
Andre diam menutup mata sebentar, kali ini pandangannya hanya fokus pada bagian kaki yang akan dia gunakan untuk berjalan. Tak peduli ada apa, semacam penampakan apapun dia tidak ingin memperdulikannya.
Pintu kamar mandi berhasil dibuka, meski sampai detik itu masih aman hatinya tetap memburu merasa takut seperti tadi.
"Mas udah dari kamar mandinya?" Tanya Tri begitu Andre keluar dari kamar mandi.
"Sudah De Tri, silahkan!" Ucap Andre mempersilahkan seraya melihat ke arah Tri. Dan saat mata Andre bertemu melihat Tri yang berdiri di hadapannya dengan wajah ramah, dibalik punggung Tri terlihat rambut putih keriting menyembul dengan pakaian kebaya dan kaki yang tak menyentuh tanah. Seketika hatinya terhenyak kaget, matanya sampai terbelalak menyadari sosok nenek-nenek mengikuti Tri.
"Mas, kenapa? Ada yang salah Mas?" Tri panik menyambut Andre yang melihatnya dengan rasa takut seperti itu.
"Tidak, De Tri. Mohon maaf." Andre langsung menundukkan wajahnya, sekilas perasaannya sangat tidak nyaman karena pasti Tri kaget ulah dari sikapnya itu.
"Yang benar Mas? Kok ngelihat saya sampai seperti itu?" Masih terdengar cemas, Tri meyakinkan lagi dugaannya.
"Mohon maaf, saya tidak bermaksud!" Sekali lagi Andre meminta maaf, tentu saja matanya tidak berani lagi melihat ke arah Tri.
"Ada apa?" Suara Pak Tarman terdengar ikut dalam obrolan Tri.
Tri langsung diam dan menundukkan wajah.
"Tidak pak, maaf tadi saya melamun dan kaget karena De Tri tiba-tiba bertanya saat keluar dari kamar mandi. Saya permisi keluar!" Kilah Andre berusaha tidak memperpanjang masalah.
Pak Tarman melepaskannya, tidak menanyainya lagi dan sangat bersyukur jika tidak ada kecurigaan diantara mereka pada Andre.
Andre menghela napas, mengatur ritme jantung yang masih berdegup kencang sejak tadi. Ternyata sampai saat ini Andre masih tidak biasa dengan penampakan mereka yang terlihat saat siang tiba, anehnya saat malam datang keganjilan yang dilihatnya sirna. Andre menduga mungkin karena kalung yang diberikan oleh Anis.
__ADS_1
Andre keluar dari rumah melewati pintu depan Pak Rais nampak sudah tidak ada entah kemana. Dia tidak memperdulikannya dan langsung membuka pintu turun dari rumah duduk di sebuah kursi yang tersedia di teras.
Kali ini dia bisa jelas melihat pemandangan di sekeliling rumah Tri, meski ditambahkan dengan makhluk tak kasat mata yang datang dan pergi menampakan diri. Dia harus terbiasa, tekadnya karena mau tidak mau dia harus hidup normal jangan memperlihatkan sisi lain pada orang lain, selain akan menimbulkan kesalahpahaman seperti tadi mungkin orang lain akan berpikir aneh tentangnya. Andai saja dia bisa segera pulang dan menemui Nenek sekarang, dia akan minta lagi dibuatkan kalung seperti dulu kegunaannya bisa menutup mata batin yang meresahkan bagi Andre.
Andre berpikir kembali tentang Nenek tua tadi, meski tak melihat dari wajahnya tapi dia bisa menebak Nenek tua itu yang memang selalu ada di rumah Tri, kadang dia di dalam rumah seperti yang Andre lihat saat pertama kali datang, kadang juga berada di luar. Sekarang saja di luar tak terlihat, berarti Nenek tua tadi yang mengikuti Tri. Muncul perasaan herannya mengapa Nenek tua mengikuti Tri? Apa kaitannya? Bukan hanya hubungannya dengan Tri sepertinya Nenek tua itu ada masalahnya dengan rumah yang ditinggali Tri, atau mungkin semacam penunggu atau saja Nenek tua itu adalah keluarga Tri. Andre hanya bisa menerka-nerka pikirannya karena tidak mungkin dia bertanya langsung pada Tri. Bisa kacau masalahnya.
Tak sengaja mata Andre mengamati ke arah kontrakan yang di ceritakan Pak Tarman untuk sementara tempat menginap Sani. Apa mungkin Sani memang akan pulang sekarang? Rasanya aneh dan dia sedikit ragu. Tapi jika itu berarti benar bukankah kabar baik, karena Andre bisa secepatnya menyudahi masalah di tempat ini dan segera pulang. Jika masalahnya tentang Anis dia akan menyerahkan sepenuhnya ke tangan polisi, berharap polisi bisa melakukan penyelidikan dan jika pada waktunya mungkin polisi akan menghubungi dia sebagai saksi. Rasanya masih sesak, masalah Anis masih banyak yang tidak beres.
"Perawat tadi." Batin Andre, dia teringat dengan seorang perawat yang sempat ditemuinya di perjalanan dari arah rumah sakit. "Perawat rumah sakit juga kan? Pasti bisa membantu. Apa sebaiknya aku coba tanya." Pikir Andre dalam hatinya menimbang apa yang bisa dia lakukan untuk mencari informasi, karena tidak mungkin kembali ke rumah sakit yang sudah jelas tadi di pasang papan pemberitahuan bahwa rumah sakit ditutup sementara.
Andre melihat lagi ke arah rumah memastikan jika Pak Tarman tidak sedang memperhatikannya, dengan langkah yang hati-hati dia berjalan menjauhi rumah berniat untuk menelpon perawat tadi.
Andre memberanikan diri karena ini yang bisa dilakukannya, hanya itu tidak ada cara lain.
Tut...Tut...Tut
"Maaf dengan siapa?" Sebuah suara terdengar dari seberang telepon saat panggilan langsung terhubung.
"Saya Andre. Tadi bertemu dengan mbak nya pas di jalan rumah sakit." Ucap Andre gugup, dia tidak terbiasa lancar untuk berbicara dengan orang baru.
"Mas nya dapat nomor saya dari siapa?" Tanyanya. Andre menduga jika perawat itu bingung tidak tahu.
"Saya tadi dikasih kartu nama Mbak, dan maaf saya lancang langsung menghubungi." Terang Andre masih gugup bahkan dia terbata-bata untuk berbicara.
"Oh saya ingat Mas, maaf tadi saya tidak terpikirkan. Bagaimana Mas ada yang bisa saya bantu sekarang? Maaf sekali lagi ya!" Nada bicaranya terdengar berubah, terdengar seperti awal ketika dia bertemu tadi. Mbak perawat yang ramah dan baik.
__ADS_1
"Maaf mbak, ngomong-ngomong apa saya tidak akan merepotkan?" Tanya Andre, dia tidak ingin jika langsung meminta tolong dalam keadaan yang belum siap atau tidak bisa.
"Jangan sungkan Mas, silahkan ditanyakan saja kalau ada yang ingin saya lakukan silahkan bicarakan langsung. Atau lebih baik kita ketemu? Gak apa-apa saya bisa Mas." Jawabnya terdengar antusias. Andre merasa lega jika perawat itu ternyata menyambut baik ucapannya. Nah kali ini dia bisa langsung membicarakan inti masalah yang ingin ditanyakan langsung, tidak harus bertemu seperti yang diucapkan perawat itu.
"Maaf ya Mbak kalau akan saya katakan ditelpon sekarang saja." Izin Andre lebih hati-hati.
"Mas kalau mau ketemu juga gak apa-apa, yu sebaiknya kita ketemu dan ngobrol santai. Tenang saja saya ini tidak sedang sibuk kok." Tawar nya lagi masih terdengar antusias. Andre benar-benar bingung dia tidak enak sebenarnya, tapi apa perlu menemui perawat itu sekarang? Rasanya tidak mungkin, untuk hal sesepele itu meminta bertemu langsung terkesan sangat merepotkan.
Saat akan menjawab matanya sekilas menangkap roh Anis yang sedang berdiri di gang. Andre langsung terdiam meski namanya dipanggil beberapa kali. Dia tak menyangka jika Anis masih mengikutinya, apa artinya ada sesuatu hal yang ingin dia tunjukkan lagi? Apa Andre harus mengikutinya? Seperti itu?
"Hallo, Mas!"
"Mas Andre!"
Namanya sudah beberapa kali dipanggil.
"Oh ia Mbak, maaf mbak tadi saya tidak fokus. Lebih baik saya katakan ditelpon ya Mbak, lain kali bertemu terimakasih sudah mau mendengarkannya."
"Yasudah jika seperti itu Mas, memangnya ada apa Mas?"
"Saya hanya mau bertanya, barangkali Mbak ini bisa tahu tentang informasi di rumah sakit. Tadi saya lihat rumah sakitnya kok tutup ya?" Tanya Andre.
"Tutup ya Mas? Anu Mas. Em. Saya tidak tahu kalau itu, soalnya saya udah pulang juga tadi heran sih kenapa bisa pulang siang." Terangnya yang langsung membuat Andre diam, dia menyimpulkan jika perawat itu memang tidak tahu apa-apa.
"Saya sebenarnya mau bertanya Mbak, apa ada pasien yang akan keluar siang ini? Sepertinya tadi saya dapat kabar kalau saudara saya keluar sore sekarang, saya jadi bingung Mbak benar atau tidaknya." Andre masih berusaha bertanya, dia berharap besar jika akan mendapatkan jawaban yang diinginkan.
__ADS_1
"Kok bisa ya mas, padahal saya di bagian informasi tapi terakhir saya membuat laporan tidak ada pasien yang akan keluar sore ini." Tapi kenyataan berbalik, Andre langsung melamun mendengarkan jawaban itu. Sekarang sebenarnya maksud apa di balik cerita Pak Tarman.