong melompong, mungkin hanya dia sendiri yang menjadi penumpang.
"Kenapa Mas?" Tanya pak supir heran saat melihat Andre celengak-celenguk melihat ke kiri dan kanan.
"Sepertinya hanya saya ya Pak penumpang nya." Cetus Andre sambil tersenyum tersipu.
Andre tak menunggu jawaban dari Pak supir dia kembali berjalan menuju pintu Bus.
"Ya memang dari tadi cuman Mas penumpang nya, kalau yang lainnya itu hanya numpang lewat aja Mas." Celoteh supir terdengar seperti ada maksud lain dari jawabannya.
Andre terdiam sebentar, tapi dia tidak ingin penasaran apalagi harus lama bercerita di dalam Bus. Dia memilih mendiamkan gurauan supir hingga Bus juga sudah kembali melaju menuju terminal Bus selanjutnya.
Andre menarik napas dan kembali berbicara pada hatinya lagi, sekarang waktunya dia untuk kembali ke rumah sakit menemui Sani.
Rasanya beban masih belum berkurang, buktinya dia masih terganggu dengan banyak peringatan yang diucapkan oleh batinnya sendiri. Tentang Anis dia hanya menunggu kabar penyelidikan yang dilakukan polisi dan kelanjutannya mungkin dia juga akan ditetapkan sebagai saksi utama, mau tidak mau kali ini Andre harus siap berjibaku dengan urusan kriminal, hukum, dan mistis. Tentu saja urusan Anis bukan sesuatu yang biasa saja, karena dominan masalahnya adalah hal ghaib yang tidak sembarang orang bisa tahu apalagi percaya. Untuk urusan Anis dia sepenuhnya akan menyerahkan pada takdir tuhan bagaimana memberinya sebuah pertolongan.
Tak butuh waktu lama berjalan untuk kembali pergi dari terminal ke rumah sakit. Kios-kios yang berjajar menjajakan dagangan sudah terlihat. Siang memang waktu yang ramai dimana banyak orang kesana kemari di sepanjang ruas jalan, dan tak terlewatkan makhluk astral atau makhluk ghaib yang tak kasat mata juga turut meramaikan.
__ADS_1
Suara deru mesin mobil, motor yang lewat dua arah terdengar paling mendominasi di jalanan raya, ditambah terik matahari menambah runyam saja pikiran Andre yang mungkin lebih sibuk dari yang terlihat.
Andre menyipitkan matanya berusaha meraih pandangan yang silau akibat cahaya matahari. Dia sudah melihat gedung rumah sakit meski terhalang oleh kios-kios. Andre mulai mengamati dari arah kanan dan kiri jalan, memastikan saat menyeberang tidak ada mobil atau motor yang lewat. Saat sudah terlihat bisa menyeberang Andre bergegas berlari hingga ke seberang jalan.
"Duh maaf Mas!" Ucap seorang perempuan berbalutkan seragam yang di lengan kanan kirinya terlihat atribut rumah sakit. Andre bisa menebak jika gadis itu mungkin salah satu perawat di sana.
"Saya yang minta maaf, tadi jalannya sedikit terburu-buru sampai tidak memperhatikan sekitar." Tukas Andre merasa dia sebenarnya yang salah.
"Mas ini sepertinya orang baru di sini ya!" Ucapnya dengan sumringah yang menandakan keramahan dari sikapnya.
Andre mengangguk pelan, dia masih melihat gadis di hadapannya.
"Mas terburu-buru mau pergi kemana?" Tanyanya yang tak disangka Andre bahwa obrolan berlangsung.
"Saya ada perlu ke rumah sakit. Maaf duluan!" Balas Andre bermaksud untuk menyudahi pembicaraannya.
"Silahkan dilanjutkan Mas!"
"Baik terimakasih." Balas Andre. Entah nantinya akan berguna atau tidak tapi Andre langsung menyimpan kartu nama itu ke dalam saku celananya.
"Ternyata masih ada orang baik dan ramah." Batin Andre saat sibuk berjalan menuju tujuannya.
"Loh kok ditutup." Andre terperangah melihat sebuah papan pengumuman yang tertempel di dinding rumah sakit. Dia tidak percaya mengapa rumah sakit ditutup? Apa artinya dia tidak bisa datang untuk berkunjung?
Dari pada menerka-nerka ingatannya yang tak pasti, Andre bertekad untuk sekalian bertanya pada petugas. Dia sudah bersiap untuk masuk memasuki gedung.
"Mas! Maaf rumah sakit sementara tutup, jam besuknya bisa dilakukan besok saja!" Seorang petugas lelaki berpakaian satpam menghampiri dan memperingatkannya. Mau tidak mau Andre mengurungkan niat untuk pergi ke dalam gedung, padahal dia sangat penasaran tapi sepertinya tidak ada kesempatan yang tersisa.
__ADS_1
Andre berbalik mundur dan menyeret kakinya menjauh dari gedung. Pertanyaan demi pertanyaan menghujani pikirannya langsung, rasanya dia bingung dan heran dengan tindakan tiba-tiba dari pihak rumah sakit, tapi tak ada gunanya karena dia sendiri tidak bisa bertanya untuk memastikan sesuatu kepada siapapun petugas di sana. Sangat disayangkan.
Saat sedang berdiri di samping jalan pikirannya diingatkan lagi tentang Pak Tarman, benar saja harusnya dia lebih mengkhawatirkan keberadaan Pak Tarman. Seharusnya Pak Tarman pulang. Andre segera bergegas lagi menuju jalanan yang mengarah ke rumah Tri, tidak begitu jauh sehingga Andre sedikit merasa lega karena tidak harus capek berjalan lagi.
******
"Loh Tarman! Kau sudah pulang lagi?" Seorang lelaki yang berusia sekitar 5 tahun lebih muda dari Pak Tarman datang menghampiri.
"Pokoknya beres!" Seru Pak Tarman nampak tenang, dia tak menghiraukan Pak Rais temannya itu, Pak Tarman pergi menuju dapur.
Tok...tok...tok
Suara pintu terdengar diketuk. Pak Rais langsung melihat ke arah pintu.
"Sebentar!" Seru Neng Tri menyusul dan mendahului Pak Rais membuka pintunya.
"Eh Mas Andre sudah pulang juga. Em, gak bareng Pak Tarman?" Tanya Tri sambil mengamati ke arahnya.
Andre terlihat bingung untuk menjawab karena dari tadi dia memang tidak bersama Pak Tarman, lantas dari pertanyaan Tri apalah Pak Tarman belum pulang juga?
"Eh Nak Andre!" Suara lantang dari Pak Tarman terdengar menghentikan diskusi antara Tri dam Andre. Tri langsung menoleh dan melihat Pak Tarman berjalan dari arah dapur, dia segera kembali menuju kamarnya.
"Saya pulang duluan maaf! Soalnya kata petugas tadi rumah sakit mau ditutup dulu sementara karena keamanan jadi saya pulang dari pada bosan nunggu di sama terus." Terang Pak Tarman yang terdengar merasa tak enak sudah pulang lebih dulu. Padahal Andre sendiri yang merasa tak nyaman karena sudah meninggalkan Pak Tarman tanpa memberikan kabar.
"Saya yang harusnya minta maaf pak! Tadi saya ada urusan dan langsung pergi saja." Balas Andre setelah Pak Tarman selesai bicara.
"Sudahlah pokoknya sekarang aku sudah gak sabar mau mendengar cerita asli dari kalian." Timpal Pak Rais menghentikan obrolan antara Pak Tarman dan Andre.
__ADS_1
"Bener juga, cepat Nak Andre duduk dulu mumpung kita lagi kumpul kan." Pak Tarman sangat setuju usul yang diucapkan Rais. Padahal Andre tidak ingin dulu membahas masalah Sani karena pikirannya terlalu rumit dan masih merasa capek setelah perjalanan tadi.